Bersatu bukan sekadar mengandalkan komitmen, tapi juga kesediaan untuk menerima keadaan.
Oh, dan toleransi pada komentar orang.
Terlalu muda, terburu-buru, tidak perhitungan, misalnya.
Araliana dan Jaron terlalu cepat mengiyakan hidup sebelum belaja...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah sejak pekan lalu.
Tak berbalas.
Kia hanya menatap pesan terakhir dari Brian sambil tersenyum simpul, sengaja membiarkan pesan itu tidak terbalas—bahkan tidak terbaca—karena ia sendiri sengaja sibuk menunggu balasan dari orang lain.
"Mbak Kia."
"Iya, Na?"
Mengunci layar ponselnya, Kia menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Sebuah kepala menyembul dari kubikel sebelah, memunculkan wajah manis seorang gadis yang tinggi badannya tenggelam di balik sekat kubikel. Gadis mungil dengan rambut panjang sepunggung itu tersenyum canggung ke arah Kia, sementara Kia hanya mengangkat satu alis.
"Mbak Kia nanti mau ikut makan siang? Kita rencananya mau ke Jablay," tawar gadis itu dengan kikuk.
Gadis mungil itu merupakan adik tingkat Kia, dari kampus dan jurusan yang sama, yang juga sedang magang di kementerian tempat Kia magang sekarang. Kia paham yang dimaksud gadis itu dengan 'kita' ialah segerombolan teman sejurusannya yang juga magang di kementerian ini, dan 'Jablay' adalah julukan untuk 'Jalan belakang', gang di belakang kantor tempat berbarisnya berderet-deret warung makan berharga miring tapi rasa enak sinting.
"Oh..." bibir Kia membulat, "Boleh. Nanti aku ikut, ya."
Kia segera mengunci layar ponselnya, rehat dari rutinitasnya mengharap balasan yang tak mungkin datang. Balasan dari orang yang ia tahu kabarnya, tapi tak tahu di mana rimbanya.
🌸🌸
kiatalitha just posted a photo
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.