"Hapus ngga tuh, status," gadis berparas cantik yang baru saja tiba di tanah air itu, meminta ponsel sahabatnya, dengan wajah garang.
"Kalau lu gini terus, siapa yang berani deketin lu, Neng."Diandra membelai kepala April yang berbalut kerudung putih tulang.
"Jangan dihapus, gue lagi kangen... Satu-satunya cowok yang benar-benar tulus sama gue, cuma Kak Ray."
"Kangen itu dikirimin do'a Say, ngga gini juga caranya." Melati ikut memeluk bahu April.
Hari ini, 5 tahun yang lalu seharusnya menjadi tanggal pernikahan April dengan Kak Ray.
Diandra beranjak ke panggung, dia akan menghibur sahabatnya supaya benar-benar bisa move on.
Berdua mereka dulu setia menemani April memilih baju pengantin, memberi masukan dekorasi gedung, mendesain bersama undangan dan Diandra yang akan tampil menyanyi disana.
April yang jutek setengah mati namun kalau sudah mengenalnya lebih dekat, hatinya yang hangat dan selalu tergerak membantu orang lain, adalah sosok yang membuat banyak orang menyayanginya.
Diandra pingsan saat MOS karena nyeri haid hari pertama. April dan Melati yang menggendongnya ke UKS dan dibantu dengan senior yang menjadi panitia.
April yang jagain Melati waktu dirawat sakit thyphoid karena keluarganya dari Padang belum bisa datang, kehabisan tiket pesawat.
"Kak Ray pengen gue nikah pakai kerudung. Ini dia yang milihin, oleh-oleh dari Bandung." Malam itu April terlihat manis mengenakan gamis putih bertabur payet keemasan.
"Lu nakutin pengunjung kafe tau nggak. Pakai baju putih-putih kayak gitu." Melati menjitak April yang meringis.
"Spesial malam ini saya akan menyanyikan lagu untuk sahabat kesayangan saya. Lagu ini jadi lagu kenangan saat calon suaminya melamar, semoga kamu ngga sedih lagi ya Sayang.
Semoga Kak Ray tenang di alam sana melihatmu bisa tersenyum kembali. Untuk my sweetheart April, this is if you're not the one."
April tersipu malu sambil menahan rasa haru di dadanya.
"Tissue mana tissue," Melati menggoda April yang terlihat lebih tegar setiap mengingat kenangan rencana pernikahannya.
Kak Ray, aku hebat kan, aku sudah bisa tersenyum. I will try to be happy, seperti pesan terakhirmu.
Lelaki yang duduk di lantai 2 The Purple Café tertegun sejenak. Dihirupnya lemon tea hangat di depannya. Matanya mencari keberadaan seseorang yang mengusiknya.
Benarkah itu April yang dikenalnya atau mungkin April yang lain. Namun saat penyanyi kesukaan Liam meninggalkan panggung, menghampiri kursi penonton dan memeluk seorang gadis, ia pun tidak menyangka pada penglihatannya sendiri. Bahkan saat ini, pandangannya terlihat nyata.
Ternyata memang benar, itu gadis kesayangan Omanya. Mimpi apa gue bisa ketemu dia lagi disini. Jadi, kekasihnya sudah meninggal kah?
Entah kenapa menyelinap rasa lega sekaligus kasihan bercampur aduk di dadanya.
Buat apa tiba-tiba ia peduli pada gadis yang pandai menyembunyikan kerapuhan di balik senyum tipisnya.
"Gila, gue kasihan banget sama sahabatnya Dee," panggilan kesayangan Liam untuk Diandra.
"Siapa?", Arkan bertanya berpura-pura bodoh.
"Itu, tadi yang namanya April. Tadi gue sebelum kesini, sudah mau request Dee nyanyi lagu pembuka yang lain, dia malah milih ini buat sahabatnya.
Kata Dee, hari ini tanggal pernikahannya si April. Tapi 3 bulan sebelum terlaksana, calon suaminya meninggal kecelakaan mobil di tol."
"Ray, namanya Raynan. Teman kuliahku waktu S2 di Australia." Rendi yang irit bicara tiba-tiba berujar sambil meminum teh manis hangat favoritnya.
Ada apa gerangan sohib gue, kok jadi ada lingkaran aneh yang berhubungan dengan April dan calon suaminya. Arkan mulai merasa gerah meskipun pendingin ruangan berfungsi maksimal.
"Lagi pada ngomongin siapa sih? Sorry gue baru habis sholat Isya."
Dhika datang sudah mencomot kentang goreng milik Arkan, sementara Liam melirik jam di ponselnya, jam 9 kurang 20 menit.
"Sholat Isya di Makkah Bro?", sindirnya pedas. Dhika hanya nyengir. Ia lagi males berantem.
"Kayak gimana orangnya? Si Ray?" tiba-tiba saja tercetus pertanyaan Arkan yang disesalinya tapi disambut antusias Liam yang ikutan memandang Rendi, penasaran.
"Kami nggak terlalu dekat sih, tapi pernah garap proyek bareng dari prof Martin di kampus. Ray anaknya baik, humble, shabar, 11-12 lah sama aku." Rendi tertawa narsis.
"Ia sayang banget sama April. Pernah sekali nunjukin fotonya sama gadis berbaju SMA, aku kirain adiknya.
Pas mereka telpon, Ray yang kalem bisa berubah jadi cerewet kalau sudah ngobrol sama tunangannya. Yah mungkin sudah takdir, orang baik kadang lebih cepat dipanggil Tuhan."
Hmm... beda banget sifat gue sama si Ray. Yang ada, cewek itu yang stress kalau tahu Oma menjodohkan mereka berdua. Arkan menghabiskan minumannya yang tinggal separuh.
"Syukurlah gue belum bisa jadi orang baik sampai sekarang," Liam tertawa sambil mengeluarkan senyum 'devil'nya.
"Cepet tobat Lu, kali aja malaikatnya khilaf cabut nyawa Lu, pas lu masih banyak dosa," Dhika berujar yang disambut umpatan Liam.
"Trims ya Ren, setidaknya gue juga lebih tenang, gue nggak mau jadi kekasih pengganti. Apalagi cewek bekas orang lain." Arkan mengiris steak tenderloinnya yang baru datang, disambut pandangan heran teman-temannya.
"Maksud Lu?", Dhika dan Liam bertanya berbarengan.
"Ya itu, dia cewek yang bikin gue pusing. Oma mau jodohin gue sama dia."Jawaban Arkan sukses membuat Dhika hampir keselek kentang goreng.
"Nggak ada istilah bekas orang lain, Ar. Ray itu selalu menjaga calon istrinya. Istrinya tuh masih suci.
Bahkan pegangan tangan aja mereka belum pernah karena takut dosa. Ray sih yang pernah cerita, waktu kami 1 pesawat pas pulang ke tanah air." Rendi seolah membela Ray.
"Kayak Lu nggak banyak mantan aja Ar, yang ada gue malah kasihan sama April. April buat gue aja ya, kalau dengar cerita Dee, dia itu loveable.
Meski ngga secantik Dee tapi banyak orang yang sayang sama dia. Lu punya no hpnya ngga? Gue mau kenalan," Liam mencoba memancing Arkan, memanas-manasinya.
"Ini gue ada nomer hpnya kalau mau. Nanti gue kirim, biar Lu bisa kontak dia. Kalian jangan salah paham. Ceritanya rumitlah kenapa gue bisa punya No hpnya" Liam langsung mengambil hp Arkan dan menyimpan no hp April.
Gila, gerak cepat juga nih anak. Padahal Arkan sudah tahu April bukan tipe gadis idaman Liam.
"Ini gue udah kirim pesan ke si April," Liam tersenyum jahil. Mata hitam Arkan membola, melihat isi pesan Liam.
"Halo sweety, ini gue Liam. Gue dapat No hp kamu dari Arkan. Salam kenal." Arkan memandang kesal ke Liam yang seenaknya mencatut namanya.
Matanya setajam pisau yang seakan siap memotong Liam seperti steak yang telah tersaji di depannya.
Sekali lagi Rendi tampil sebagai kakak yang baik, yang menengahi adik-adiknya yang siap berkelahi.
*) humble=rendah hati
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Journey To Love
Storie d'Amore(Cerita Pertama di Wattpad) Perjalanan dua insan merajut cinta menuju ikatan yang suci. Akankah rasa itu hadir ketika mereka berdua bertemu sebagai dua sosok yang berbeda sifat dan kepribadian? Apakah mereka akan terus bersama, ketika kisah masa l...
