Kode Keras Bunda

4.2K 515 8
                                        

"Nak Arkan kelihatannya baik ya Kak. Sopan juga," Bunda mengawali pembicaraan makan malam di meja makan.

"Kayaknya dia juga penyayang," ujar Bunda lagi sambil menuangkan sup jagung ke mangkuk-mangkuk kecil dan membagikannya ke ketiga anak kesayangannya.

"Ganteng juga Kak," Okto ikut menimpali asap jadi api.

"Kalau dia nggak penyayang, nggak mungkin peduli sama kakak, sampai anter pulang segala."Bunda menimpali lagi dengan semangat.

"Dia cuma kasihan aja Bun sama Kakak. Orang lain juga pasti akan dapat perlakuan yang sama."April masih lahap menghabiskan sup jagung yang masih hangat.

"Bun, habis ini April ijin bawain sup jagungnya untuk Diandra ya. Lagi sakit," April mengalihkan pembicaraan dan strateginya berhasil.

"Siap Kak, aku siap jadi ojek motor yang anter Kakak." Okto tersenyum.

"Sekalian nanti mampir toko buah ya Kak." Jiaahhh... modus banget adiknya satu ini. Semenjak tahun lalu Dee mengisi malam Inagurasi di kampus adiknya, diam-diam Okto jadi penggemar Diandra.

Padahal Dee lebih tua 3 tahun dari Okto tapi Bunda justru mendukung putranya, karena ternyata kisah cinta Bunda sama Ayah juga mirip. Bunda juga lebih tua dari Ayah.

"Kalau Bunda ngga jadi nikah sama Ayah, ngga akan ada anak-anak Bunda yang lucu dan pintar-pintar ini. Salam ya Kak, buat Diandra, dari calon mertua." Bunda mengedipkan mata.

April hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan Bundanya. Efek sering ngeliat tetangga pada dorong kereta bayi cucu-cucunya, Bunda pasti dah pengen punya cucu. Sayangnya April belum bisa mewujudkannya sampai saat ini.

Our Journey To LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang