Assalamualaikum, alhamdulillah bisa up lagi..yang pada nungguin update nya cepet sabar ya... soalnya author lagi bingung nyari bahan cerita untuk Bab ke depannya, tapi insyaallah gak bakal lama kok... Jadi ditunggu ya...
* * *
Kendaraan-kendaraan berlalu lalang lewat indera penglihatan Asa, ia menutup jendela kaca mobil ketika debu dan asap motor menghalau indera penciumannya. Aby yang melihat Asa terbatuk-batuk pun terkekeh kecil.
"aku bilang juga apa, kacanya ditutup. Batuk kan akhirnya." Asa mendengus mendengar ucapan Aby.
"ya kan aku cuma pingin liat aja, salah?."
"salah sih enggak, tapi kan tuh kamu jadi batuk karena gak dengerin ucapan aku."
"iya-iya."
Aby memarkirkan mobilnya di halaman rumah Asa, ia turun terlebih dahulu dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Asa sebelum perempuan itu membuka pintunya sendiri.
"makasih."
Aby mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju rumah Asa.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Suci tergopoh-gopoh ketika mendengar ucapan salam dari suara yang ia kenal, senyumnya mengembang ketika melihat Asa dan Aby berdiri didepan pintu. Asa yang melihat Suci pun menghampiri sang Bunda lalu mencium punggung tangan Suci diikuti Aby. Asa langsung memeluk Suci dengan erat.
"Bunda, Asa kangen Bunda." rengek Asa, Aby dan Suci tertawa mendengar rengekan Asa.
"manja banget sih anak Bunda, gak malu apa diliatin sama suami kamu."
Asa melirik kearah Aby dengan keadaan masih memeluk Suci.
"biarinlah, udah lihat ini. Udah terlanjur." cuek Asa.
Suci tertawa. "kalau kangen makanya sering-sering main kesini, Bunda juga kangen sama Aby." Suci melirik Aby yang tersenyum.
"lah kok kangennya sama Aby sih Bun, Asa yang anak Bunda loh bukannya Aby kalau Bunda lupa." protes Asa.
"iya-iya Bunda gak lupa hanya gak ingat."
"sama aja Bunda..."
"udah-udah kok malah bahas yang gak penting gini, yuk masuk."
Suci, Aby dan Asa berjalan beriringan memasuki rumah lalu mendudukan diri mereka di sofa ruang keluarga, Asa mengedarkan pandangannya mencari sesuatu.
"Lyana sama Ayah mana Bun?."
"Lyana ada dikamarnya, kalau Ayah belum pulang." aku mengangguk.
Lyana yang ingin turun untuk mengambil air minum langsung berlari ketika samar-samar mendengar suara yang ia kenali di ruang keluarga.
"hai Kak Aby, Kak Asa..." Lyana duduk tepat disamping Asa.
"baru juga diomongin udah nongol ini anaknya."
"wah-wah dibelakang aku kalian pada ngomongin aku ya?. Ngomongin apa hayo?." Lyana memicingkan matanya.
"ih PD banget sih dek."
"lah tuh barusan Bunda bilang kalian pada ngomongin aku, bukan aku dong yang kepedean." Lyana bersedekap dada. Asa melihat Lyana seraya berdecak.
"gak percayaan banget sih dek, orang tadi cuma nanya kamu dimana?. Gitu doang, makanya PD nya itu jangan terlalu akut." Asa menyentil dahi Lyana hingga membuat adiknya itu meringis.
"sakit kali kak."
"bodo." Asa berdiri, berjalan menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering ia ingin mengambil jus untuknya dan untuk Aby.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imamku Berondong
SpiritualeSalsabilla Anandya Putri terpaksa harus menikah dengan Abyanata Darmawan, seorang adik tingkat ditempatnya kuliah yang tiba-tiba saja mengejarnya. Ketika laki-laki itu tiba-tiba saja melamarnya didepan keluarganya, akhirnya dengan bujuk rayu dan kar...
