Arkan sudah siap dengan baju putih dan jas berwarna hitam sementara Dhika sahabatnya masih sempat meracuni pikirannya, beberapa jam sebelum pernikahannya.
"Ar, kamu yakin nggak mau melihat foto April waktu masih SD? Lucu banget tau Ar."
Arkan malas menanggapi Dhika. Ia lebih berkonsentrasi menghafalkan lafadz ijab kabul supaya nanti tidak ada yang salah.
Setengah jam kemudian petugas KUA telah datang dan seketika itu juga hafalan Arkan berkurang 50 persen karena terkalahkan oleh rasa gugup yang tiba-tiba mendera. Ia hanya ingat untuk berdzikir, menenangkan hatinya.
Beberapa menit berikutnya dapat dilaluinya dengan baik dan ijab kabul pun berjalan khidmat. Terdengar ucapan hamdalah, sesaat setelah penghulu menyatakan "Sah" untuk kedua mempelai.
Hari ini ia resmi bertanggungjawab sebagai suami gadis yang telah dipilih Allah untuknya.
Setelah ijab kabul, istrinya pun keluar dari kamar. Saat itu juga Arkan seolah seperti akan terkena serangan jantung.
Apa benar itu istrinya, dengan make-up natural menggunakan gaun pengantin berenda warna emas, membuatnya terpana dan hampir tidak bisa berpaling.
Untuk pertama kalinya ia menggenggam jemari istrinya. Diciumnya kening istrinya dengan sedikit gemetar dan April mencium punggung tangannya dengan penuh hormat.
Siang hari mereka beristirahat sebentar untuk sholat zhuhur dan makan siang.
"Kak, maaf bisa keluar dulu nggak? Aku mau ganti baju dulu."
"Ya sudah ganti baju aja disini. Kita kan sudah resmi suami istri."
"Iya tapi aku malu." April mendorong suaminya keluar kamar.
Gagal sudah untuk melihat penampilan asli istrinya. Ketika masuk ke kamar, April sudah menutup rapat dirinya dengan mukena untuk bersiap sholat berjama'ah.
Shabar, pasti istrinya akan membuat kejutan untuknya nanti malam.
Arkan tiba-tiba tersenyum bahagia.
"Sayang, sini aku bersihin make-up kamu." April menurut, dia telah duduk manis di depan suaminya. Suaminya mengusapkan kapas dan cleansing milk di pipi istrinya.
"Ya ampun Sayang, ini bedak tebal amat. Kirain tadi make-upnya tipis." April hanya bisa memejamkan matanya.
Dia bergantian membersihkan polesan bedak di wajah suaminya.
"Aku sudah boleh buka kerudung kamu?"
"Kak Arkan sudah siap pingsan?"
"Maksudnya?"
"Mungkin aku aslinya nggak seperti yang Kak Arkan bayangkan."
"Gimana ya? Aku sudah telanjur ijab kabul, pasrah aja deh terima apa adanya. Astaghfirulloh, cubitanmu sakit banget kayak digigit semut rangrang." Arkan menurut saat istrinya meminta ia menutup mata.
April berbisik dengan lembut sesaat setelah ia diijinkan untuk melihat istrinya.
Ia tertegun. Jujur, ia kehilangan kata-kata setelah mendapat kejutan termanis saat melihat istrinya secara nyata.
Tiba-tiba gadis itu menangis. Menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut. Ia jadi kebingungan. Wanita kadang sulit dimengerti.
"Aku malu, aku nggak seperti ekspektasi Kakak." April masih terisak.
"Nggak Sayang, aku malah kayak bermimpi bisa ketemu malaikat secantik kamu." Ia sudah berkata jujur tetapi istrinya masih berurai air mata.
"Kakak bohong."
"Cup... sudah jangan nangis dong." Dipeluknya erat punggung wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
Tepat seperti bayangannya. Istrinya wanita terindah dalam hidupnya dan Ia adalah lelaki paling beruntung yang pertama kali melihatnya.
"Terimakasih Sayangku, telah membuatku menjadi pria teristimewa di dunia ini." Ia menghapus air mata di pipi April.
April membalikkan badan dan mengusap lembut rahang suaminya, "Terimakasih juga suamiku, telah menjadikanku wanita bahagia dengan keyakinanmu menikahi aku." Sebelum akhirnya dia tertidur di bahu kokoh lelaki itu.
Dengan lembut Arkan mengatur posisi bantal agar istrinya nyaman tidur di sampingnya.
Berdua mereka bersama memejamkan mata dan saling menggenggam jemari yang kini telah halal untuk bersatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Journey To Love
Dragoste(Cerita Pertama di Wattpad) Perjalanan dua insan merajut cinta menuju ikatan yang suci. Akankah rasa itu hadir ketika mereka berdua bertemu sebagai dua sosok yang berbeda sifat dan kepribadian? Apakah mereka akan terus bersama, ketika kisah masa l...
