Assalamualaikum semua, selamat sore. Maaf author kemarin gak update ya, jangan marah. Soalnya author lagi ada keperluan lain jadi gak sempat buat up. Tapu sekarang udah update kan jadinya gak marah ya kan?....
* * *
'Segigih apapun kamu meminta, aku tidak akan pernah mengabulkannya.'
* * *
Berkali-kali helaan nafas berhembus dari mulut seorang perempuan yang kini tengah memandang sedih sebuah surat yang telah ia tanda tangani, ia menatap seorang laki-laki yang tertidur dengan pulasnya. Berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik bagi hidup laki-laki yang merupakan suaminya itu, ia hanya mencoba meyakinkan hatinya agar berusaha tegar menerima semua keputusan berat yang akan ia ambil ini.
Ini semua demi kebaikannya, kamu harus bisa Asa. Batinnya berusaha meyakinkan diri bahwa keputusan yang akan ia ambil adalah benar.
Ya perempuan itu adalah Asa, jam masih menunjukan pukul 04:17 WIB. Seperti biasanya ia bangun pada pukul 3 dini hari untuk melaksanakan shalat tahajud, setelah selesai dengan semua kegiatan rutinnya ia duduk ditepi ranjang memperhatikam wajah pulas suaminya yang mungkin nanti tak dapat ia lihat lagi untuk selamanya. Keputusan yang ia buat bukanlah keinginannya melainkan ia terpaksa sangat terpaksa menandatangani surat perceraian dan sekarang ia bingung bagaimana cara memberitahu atau memberikan surat cerai ini. Mengatakan kata cerai saja sudah membuat hatinya terasa sesak liar biasa, apalagi jika memang sudah terjadi. Ia tak kan dapat membayangkan bagaimana hidupnya nanti.
Aby mengerjapkan kedua matanya, ia berusaha menajamkan penglihatannya melihat istrinya yang tengah duduk ditepi ranjang dengan tatapan kosongnya, ia mengalihkan pandangannya kesebuah kertas yang dipegang oleh Asa. Seketika dahinya mengernyit, apa isi kertas itu sehingga membuat istrinya itu kelihatan sangat sedih. Dengan perlahan Aby mendudukan dirinya dan menepuk bahu istrinya dengan pelan membuat Asa tersentak kaget, dengan segera ia menyembunyikan kertas itu dibalik punggungnya membuat kernyitan didahi Aby semakin dalam. Ia semakin penasaran dengan isi di kertas itu.
"Apa yang ada dibalik punggungmu?." Asa langsung gugup mendengar pertanyaan Aby.
"Eem, bukan apa-apa." Aby tidak begitu percaya mendengar jawaban Asa, ia mencoba mengambil kertas itu dari tangan Asa namun langsung ditahan oleh perempuan itu.
"Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku ya?."
"E-enggak kok beneran, i-ini cuma kertas tugas yang teman aku titipin aja."
"Yang benar?, tapi kok kamu kelihatan sedih gitu."
"Ya habisnya tugasnya susah sih." Asa mengerucutkam bibirnya.
"Aku kedapur dulu mau masak." Belum sempat Aby menjawab Asa langsung beranjak keluar dari kamar menuju dapur.
"Eh, tapikan ini masih pagi." Gumam Aby.
Pikirannya berkelana tentang setelah istrinya itu pulang dari menemani salah satu temannya yang akan menjenguk neneknya yang sedang sakit, sikap Asa semakin hari semakin aneh. Ia seperti berusaha menjaga jarak dari dirinya, tatapannya selalu kosong, wajahnya murung dan jangan lupakan raut sedih yang terpancar dari aura wajahnya membuatnya merasa ada sesuatu yang terjadi selama istrinya itu pergi dari rumah. Sepertinya ia memang harus mencari tau semuanya.
* * *
Aby keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh yang fresh namun tidak dengan hati dan pikirannya, hatinya masih resah dan pikirannya selalu memikirkan apa yang terjadi sehingga istrinya itu berubah seperti ini. Pandangannya teralihkan terhadap sebuah kertas yang berada didalam laci yang terbuka ketika ia tak sengaja mengalihkan pandangannya ke samping. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia meraih kertas itu dan membukanya dengan perlahan. Tubuhnya menegang ketika membaca sedikit isinya dan melihat sebuah coretan tanda tangan yang sangat ia hafal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imamku Berondong
SpiritualSalsabilla Anandya Putri terpaksa harus menikah dengan Abyanata Darmawan, seorang adik tingkat ditempatnya kuliah yang tiba-tiba saja mengejarnya. Ketika laki-laki itu tiba-tiba saja melamarnya didepan keluarganya, akhirnya dengan bujuk rayu dan kar...
