Aku terbangun dengan keadaan tidak enak badan, padahal sebentar lagi akan ada eliminasi ketiga, dan aku berniat untuk menghadirinya lagi.
Pada saat kumpul sarapan pagi, aku menyadari kalau jumlah traineenya berkurang.
Dari 31 jadi tinggal 30.
"Siapa yang ga ada?"
"Yunseong-hyung," jawab Minhee spontan.
"Kemana?"
"Rumah sakit, kemarin orangtuanya nyuruh ke rumah sakit." jawabnya lagi. "Oh yang tadi pagi keluar tuh Yunseong?" tanya Yohan. "Kayaknya iya," jawab Junho.
"Na"
"apa?"
"Hwang Yunseong Woollim Ent. Masuk rumah sakit?"
"iya, lagi kurang enak badan, tapi sakitnya engga parah."
"Boleh ngejenguk?"
"ga dirawat kok,"
"Nanti balik lagi?"
"Iyalah"
Una langsung mematikan teleponnya karena dia lagi sibuk, aku ngehela nafas dan akhirnya menyandarkan diri ke sofa.
Aku takut, padahal rasanya aku udah berusaha sebisa aku biar mereka ga sakit, mulai dari nganterin makanan sampai monitoring jam tidur.
Tapi ternyata usahaku ga cukup.
"Kata Yunseong-hyung jangan khawatir, nanti juga dia balik lagi, cuma kurang enak badan." Junho yang duduk di sebelahku sepertinya sadar kalau aku lagi mikirin Yunseong.
Kekhawatiranku emang belakangan ini memuncak, berat badan seluruh trainee itu pada turun selama ikut pelatihan di produce, kecuali Eunsang dan Jinwoo, mungkin karena mereka inisiatif makan banyak.
Yunseong, Hyungjun, Mingyu, Jinhyuk dan beberapa trainee lainnya bahkan keliatan banget sekarang tuh pipi mereka tambah tirus, walaupun ga ngurangin ketampanan mereka, tapi sedih ngeliatnya.
"Noona," Junho menaruh tangannya di bahuku, menyadarkanku dari lamunan. "Jangan khawatir," Junho tersenyum.
Semakin kesini anak ini menjadi lebih ekspresif, aku bersyukur pada Yohan yang berhasil memancing kebobrokkan anak ini keluar.
"Ga khawatir," aku tersenyum ke arah lelaki bermarga Cha itu. "Masa? Juno ini peka tau, pasti noona lagi mikirin kak yunseong kan?" ucap Junho, matanya membulat.
Sejak kapan junho jadi semanis ini?
"Iya sih, khawatir, dikit." aku tertawa agar Jungo tidak terlalu khawatir. "Kak Yunseong juga tau kalo noona bakal khawatir, makanya dia bilang dulu ke yang lain." balas Junho, senyum manis. "Iya, makasih Juno," aku mengusak kepala Junho dengan lembut.
Malamnya, aku sedang berkeliaran di dorm, niatnya nyari trainee buat dipalak persediaan makanannya, tapi ga ketemu-ketemu, karna mereka lagi pada miskin, dan akhirnya aku jalan ke kantin.
"Ngga bu," suara Yunseong terdengar dari dalam kantin. Aku terdiam sesaat di ambang pintu, takut ganggu, soalnya Yunseong kayak yang lagi nelepon.
"Ngga mau, Yunseong gak bakal berhenti disini."
"Ga apa apa bu, cuma flu biasa."
"Ibu jangan khawatir, tinggal dikit lagi kok."
"Kalau gak debut juga Yunseong gapapa,"
"Iya bu, Yunseong bakal pulang dulu setelah pengumuman line-debut, pokoknya Yunseong engga mau berhenti kalo sekarang."
"Tenang bu, ada yang ngurusin Yunseong kok,"
"Hm, nanti Yunseong kabarin kalau Yunseong berubah pikiran."
"Iya, Yunseong juga sayang ibu."
"Malem, bu."
Lalu itulah serangkai kalimat terakhir yang kedengeran, bentar lagi pasti Yunseong jalan keluar dari kantin.
Aku mendadak panik, rasanya ga seharusnya aku nguping pembicaraan Yunseong sama ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My X Mentor || Produce X 101 Imagine
Fanfiction[END] Pulang kuliah, kamu ngerasa capek banget dan memutuskan untuk cepet-cepet istirahat di rumah. Untungnya, hari ini adalah hari pertama acara yang kamu tunggu-tunggu ditayangin, Produce X 101! Kamu udah duduk manis di depan meja belajar di kamar...
