13. Distraksi Kembali

1.4K 174 115
                                        

gengs aku tuh bingung. awalnya aku udah ngecek kalo gak ada manusia di seantero Indonesia yang namanya Araliana (at least according to google) dan di instagram juga gaada yang pake nama itu tapi tiba-tiba muncul akun @araliana aku kaget kaget takjub itu siapa tetiba nongol :"


🌸🌸


Brian akhirnya memutuskan untuk segera kembali ke Jakarta. Pertama, sejak awal ia memang tidak berniat untuk pulang ke Surabaya lama-lama. Kedua, para sepupu dan kerabat mulai menanya-nanyai Brian kapan ia akan membawa anak gadis orang untuk bertemu keluarga besar—bukan, Liana sang tetangga tidak termasuk karena ia sudah tidak gadis dan sudah jadi istri orang. Ketiga, ia tidak diizinkan Raka untuk keluar bersama Indi selama di Surabaya.

Haha. Tidak. Yang terakhir bercanda. Brian tahu diri bahwa meskipun sudah masuk semester enam, Indi masih menjadi adik kecil anak-anak Enam Hari. Tidak mungkin Brian menjaring Indi karena ia juga menganggap Indi sebagai adiknya sendiri. Hanya saja, Raka memang seprotektif itu pada Indi.

Masalahnya, sekarang Brian tidak tahu harus apa. Bisa dipastikan Jaron tidak akan mau diganggu karena ingin menghabiskan waktu dengan Liana sebelum kembali bekerja, begitupun dengan Liana. Tio masih betah di Medan dan Dion masih betah bermanja-manja pada Bunda dan kakaknya. Brian juga sedang tidak bercita-cita untuk menghubungi salah satu dari sekian kontak perempuan yang meramaikan ponselnya.

Seperti kemarin, Brian hanya mengemudikan mobilnya tanpa tujuan yang jelas, sebelum kemudian berhenti di salah satu kedai kopi yang jelas bukan miliknya. Ia sendiri masih rehat dari kesibukan menjadi barista sekaligus manajer di kafenya sendiri dan dalam pelariannya, ia justru singgah di tempat lain yang juga menyajikan kopi. Ironi.

Brian bukan tipe orang yang butuh keramaian untuk bertahan hidup seperti Jaron, Liana, dan Dion maupun orang yang butuh ketenangan untuk berpikir jernih seperti Raka dan Tio. Ia berada di tengah-tengahnya. Ia tidak membenci keramaian, tetapi juga tidak mengejar sepi. Tapi sebagai orang yang ambisius, Brian bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu. Mungkin ia terlihat sedang menganggur, duduk sendirian di salah satu sudut hanya berkawankan ponsel dan segelas iced Americano, tapi otaknya tidak benar-benar berhenti berputar. Suasana kedai kopi yang lengang ia manfaatkan untuk duduk diam, memperhatikan awan-awan kelabu yang berarak di langit mendung. Brian mengingat-ngingat pekerjaan yang sudah dirampungkannya dan rencana untuk seminggu ke depan. Samar-samar, ia juga mengingat percakapannya dengan adik dan keenam sepupunya di rumah Eyang.

Brian tidak tahu, apakah keputusannya untuk mengungkapkan kerapuhannya pada saudara-saudarinya merupakan keputusan yang tepat.

Setengah melamun, Brian terus menggeserkan jempolnya di layar ponsel hingga layarnya memunculkan story dari salah satu akun yang tak asing. Muncul nama yang biasa Brian tuju ketika muncul update di pojok kiri atas Instagram-nya.


kiatalitha just posted a story

kiatalitha just posted a story

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aral [Hiatus]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang