Bab 35 | Masa Lalu Asa

14.2K 557 0
                                        

Assalamualikum para reader's sekalian, maaf banget author baru bisa update sekarang ini, soalnya author beberapa hari ini gak megang hp soalnya hp nya author lagi dipinjem sama kakaknya author yang paling ngeselin tapi author sayang he..he.. sekali lagi maaf ya... tapi insyaAllah terbayarkan kok soalnya authorkan udah update lagi he..he..

*  *  *

'Kepahitan masa lalu adalah sebuah awal menuju kebahagian yang hakiki.'

*  *  *

Aby celingukan mencari seseorang yang sedari tadi ia tunggu, dan ketika matanya melihat seorang perempuan yang mengenakan gamis panjang berwarna pink dengan jilbab senada dengan gamisnya, ia langsung menghampirinya.

"Kak Iza."

"iya?." Iza menoleh kearah seseorang yang memanggilnya.

"eh Aby ada apa?." tanyanya ketika melihat orang yang memanggilnya adalah Aby.

"bisa bicara sebentar gak Kak?, ada yang mau gue tanyain. Tentang Asa." melihat Aby yang sepertinya ingin menanyakan hal yang serius, Iza menganggukan kepalanya.

"kita bicara disana saja." Iza menunjuk sebuah bangku panjang yang berada beberapa meter dari mereka.

Mereka pun duduk di bangku panjang itu dengan menyisakan jarak.

"Lo mau tanya apa tentang Asa?."

"Kak gue mau tau masa lalu nya Asa." Kata Aby to the poin.

"Maaf gue gak bisa, lebih baik lo tanyain langsung aja sama Asa. Karena ini bukan hak gue untuk bercerita."

"Asa udah cerita, tapi gue yakin dia belum bercerita sepenuhnya ke gue. Gue ingin tau masa lalu Asa karena setiap malam Asa selalu bermimpi buruk, gue kasihan sama istri gue yang selalu ketakutan, gue mau membantu Asa untuk melupakan semua kejadian buruk yang pernah ia alami. Tolong kak, ceritakan semua masa lalu Asa sama gue. Gue suaminya dan gue berhak tau, gue gak nanya lebih sama Asa karena gue tau Asa enggan untuk kembali bercerita dan mengingat   semua tentang kematian sahabatnya." Aby menatap Iza dengan tatapan memohon, Dia menghela nafas, sepertinya ia memang harus bercerita kepada laki-laki yang memang adalah squami dari sahabatnya itu.

"Baiklah gue akan cerita semuanya sama lo karena memang lo berhak tau." Ia kembali menghela nafasnya, lalu mulai membuka suara.

"Dulu waktu kami masih SMA, kita bertiga yang udah sahabatan sejak kecil memutuskan sekolah di tempat yang sama. Awalnya, semua masa SMA kami yang kita lalui berjalan seperti biasanya, namun setelah kedatangan.. ah-.. nyebut namanya aja gue gak mau, laki-laki yang kami pikir baik karena kami ngeliat dari penampilannya yang sederhana itu ngebuat kami memutuskan untuk menjadikannya teman. Hingga suatu hari saat gue gak masuk sekolah karena sedang jengukin nenek gue yang lagi sakit d-dia laki-laki itu ngajakin Asa dan Ica ke suatu tempat, Asa sama Ica gak tau mau dibawa kemana sama laki-laki itu karena mereka tertidur habis makan coklat pemberian laki-laki itu yang ternyata udah diberi obat tidur. Hingga saat mereka berdua terbangun mereka tau kalau yang nyulik mereka adalah dia, mereka berdua sempat ngelawan dan mencoba buat ngebabasin diri dari laki-laki itu namun dia kayak iblis yang punya banyak kekuatan, tak dapat dibantah dan dilawan. Asa ngelawan dan sempat ngeludahi wajah dia hingga membuat dia marah, laki-laki itu menyeret Ica dan-.." Iza memejamkan matanya sebentar, ia kembali mengingat kilasan memori yang Asa ceritakan kepadanya. Dadanya sesak, ia kembali merindukan Ica sahabatnya itu. Sedangkan Aby menunggu Iza melanjutkan perkataannya.

"Laki-laki itu melakukan perbuatan tidak senonoh sama Ica lalu membunuhnya tepat dihadapan Asa, membuat Asa trauma berkepanjangan dan seringkali melamun menyalahkan diri sendiri atas kematian Ica. Asa selamat karena alhamdulillah Ayah Asa beserta pihak polisi datang diwaktu yang tepat menyelamatkan Asa, setelah kejadian itu Asa selalu berpikir ia yang salah karena gak bisa menjaga Ica dengan baik, beberapa kali Asa seringkali mencoba menghilangkan nyawanya dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri namun alhamdulillah Allah masih memberikan Asa umur yang panjang hingga ia terselamatkan. Asa juga selalu enggan jika ada laki-laki yang mendekatinya, ia akan selalu menghindar. Hingga lo datang dengan tiba-tiba dan selalu ngejar Asa yang membuatnya jengah dengan kelakuan lo dan puncaknya ketika lo ngelamar Asa didepan orangtuanya dan adiknya. Gue bersyukur Asa sekarang semakin mengalami banyak perubahan semenjak dia menikah sama lo, dia sepertinya gak risih lagi kalau lo sama dia berkontak fisik. Namun mimpi itu datang lagi, lo inget gak kenapa waktu pulang dari rumah gue dia kelihatan berubah?." Iza menatap Aby meminta laki-laki itu menjawab pertanyaannya.

Aby mengangguk. "Iya gue inget, dia jadi sering ngelamun dan tiba-tiba kebangun karena mimpi buruk yang gue gak tau apa yang dia mimpiin karena dia gak mau cerita sama gue."

"Entah kenapa kata Asa ia sering ngalamin mimpi buruk tentang masa lalu dan kejadian kematian Ica, gue mohon sama lo tolong bantuin Asa untuk bisa ngelupain mimpi buruk tentang semua kejadian itu dan selalu tenangin dia ketika dia terbangun akan mimpi itu. Asa itu pada dasarnya lemah, ia hanya gak ingin terlihat lemah didepan orang lain. Lo harus selalu berada disamingnya, jagain dia."

"Tanpa lo minta gue pasti akan jagain Asa karena dia tanggung jawab gue dan gue cinta sama dia." Aby berucap mantap membuat Iza melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman.

"Gue percaya lo bisa bahagiain Asa, tolong bahagiain dia jangan sampai lo buat nangis sahabat gue."

"Gue gak bisa janji karena gue hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan khilaf tapi gue akan berusaha untuk bahagiain Asa, gue akan coba Asa buat ngelupain semua masa-masa buruk itu dan yang Asa ingat hanya kebahagiaan."

Iza mengangguk, ia percaya pada laki-laki itu yang akan menjaga dan membahagiakan sahabatnya. Dari dulu ia telah menilai dan mengetahui kalau Aby memang sangat mencintai Asa.

"Kak kenapa laki-laki penyebab kematian Kak Ica dan trauma Asa melakukan penculikan itu?." Aby akhirnya bertanya karena sedari tadi ia penasaran akan hal itu.

"Laki-laki itu ingin balas dendam atas kematian ibunya."

"Maksudnya?." Aby masih tak paham.

"Bunda Asa dan Bunda Ica bersahabat, ketika mereka pulang dari kegiatan rekreasi mereka gak sengaja nabrak seorang perempuan yang ternyata Ibu dari laki-laki itu, makanya laki-laki itu tiba-tiba ingin bersekolah ditempat kami dan ingin berteman dengan kami itu karena murni dari balas dendam. Dan ia juga mengalami gangguan psikis yang membuatnya selalu terobsesi dengan apa yang dia inginkan, dia akan berusaha sekuat mungkin dan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Dan yang lebih parahnya dia terobsesi sama Asa, gue minta lo jagain Asa baik-baik karena kita gak tau sekarang dia ada dimana karena setau gue dia udah bebas dari penjara dengan uang tebusan." Aby merasa takut ketika mendengar ucpan Iza yang terakhir, ia mengkhawatirkan istrinya itu.

Iza melirik jam ditangannya. "Dosen gue sebentar lagi masuk, lo jagain sahabat gue ya, gue percayain dia sama lo. Gue pamit, Assalamualaikum." Iza beranjak.

"Waalaikumsalam."

Setelah kepergian Iza, Aby masih duduk termenung. Seketika rasa khawatir akan kehilangan Asa terbesit di relung hatinya, ia tak mau kehilangan Asa perempuan yang sangat ia cintai itu. Mendengar penjelasan Iza tadi akan masa lalu Asa membuat Aby seperti merasakan apa yang Asa alami, ia seperti merasakan kesedihan dan penderitaan Asa. Ia bertekad ingin membantu istrinya itu menghilangkan bayangan-bayangan masa lalu yang selalu menghantui Asa, Aby menghela nafas, memikirkan semua ini membuat kepalanya sakit seketika. Bagaimana cara agar ia bisa membantu Asa? Sedangkan Asa sendiri selalu menutup dirinya dan menghindar semenjak kepulangan istrinya itu dari rumah sahabatnya, Asa seakan enggan berdekatan dengannya. Jangankan berdekatakn mereka bersitatap saja Asa langsung memalingkan wajahnya, ia merindukan Asa yang dulu, Asa yang cerewet, Asa yang suka memerintah, Asa yang selalu protes, dan Asa yang selalu perhatian kepadanya. Bayangan akan senyum Asa hinggap di dalam fikirannya, namun itu hanya bayangan yang belum menjadi nyata, nyatanya hanya ada gurat kesedihan dan ketakutan yang meliputi wajah istrinya itu, Aby merasakan sakit dibagian dalam dadanya ketika melihat Asa yang selalu melamun, Asa yang selalu murung, Asa yang memaksakan senyum, tak ada Asa yang tersenyum tulus dan lembut lagi. Semua telah berubah hanya karena bayangan mimpu akan masa lalu.

Aby beranjak, ia harus melakukan sesuatu untuk membuat Asa yang ia rindukan kembali lagi, ia merindukan senyum Asa.

Imamku BerondongCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang