Hai ... Readers gk ketemu cukup lama ya 😂 sekarang aku update lagi nih ... Baca ya juga share suruh temen-temen buat baca 😂
Happy Reading ❤️
***
Kira-kira satu bulan sudah berlalu begitu cepat tanpa disadari.
Suara-suara pengumuman akan datangnya ujian untuk kelas 12 cukup menyeramkan bagi mereka terutama Neysha, itu berarti akan ada perpisahan lagi? Jangan cepatkan waktu ini, ... Tolong.
Selama ini Neysha juga sering belajar dengan Zidni, materi yang dia tangkap sangat cepat jika Zidni yang mengajarkan dibandingkan menatap langsung papan tulis dikelas.
Nilaipun bertahap naik sedikit demi sedikit. Timbul ada rasa bangga terhadap dirinya, besok pagi ada ulangan yang harus dia raih minimal mendapat nilai 8 itu lebih dari cukup. Pelajaran apa? Tentu pelajaran matimatian. Haha memang
menyebalkan!
Tapi Neysha yakin kalau kali ini pasti dia bisa merebut nilai itu! Apalagi dia bimble tiap malem sama Kevin.
Seperti sekarang contohnya.
"Ngerti nggak Sha?!" seru Kevin gemas melihat mata Neysha yang sekejap merem melek.
"Ngerti dong tuan Leary," jawab Neysha terkejut.
"Ya udah, lo persiapin buat pagi nanti. Gua juga mau tidur ngantuk banget nih mata," ujar Kevin mengucek matanya.
"Iya ..."
Setelah kepergian kevin, Kevin semakin perhatian dan berlaga humor tapi selalu garing.
Hahaha dasar Kevin.
***
Pagi ...
Setelah sarapan mereka pamit untuk berangkat.
"Assalamualaikum ... Pah and new mom," pamit Neysha.
"Waalaikumussalam, hati-hati," jawab mereka kompak.
Kevin yang mengendarai motor gedenya, terlihat sangat berwibawa.
"Lo pake parfum?" tanya Neysha.
"Ya, kenapa?"
"Berapa kali semprot si? Gila baunya bikin orang asma tau!" cibir Neysha.
"Brisik ah!" sahut Kevin, sementara Neysha menunjukkan muka kesalnya sembari mencibir dengan suara yang pelan hanya bibir kecilnya yang terus-terusan gerak.
Sebenarnya Kevin memperhatikan lewat spion, tapi dia hiraukan dan dia merasa senang saat Neysha sedang kesal.
Tiba di gerbang sekolah, sebagian kakak kelas berbisik, "Rehan mati, ada aja gantinya."
Neysha sempat dengar jelas mereka berkata apa?
Deg!
Sungguh itu membuat Neysha kembali down, tentu Kevin melihatnya. "Udahlah Sha, lo tuh hebat dan lo taukan orang hebat? Orang hebat banyak yang hujat dan omongan kaya mereka sih murahan gak pantes didenger apalagi di endorse. Haha ..." ujar Kevin manaruh helm.
"Haha, iya Vin. Makasih ya ternyata gue salah nilai lo."
"Lo nilai gue apa? Emang gue baik, Sha,"
"Gue nilai lo itu jahat!" seru Neysha tertawa pergi. Sementara kevin memandang punggung Neysha yang mulai menjauh.
"Perasaan gue baik," ucap Kevin, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
"Selamat pagi semua," sapa bapak matematika.
"Pagi ..." jawab semua.
"Siap?"
"Bodoamat pak, pasti siap gak siap tetep sama aja," celoteh Freedy pasrah.
"Oke, isi dibelakang kertas. Ingat berikan nama kalian," ujarnya.
Saat ini kelasnya sedang sangat hening, mereka mulai mengerjakan soal dengan waktu tiga puluh menit.
Setelah beberapa menit berlalu ...
"Ya, tinggal ... Lima, empat, tiga, dua, satu. Stop! Pulpen, pensil taruh di atas meja."
"Kevin, kumpulkan semua kertas ke meja bapak."
"Siap pak."
***
Di tempat dimana makanan dijajakan alias kantin, (bagaimana nanti kalau perpisahan?apakah dia juga akan pergi meninggalkanku?) Pikir Neysha melamun, memainkan sedotan didepannya.
Hei!
"Tumben lo sendirian?" tanya Freedy mengejutkan, dan mengambil cemilan Neysha.
"Emang kenapa kalo gue sendiri? Lagian gue suka kok dan gue juga bakal sendiri jug-"
"Brisik, itu kak Zidni nyemperin kesini," potong Freedy mengarah ke Zidni.
Tak lama kemudian Zidni datang, menebarkan senyum manisnya.
"Hai Ney, apa kabar?" sapa Zidni.
"Biasa aja kak."
"Khm, gue cabut ya ada tugas yang belum gua selesain nih. Kak gue tinggal ya," sambung Freedy meninggalkan mereka berdua, di lanjutkan acungan jempol menandakan "iya"
Hening, mejanya kini hening hanya alunan musik dari atas saja yang terdengar.
"CK. Kenapa? kok diem?"
"Minggu depan kakak ulangan?" tanya Neysha mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Minggu depan kakak tryout kedua, emang kenapa?"
"Enggakpapa sih, oh ya planning kedepannya apa kak? Maksudnya rencana kakak buat nglanjutin pendidikan kakak?" tanya Neysha menatap intens Zidni,
begitupun Zidni mengikuti menatap Neysha sembari mengernyitkan keningnya "R.e.n.c.a.n.a?"
Khm, didin menyadarkan mereka berdua.
Hampir lupa untuk berkedip untung saja ada Didin yang ikut menimbrung.
Sambil berkedip beberapa kali Neysha mengatakan ulang dengan gagap. "I-iya rencana kakak?"
"Ceelah bilang aja gak mau pisah sama kak Zidni dek," sambung Didin meledek.
"Apaan sih kak, orang cuma nanya doangkan apa salahnya?" ucap Neysha membela diri sembari tersenyum kikuk.
"Oh niatnya sih kakak mau ke univers-"
Tiba-tiba Zidni terhenti karena bell berbunyi juga karena Neysha yang mendadak ingin ke kelas.
Baiklah, lain kali saja Zidni melanjutkan pembicaraannya.
---
Matematika kembali masuk, saatnya nilai di bagikan.
Neysha sudah optimis kalau dia pasti akan mendapat nilai delapan. Itu pasti.
Pak matematika mulai membagikan selembar kertas kepada siswanya.
Dan membuka kertas itu kalau sudah ada instruksi.
"Baiklah, sekarang kalian boleh membukanya," ucapnya.
Delbar?
"Delapan sembilan pak," jawab Neysha mantap dengan bangga.
"Wow ..." semua mata terbelalak mendengar pernyataan dari Neysha.
"Gila itu asli lo Sha?!" tanya Tedi mengejek.
"Asli lah ngaco lo!"
"Iya iya biasa aja,"
"Oke pertahankan nilai kamu Neysha, ini pertama kamu mendapat nilai bagus."
"Oh tentu saja pak," jawab Neysha membungkuk bungkuk seolah ia mendapat penghargaan dari pemerintah.
***
TBC ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Prospect [COMPLETED]
Teen FictionIni hidupku Neysha bisa saja nanti akan berubah nama itu, maaf jika membuatmu terluka Aku berterimakasih kepada seseorang yang telah membuat warna indah di kehidupanku Perkataan menyakitkan kalian, bukan berarti melemahkan tapi itu memotivasi ku u...
![Prospect [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/164076458-64-k451290.jpg)