Bagian #2

3.5K 382 42
                                        

Mutiara Habiba 🥋

Kembali dengan Mutiara Habiba, si Taekwondoin yang katanya lebih mirip admin lambe turah. Padahal kan bener juga sih, ah, tapi nggak separah itu kok.

Tentu ketika membaca cerita yang pertama tahu siapa aku, teman baiknya Defia Rosmaniar, itu, istrinya Hanif Abdurrauf Sjahdbandi yang sudah berpikiran untuk pensiun tahun 2020an mungkin.

Rasanya seperti baru kemarin kita semua berkumpul di Wisma Atlet untuk persiapan Asian Games. Eh kali ini sudah beda tahun, dan sudah berbeda program. Ini program pertama kerjasama Kemenpora dengan federasi-federasi olahraga untuk rutin mengadakan traning camp di Wisma Atlet setiap satu bulan sekali, tapi tergantung federasi juga.

Aku menunggu Defia di depan Wisma Atlet, baru saja aku turun dari taksi online. Di tepi jalan dengan koper hitam, celana  yang cukup menggantung bahannya, sneakers putih, kaos bergaris warna cokelat dan jaket jeans di pinggang.

"Selamat malam, Kak," sapa seseorang lewat di samping kiriku.

"Eh, iya ma..." Melihat sekeliling dulu, takutnya pas mau jawab ternyata bukan ke aku. Tapi memang hanya ada aku, gimana dong? Ah tapi dia menunduk di depanku, masa' iya menyapaku tapi tidak melihatku? Ah, dia sudah lewat juga kenapa ribet sih? Dasar aku.

Menunggu beberapa menit dan akhirnya si Nyonya Sjahbandi datang dengan ceria.

"Aaaaaa, Muti!" pekiknya membuka pintu taksi.

"Uhhh, kangen, Def," memeluknya.

"Tapi gue lebih kangen suami gue sih, dia di Malang, gue di Bogor, ketemu cuma di Wisma Atlet."

"Tetep ya, suaminya. Ah, emang sih kebijakan Kemenpora yang satu ini menguntungkan banget buat kalian-kalian yang LDR sebenarnya. Pro banget sih."

Defia tersenyum. "Kaya lo kagak aja, kan LDR juga sama Bagas," mengejek dengan bola matanya.

"Uh iya ya, Bagasku Zheyeng," candaku melangkah ceria menuju lobby utama wisma atlet.

Defia menggeleng di belakangku. Calon emak-emak yang narik koper sekecil itu aja ngos-ngosan. Menikah memang merubah segalanya.

"Malam, Kak," sapa seorang anak kecil yang potongannya mirip biksu tong, badan kurus, kulit hitam, dengan polo shirt hijau berlambang garuda di dada.

"Eh iya, malam," jawabku.

"Siapa?" tanya Defia.

"Mana kutahu. Atlet apaan ya kira-kira, kek kurang gizi gitu, kurus kering kerontang, ha ha ha," candaku.

"Mari, Kak," sapa seorang anak kecil dengan pakaian sama, rambut sedikit lebih panjang, sudah berkumis tipis, kulit sawo matang.

"Mari," jawabku dan Defia.

"Kenal?" tanya Defia lagi.

"Kagak."

"Kok nyapa sih dia?"

Menggeleng. "Mana aku tahu!"

"Mari, Kak," sapa lagi beberapa orang yang berjalan ke luar.

"Malam, Kak," sapa lagi pasukan yang lain.

"Iya, mari, malam," jawabku dan Defia kompak.

"Em," ada yang tiba-tiba mendekati Defia sambil menundukkan kepala. "Kakak peraih emas Asian Games kan?" tanya anak kecil yang yah lumayan ganteng.

"Iya," jawab Defia bingung.

"Saya Brylian Aldama, Kak. Boleh minta foto bareng? Istrinya Bang Hanif kan? Em, saya Adik tingkatnya Bang Hanif di Bola, saya Timnas U-18," katanya menjulurkan tangan.

Bagas vs Muti (WALS 2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang