Budayakan menekan bintang yes
Delbar Neysha
Semalaman penuh kita asyik mengobrol dan tertawa, sampai-sampai lupa kalau besok pagi masih berangkat sekolah.
Kita pulang jam satu pagi.
Tidurku pun sangat nyenyak, tidak bisa diganggu.
Tiba-tiba ponselku berdering, panggilan dari Lena.
Lena menghubungi ku, ia memberitahu agar aku segera berangkat, karena acara sudah dimulai.
"Ah baiklah, ..." ucapku, beranjak dari ranjang dan bersiap untuk berangkat.
Pagi ini aku mengenakan sweater hitam dengan rambut terurai, manis sekali.
Aku memandangi setiap sudut rumah, mencari keberadaan Kevin. Dimana dia?
Rumah ini sangat sepi, mereka sudah pergi? Pagi sekali.
Aku menghampiri meja makan, dan memakan makanan yang ada dimeja itu untuk sarapan, walaupun sepotong roti dan selai kacang.
---
Acaranya sudah banyak yang terlewat, aku berjalan sendiri mencari keberadaan Lena dan yang lain ditengah keramaian.
Aku melihat anak OSIS sangat sibuk, ada juga sih yang so'sibuk.
Aku mencoba menghubungi Lena, tapi tiba-tiba ada yang mendorongku dari belakang.
Menyebalkan!
"Oh sorry," ucapnya, ya baiklah tidak apa.
Tidak!
Tidak jadi aku memaafkannya. Dia Gita, mungkin juga dia akan meledekku.
"Owh ada anak manja, lo terlihat cantik pakai sweater itu. Tapi untuk apa? Membuat terkesan Zidni?" tanyanya, apa yang ku bilang benarkan?
Tunggu dia ngomong apa tadi, membuat Zidni terkesan, cih ... Itu menjijikan aku memakainya hanya karena aku ingin tidak ada tujuan seperti itu.
"Terimakasih, tapi tidak ada kaitannya dengan kak Zidni. Permisi" jawabku pergi, mungkin saja dia akan menggerutui ku dibelakang. Huh biarkan saja.
Hai, akhirnya aku menemukan Lena dan kawan-kawan.
"Hei, kenapa Lo lama?" tanya Sindy.
"Gue ngantuk banget, gila" sahutku.
"Sebentar lagi kepala sekolah akan memotong kue," ucap Lena.
"Baru potong kue? Kirain gue udah tinggal hiburan" sambung ku, aku kira memang tinggal penutup.
"Ini masih jam delapan, untuk apa terlalu cepat, bodoh." ujar Kevin menepuk jidatku pelan. Aku terlihat sangat polos dan aku juga ditertawakan. Ah menyebalkan!
Ada beberapa anggota OSIS yang lewat didepan kita, langkahnya begitu sombong. Huh entah kenapa sejak aku mengenal Gita dan Zidni aku agak sedikit tidak suka dengan organisasi itu.
Tapi salah satu dari mereka berhenti dan menghampiriku.
"Apa kau mau tampil nanti?" tanyanya dengan senyum kecilnya, seolah dia begitu sangat akrab denganku.
"Tampil apa?" tanyaku balik,
"Nyanyi, bukannya kamu suka bernyanyi?"
"Tidak, gue enggak tertarik," jawabku ketus.
"Kakak, kak Handra kan?" tanya Sindy.
Apa Handra? Pernah ku dengar nama itu tunggu, dia yang waktu itu ...
Ah pantas saja dia so'akrab. Iya aku mengingatnya.
Aku lupa dengan Handra karena dia sangat berbeda, ku dengar dia juga jadi ketua basket sekarang.
Tapi untuk apa aku mengingatnya,
"Wah, Kakak beda sekali. Badan kakak sangat tegap dan juga bidang. Kakak sering nge-gym ya?" celoteh Sindy, memalukan saja anak ini.
Dan hanya senyum yang Handra balas.
"Kak, Neysha akan tampil jadi catat saja namanya ya," seru Sindy.
"Sindy, Lo apa-apaan sih?!" seruku, aku kesal dengan Sindy yang tiba-tiba berkata seperti itu.
Aku tidak ingin menunjukan bakatku, biar nanti saja ah ... Menyebalkan,
Tapi disisi lain aku juga ingin memberitahu pada si Gita songong itu kalau aku berguna!
"Jadi bagaimana, kamu mau atau tidak?" tanya Handra.
"Mm baiklah, gue mau deh."
Tapi aku tidak terlalu suka keramaian, lebih baik aku ketaman belakang yang mungkin tidak ada orang disana.
Ya, aku duduk di kursi taman aromanya lebih nyaman dibandikan dengan yang didepan.
Aku melihat, kira-kira setengah meter dariku ada pria yang memakai jas putih lengkap dengan syarat masuk lab sedang mengutak-atik gelas kimia, buret dan semacamnya.
Sepertinya dia sedang membuat larutan, aku penasaran sangat penasaran. Menghampiri atau tidak ya?
Aku hampiri saja, aku juga ingin tahu bagaimana dia membuat larutan.
"Lo ngapain disini dan sedang melakukan eksperimen kah?" tanyaku so' kenal.
Dia masih fokus dengan apa yang dibuatnya, tetapi ia sempat berhenti.
"Woy, gue ngomong sama Lo?!"
Dia menjawab tapi masih membelakangiku.
"Gue lagi ngitung volum gas H2."
"Emang gimana pernyataannya?" aku sangat penasaran tentang itu.
"Aluminum larut dalam asam klorida membentuk aluminium klorida dan gas hidrogen, masa aluminium yang dilarutkan 5,4 gr dan yang ditanyakan volum gasnya. Ini soal kelas sepuluh Lo gak tau?!" tanyanya menghadapku aku mulai tidak nyaman berhadapan seperti ini, entah kenapa.
Kemudian dia membuka kecamatannya dan ya, benar saja dia itu Zidni. Aku tidak bisa menebaknya saat tadi bahkan suaranya aku tidak mengenalnya.
Tapi saat ia berbalik badan aku mulai mengenalnya dan tebakanku benar.
Saat ku tau dia Zidni dan dia tau itu aku, aku langsung pergi dari hadapannya aku tidak ingin menemui nya saat ini, aku masih kecewa dengan dia.
Zidni melepas sarung tangannya dan menarik lenganku tapi aku menepisnya.
"Maaf, gue benar-benar mencintai Gita," ucap Zidni pelan.
"Huh, sudah gue tebak kok, untuk apa minta maaf itu hak lo kak."
"Tapi bagaimana perasaan lo Sha?" tanyanya, apa dia menanyakan perasaanku?.
"Untuk apa, lo tanya itu? Huh, Lo tanya apa ngejek gue, kaya kekasih Lo?!" seruku, sungguh aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meninggikan suaraku.
"Bbukan itu maksudku Sha, Kakak tidak ada sedikitpun ingin melakukan itu-"
"Sudahlah, untuk apa memperdebatkan yang tidak penting. Tidak penting bukan?!" ucapku meninggalnya Zidni, yang terlihat sangat kacau, aku masih tidak mengerti dia mencintai Gita tapi ia terlihat sukar, Ah sudahlah.
Lebih baik aku kembali dan menyaksikan acara ini dari pada mengingatnya.
***
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Prospect [COMPLETED]
Teen FictionIni hidupku Neysha bisa saja nanti akan berubah nama itu, maaf jika membuatmu terluka Aku berterimakasih kepada seseorang yang telah membuat warna indah di kehidupanku Perkataan menyakitkan kalian, bukan berarti melemahkan tapi itu memotivasi ku u...
![Prospect [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/164076458-64-k451290.jpg)