Hari ini hari yang ditunggu-tunggu oleh semua murid AHS apa lagi kalo bukan pentas seni, semua murid sudah siap dengan kostum mereka terutama yang ikut memeriahkan acara sedangkan yang tidak, mereka memakai seragam biasa.
Tak lupa para osis menyiapkan tempat duduk khusus untuk guru-guru yang tepat berada di bagian depan, sebagiannya untuk para siswa dan siswi AHS, serta untuk para alumni dan tamu undangan yang lain.
Dilain sisi, Dhisa kini tengah berontak dari kejaran teman-temannya, karena dipaksa keruang make up, sedangkan Dhisa tak menyukai hal itu.
"Dhisa, ayo Bu Endang nungguin tuh" seru Dea yang menarik paksa Dhisa.
"Ogah, gue gak mau di make over, kayak miper tau gak kalo pake begituan" keluhnya sambil berusaha melepaskan cekalan Dea, sedangkan Rissa dan Meicha mereka hanya mentertawakan kelakuan Dhisa dan Dea, dasar temen laknat emang kalo aja bukan temen udah dibuang ke sungai Ciliwung.
"Eh Dhis, lagian natural doang kok" ucap Meicha yang siap memegang pergelangan tangan Dhisa, namun tak sempat karena Dhisa langsung berlari dari mereka.
"Ogah..." Teriak Dhisa disela sela larinya.
Tanpa pikir panjang mereka pun ikut berlari mengejar Dhisa. Aksi kejar-kejaran itu disaksikan oleh banyak siswa maupun siswi. Dan hal itupun tak dipedulikan oleh Dhisa maupun teman-temannya.
Tepat tikungan, yang hendak ke arah kantin, Dhisa menabrak seseorang dan mendarat dengan sempurna dengan pantat yang menempel pada lantai marmer.
"Aw..."ringisannya dan mendongakkan kepalanya melihat siapa yang ia tabrak
"Lo ngapain sih hadangin jalan aja" ketusnya sambil berdiri dan membersihkan rok seragamnya.
"Bukannya elo yang harus liat-liat kalo jalan" serunya
"Ih gue tuh lagu buru-buru"ucapnya
"Lagian ya ini tuh koridor lo ngapain sih lari-lari gak jelas, kayak anak kecil aja" ucap Erik, ya yang ditabrak oleh Dhisa tadi adalah Eric.
"Gue tuh di...."ucapannya terhenti tatkala Meicha memanggil nya dengan nafas yang naik turun.
"Dhisa..." Serunya
"Aduh Dhis, udah dong jangan lari-larian capek tau nggak" ucap Dea menetralkan nafasnya yang masih naik turun
"Udah deh mending lo ikut aja" kini Rissa yang maju dan menarik tangan Dhisa.
"Gak mau sa..."rengeknya.
"Emang ada apaan sih?" Tanya Eric yang sedari tadi hanya melihat tingkah teman-temannya Dhisa.
"Si Dhisa gak mau di dandanin" seru Meicha
"Emang kenapa, kok lo gak mau sih?" Tanyanya pada Dhisa
"Ogah, gue gak mau di dandanin, nanti gue mirip miper gimana?" Serunya bak anak kecil yang tengah meminta permen pada ibunya.
Dan hal itu sungguh sangat lucu di mata Eric.
"Udah biarin aja kalo dia gak mau" seru Eric yang memihak pada Dhisa.
Sedangkan Dhisa ia menyeringai ke arah teman-temannya itu.
"Lo ngapain sih kok malah mihak nih dugong sih" seru Meicha dan mendapatkan tatapan tajam dari Dhisa
"Lo enak banget ngomong gue dugong, dasar upil kuda lo rese banget sih" kesalnya
Sedangkan Meicha ia hanya terkekeh dengan ucapan Dhisa.
"Udah jangan di paketin makeup, udah cantik kok dia kalo tanpa makeup juga" ucapnya santai dan mendapat sorakan dari teman-temannya Dhisa.
Sedangkan Dhisa ia hanya mematung mencerna kata-kata yang dilontarkan Eric. Sungguh hal itu membuatnya tak bisa berkutik apa-apa.
Tolong kuatkan jantung Dhisa kali ini.
"Ciee... Kayak nya udah ada yang kesemsem nih" seru Dea.
"Hemm gas terossss bang" ucap Meicha setengah berteriak.
"Ekhemm salting nih ciee.." goda Rissa.
"Berisik" ucap Dhisa dan langsung bergegas dari hadapan mereka.
Sedangkan Meicha dan yang lainnya hanya tertawa bahak dengan tingkah Dhisa yang sok malu-malu kucing itu.
"Ah gitu aja malu, dasar dugong cantik" seru Meicha sebelum Dhisa jauh dari hadapan mereka.
Tak lain halnya dengan Eric ia hanya tersenyum menatap kepergian Dhisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
[1]RICSHA ✓
Random[COMPLETED] Ini dulunya cerita ' Eric' terus aku ganti dengan ' Ricsha' Jika sikap saja saling tolak-menolak apakah hati bisa tarik-menarik? Cerita klise dari cewek bar-bar yang diam-diam suka sama pangeran sekolah, jangan salahkan jika hatinya mema...
![[1]RICSHA ✓](https://img.wattpad.com/cover/186329597-64-k726813.jpg)