01. Tinggal Liana

5.1K 623 45
                                        

(momen langka ketika Brian, Jaron, dan Tio bisa satu visi-misi menata hidup)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(momen langka ketika Brian, Jaron, dan Tio bisa satu visi-misi menata hidup)

  🌸🌸🌸  

Nama, Araliana Ayu Agatha Putri. Usia, 22 tahun. Lahir di Lombok, besar di Surabaya, kuliah di Ibukota, sekarang tinggal di Jakarta Selatan.

Perpindahan dilakukan demi Jaron Septian Lazuardi Prakasa yang sekarang sedang duduk di sebelah Liana dan dengan enaknya menandaskan setoples kripik singkong yang tadi Liana beli.

Tak tahu diri.

"Jangan manyun mulu, dong, Na. Masa bete terus?"

Orang biasa memanggilnya 'Li' atau 'Lian', tapi Jaron tidak mau memanggilnya begitu. Kata Jaron, seperti memanggil Pak Li, ustadz yang biasa jadi imam di masjid dekat rumah eyangnya di Mulyosari dulu.

Terserah apa kata Jaron.

"Seenaknya ngembat cemilan orang. Itu packing udah kelar belum, Jaron?" tanya Liana sambil berkacak pinggang.

"Astaga, cantikku ini semangat banget ngusir aku pergi."

Yang dipanggil cantik hanya mendengus, masih berkacak pinggang, menunggu si pemuda bernama Jaron bangkit dan mengecek barang-barang bawaannya. Liana tak habis pikir, kenapa Jaron justru membuatnya bergidik geli. Menurut Jaron, Liana justru terlihat lucu ketika sedang gusar seperti itu.

Saking gemasnya, Jaron bangkit untuk mencubit kedua pipi Liana dan mencium ujung hidungnya singkat. Liana tergelak dan buru-buru menepis Jaron ketika pemuda jangkung itu berusaha menciumnya lagi.

"I'm done packing, Na. Tinggal nunggu disusul Tio aja, soalnya dia kemaren pinjem mobilku jadi sekalian aku minta jemput. See? Semua udah aku siapin."

Jaron menunjuk tumpukan tas dan koper yang sudah ia persiapkan untuk berangkat. Liana melirik tas-tas Jaron sekilas, mengecek daftar barang bawaan Jaron yang kira-kira bisa saja tertinggal.

"You're not bringing coffee, are you, J?"

"Nggak, Na. Aku gak akan banyak-banyak minum kopi, janji."

Liana menengadah, melihat wajah laki-laki yang sudah tiga belas bulan tinggal bersamanya. Perbedaan tinggi badan membuat Liana harus berjingkat untuk melingkarkan kedua tanggannya di leher Jaron, membenamkan wajahnya di dada Jaron. Jaron dengan sigap memeluk Liana erat, agar ia tidak lupa bagaimana hangatnya Liana telah menjadi rumah tempat ia pulang. Karena ia akan meninggalkan rumah, besok ia tidak akan bangun tidur di samping Liana.

Mungkin Liana tidak banyak bicara mengenai perasaannya, tapi Jaron tahu bahwa perempuan ini takut merindukannya ketika mereka tidak bersama. Diciumnya pucuk kepala Liana, lalu keningnya, pelipisnya, pipinya, hingga sudut bibirnya. Dilihatnya wajah Liana yang masih berusaha tersenyum. Kalau begini, Jaron juga jadi takut rindu.

Suara klakson mobil terdengar jelas, membuat Liana melepaskan pelukannya dengan enggan.

"I'll get going, hm?" Jaron membelai rambut panjang Liana, "Don't forget to call me once I'm away."

Aral [Hiatus]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang