Are We In The Same Heart?

3.9K 512 9
                                        

April melipat mukenanya selesai sholat Zhuhur dan mendengar tausiah Ustadz Baihaqi tentang keajaiban takdir.

Dia bersandar di pilar belakang Masjid yang bernuansakan ornament kaligrafi dan menyerupai bentuk masjid Nabawi di Madinah.

Ustadz menceritakan tentang takdir apapun yang Allah berikan untuk kita, adalah ketetapannya yang paling baik. Hanya kita manusia yang belum tahu rahasia di balik itu semua.

Beliau mencontohkan tentang rumah tangganya selama 10 tahun namun belum dikaruniai putra putri, sekarang beliau mengembangkan pondok penghafal Qur'an dengan 30 santri dan santriwati yang telah dianggapnya sebagai anak kandung sendiri.

Keshabaran mereka berbuah manis, sekarang Ustadzah Dewi sedang mengandung anak pertama mereka yang kata Dokter, kemungkinan kembar.

Terharu April memandangi wajah-wajah anak santri Ustadz yang sedang berdiri di depan, melafadzkan Qur'an dengan lancar.

April menghitung usianya yang tahun ini masuk kepala tiga. Sudahkah dia hafal minimal 30 surat dalam Al-Qur'an, sepanjang hidupnya.

Ustadz Fadlan yang menjadi pembawa acara, menutup acara dengan sesi "Fastabiqul khairat" menawarkan peluang amal menjadi orangtua asuh sekaligus memberikan beasiswa bagi santri-santri yang telah hadir memenuhi barisan depan.

Terkejut dia bertemu dengan sosok lelaki yang mengenakan pakaian takwa berwarna putih memeluk santri-santri dan secara simbolis memberikan bantuan biaya sekolah.

Dia terharu, nggak menyangka Bos Arkan yang awalnya dia kira sombong, galak dan pelit, ternyata seorang pengusaha dermawan yang digerakkan hatinya untuk berinfak di jalan Allah.

Diam-diam April mulai terpesona dan menyesal dia sering berprasangka buruk terhadap lelaki itu.

April juga ingin mengikuti jejak Arkan, tapi saat ini dia belum mampu, dia masih membantu membiayai kuliah adik-adiknya.

Keluar dari pekarangan masjid, April masih mencari-cari sepatunya. Ya Allah, kemana ya sepatu sejuta ummat berwarna hitam yang sudah tidak tampak baru lagi. Kayaknya ada yang tertukar alas kaki dengannya.

"April, kamu kesini juga?"Sesosok pria tampan menggunakan kaca mata hitam anti matahari, tampak berdiri di depan Fortuner berwarna hitam.

April mengangguk dan tak lama setelah mengakui alas kakinya yang belum ketemu, Arkan menghampirinya sambil membawakan sandal jepit dari bagasi.

"Alhamdulillah muat, kaki kamu ukurannya besar juga ya. Ini padahal sandal jepit big size lho," Arkan tertawa melihat wajah cemberut gadis di depannya.

"Kalau nggak ikhlas, mending nggak usah pinjamin deh." April terlihat enggan memakainya.

"Jangan gampang ngambek. Nanti cepat muncul keriput. Ayo bareng pulangnya. Saya sama Pak Burhan. Wah... kalau tahu kamu ikut pengajian, tadi saya ajak Oma kesini." Arkan menjajari langkah April dan membujuknya pulang bersama.

Tidak ada pilihan lain, karena Hp gadis itu mati sebelum dia memesan ojek online.

Baru lima belas menit perjalanan, terdengar dengkuran halus dari kursi penumpang. Arkan geleng-geleng kepala menatap dari kaca spion.

Tak lama mobil hitam itu merapat ke sebuah toko sepatu merk terkenal di tepi jalan, sebelum mereka masuk ke jalan tol.

"Sleeping beauty, bangun. Sudah sampai." Beruntung gadis itu segera membuka matanya, meskipun masih 25 watt.

"Kita dimana Pak?"

"Panggil saya Kak aja. Saya keliatan tua banget kamu panggil Bapak, saya cuma beda 5 tahun sama kamu. Ayo turun, pilih sepatu yang kamu suka."

Gadis itu menurut, antara masih sadar dan tidak karena baru bangun tidur.

Dia tertegun melihat deretan harga sepatu dari 700.000 sampai di atas 1 juta rupiah.

"Pak... eh Kak, ini kemahalan. Besok-besok saya beli sendiri saja."

"Kalau sepatu kamu nanti dibawa jalan ke tempat yang baik, saya juga kecipratan pahalanya. Anggap saja saya berinfak untuk anak yatim." Arkan tersenyum.

"Mana ada," April menggerutu.

"Kamu tenang saja, saya member disini. Ada diskon khusus. Pilih yang warna dan modelnya kamu suka. Terus nyaman kamu pakai." April berlalu sambil kebingungan memilih sepatu yang semuanya bagus dan modelnya cute.

Diam-diam lelaki itu mengambil foto candid saat April mencoba beberapa sepatu.

Ia sesekali tersenyum saat April mengambil beberapa model yang dipilih, tapi ternyata kesempitan saat dicobanya.

Arkan masih betah berlama-lama melihat gadis itu memilih sepatu, tetapi hanya 30 menit saja gadis itu sudah menentukan pilihannya.

"Kamu yakin mau memilih yang ini?"

"yang penting ukurannya pas dan enak dipakai Pak, eh Kak." Arkan melebarkan senyum karena mendengar gadis itu memanggilnya Kakak.

Ditatapnya tulisan Sale 50% di sepatu itu yang dilihatnya sebagai sepatu girly model lama dengan warna abu-abu dan soft pink di sekelilingnya. Gadis ini sengaja memilih yang diskonnya besar.

"Mbak, maaf bisa tolong dicek lagi, ini nggak ada yang cacat kan? biar bisa langsung dipakai."

Kedua pramuniaga di kasir mengecek kembali sambil mencuri pandang ke Bos Arkan yang memang siang itu terlihat ganteng maksimal.

"Terima kasih banyak ya Pak. Saya bisa balas pakai apa ya?" April menenteng plastik isi sandal jepit milik Arkan.

"Kamu sudah panggil saya Bapak 2 kali. Hukuman kamu, temani saya makan siang minggu depan, waktu dan tempat akan saya kabari.

Kamu wajib dampingi saya memilih kandidat calon istri. Kamu mau bantu saya kan?" Arkan membukakan pintu untuk April. Dasar sewenang-wenang.

April diam dan itu berarti dia setuju tanpa penolakan. Dia lagi malas berdebat dengan Bos Arkan.

"Terserah Bapak aja deh." Ditutupnya pintu mobil keras-keras.

Wow, membangkitkan macan betina ngamuk, memicu adrenalin di dirinya.

Oh God, Arkan bahkan tidak tahu rencana gila apa yang terlintas di benaknya.

Our Journey To LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang