Arkan tampak rapi dalam balutan kemeja batik biru muda dan wajahnya tampak berwibawa saat mengecek persiapan acara perusahaannya. Ia menyapa security dan meminta mereka bergantian sarapan.
Dari kejauhan ia melihat beberapa karyawannya menurunkan kotak snack dari mobil Toyota abu metalik.
"April?"
"Eh, Pak Arkan?" Mereka berdua saling berpandangan.
"Pak Arkan sudah saling kenal ya? Ini teman pengajian Tiara. April yang buat kue untuk acara hari ini Pak." Tiara meminta beberapa rekannya membantu membawakan trolley untuk memindahkan kotak kue ke ruang utama.
"Kamu duduk disini aja, nemenin saya. Biar Tiara siap-siap buat acara. Ini saya mau tester snack buatan kamu, saya kebetulan belum sarapan." Tumben ini orang bicara panjang kali lebar. Biasanya irit.
"Kamu nggak lagi ngomongin saya kan?" Arkan duduk di sofa dan memberi isyarat agar April juga ikut duduk.
"Kok Bapak tahu kalau lagi diomongin?" April sengaja test on the water, sementara Arkan tidak sadar sengaja dikerjai oleh gadis manis yang masih duduk berjauhan darinya.
"Hmm.... Enak banget, kamu ternyata pintar masak."
"Maaf Pak, yang pintar masak, Bunda. Saya mah nggak bisa masak. Pak, saya pamit dulu ya." April siap-siap berdiri dan merapikan bajunya yang sedikit lecek karena memangku kotak-kotak snack yang tidak muat di bagasi.
"Kamu ada dinas di RS hari ini?"Arkan menahan rasa kecewanya melihat April buru-buru pergi.
"Nggak Pak, semalam habis jaga malam. Masih mengantuk."
"Yang anter kamu kan Tiara, kamu pulang ada yang jemput?" April menggeleng. Dia menjawab mau naik ojek online aja.
"Ya sudah, saya antar kamu pulang. Ada supir saya, Pak Burhan nanti ikut juga." April terkejut. Dapat hidayah apa ya, Pak Arkan tumben jadi baik hati begini.
"Bapak kan ada acara jam 9. Nanti malah telat Pak. Saya sudah biasa kok pulang sendiri."
"Gini-gini saya pria yang bertanggungjawab. Masak kamu datang diantar mobil, pulang naik angkutan umum. Sudah ikut saya. Nanti saya minta Tiara mulai acara dengan ice breaking sama games buat anak-anak." Tak lama pria di depannya sudah sibuk menelpon beberapa orang.
April memandangi punggung lelaki di depannya, pasrah. Bisa dimarahi Bunda nih, pulang diantar lelaki asing. Tak lama Pajero sport hitam menghampiri mereka.
Sudah bisa ditebak suasana heboh terjadi di rumah. Aduh, pakai acara turun lagi si Bapak. Okto yang lagi berkutat di depan lap top ruang tamu, sampai keluar rumah. Sudah kayak gempa bumi kali ya.
Pernah beberapa kali temannya mengantar, Aldo atau Frans kalau mereka pulang acara rapat RS atau ada syukuran ulang tahun teman. Bareng-bareng sama Riska, Gadisa dan teman-teman lainnya.
Bunda keluar dengan daster kebesarannya.
"Saya Bunda Ana, Bundanya April. Ini adik keduanya April, Okto."
"Saya Arkan Bun." Pak Arkan mencium punggung tangan Bunda. Ya ampun, Bunda sumringah pakai banget. Bahagia sampai nawarin masuk ke rumah, buatin minum. Maklum sudah lama ngga ketemu cowok ganteng, selain Ayah.
"Kenapa senyum-senyum Pak?" April tidak bisa menyembunyikan rasa kurangnyamannya akan kehadiran lelaki satu ini.
"Bunda kamu ramah banget ya."Baru kali ini April memperhatikan pria itu tersenyum, yang menambah kadar ketampanannya 10 kali lipat.
"Bun, Pak Arkan ada acara lagi, nanti terlambat." April memanggil Bunda yang sudah berjalan ke dapur, hendak mengambilkan minum. Tak lama Bunda keluar dari teras depan.
"Oh maaf Bunda nggak tahu kalau Nak Arkan ada acara lagi. Terimakasih ya Nak, sudah repot mengantar April. Bunda tadi khawatir, sudah 10x miscall nggak diangkat-angkat."
Lho, Bunda memangnya telpon ya? April meraba saku rok dan tas yang melingkar manis di pinggangnya.
"Pak, Hp saya ngga ada. Apa jangan-jangan jatuh di kantor ya?" Okto inisiatif menelpon nomer kakaknya, namun terdengar nada telpon yang tidak diangkat.
Berdua mereka mencari hp di mobil. Pak Burhan malah kebingungan ada apa ini pada jongkok di jok mobil. Ah, ketemu. Ada getar-getar hp di bawah jok.
"Sudah ketemu HPnya," April berseri memasukkan kembali hpnya ke dalam tas.
"Lain kali jangan ceroboh. Bunda kamu sampai khawatir." Ya Pak, wajah April sudah mirip murid yang lagi dihukum di depan kelas.
"Saya kembali ke kantor dulu ya, Assalaamu'alaikum." Lelaki itu masih tersenyum saat pamitan. April menjawab salam dan masih berdiri di depan pagar.
Tanpa sadar dia melambai dengan raut senang. Entah senang karena berhasil 'mengusir' halus pria itu atau senang karena diantar pulang.
Arkan memandang dari balik spion, bayangan gadis itu yang sesaat membuat denyut jantungnya berdebar.
Berasa habis pamitan sama istri. Ia masih normal kan ya? Ia berusaha memejamkan mata sementara Pak Burhan senyum-senyum sendiri melihat kelakuan tuan mudanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Journey To Love
Romance(Cerita Pertama di Wattpad) Perjalanan dua insan merajut cinta menuju ikatan yang suci. Akankah rasa itu hadir ketika mereka berdua bertemu sebagai dua sosok yang berbeda sifat dan kepribadian? Apakah mereka akan terus bersama, ketika kisah masa l...
