Bagian #14

2.7K 334 12
                                        

Mutiara Habiba 🥋

Bagas, dia itu definisi sahabat baruku yang menyenangkan. Kami suka bercanda, bersenda gurau, berbagi keluh kesah sebagai atlet, tepat lariku jika ada komentar bernada miring, begitupun sebaliknya. Kami adalah sahabat yang saling melengkapi satu sama lain. Tentu kami semua adalah sahabat yang saling mensupport satu sama lain. Bagas selalu mendukungku, akupun begitu. Defia selalu mendukungku, akupun begitu. Kevin selalu mendukungku, akupun begitu. Semuanya serba mendukung.

Pada intinya tak hanya aku dan Bagas yang saling mendukung. Kita semua saling mendukung, sesama atlet. Ya, mungkin bedanya aku nyaman dengan Bagas. Tunggu, apa? Ah, maksudnya aku nyaman sebagai temannya, sebagai tempat berbaginya dan sebagai teman baiknya. Kami selalu berbagi.

Hanya saja, detik ini ada yang mengganggu pikiranku. Bagas selalu bercerita denganku tentang apapun, tapi dia tidak pernah bercerita perihal mantannya yang masih sering mengirim pesan singkat padanya. Padahal aku selalu berbagi apapun dengannya, tapi dia kebalikannya. Apa hanya aku yang butuh berbagi sementara dia tidak? Apakah pertemanan kami sebenarnya sudah tidak sebaik yang lalu?

"Kenapa lo?" tanya Defia baru saja selesai mandi. Anak itu tidak takut tulangnya terkena rematik jam segini? Katanya karena dia akan sulit tidur jika badannya lengket. Jadi, dia yang terlalu bersih atau aku yang terlalu jorok?

Aku diam.

Sebenarnya banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepalaku, banyak sekali. Sayangnya, semua pertanyaan itu adalah pertanyaan untuk mata pelajaran Per-Bagas-an Duniawi. Katakanlah semuanya tentang Bagas, Bagas, dan Bagas.

"Mikirin Bagas?"

Fix, anaknya Defia sama Hanif besok pasti penerusnya Mbah Mijan. Dia tahu apa yang aku pikirkan loh.

"Iya nih, pasti. Kenapa sih?"

"Sok tahu banget sih! Memangnya tidak ada yang lain untuk bisa dipikirkan selain Bagas?"

Besok, pasti Allah Swt. pasti pertama kali menghukum mulutku karena sering berdusta, bahkan mendustakan dirinya sendiri.

"Terus apa?"

Aku diam. Selamanya akan diam. Pasti habis diketawain Defia kalau membuka mulut sedikit saja dengan jujur. Ini yang namanya, jujur malah jadi ajur.

Sampai akhirnya Defia menyerah, lebih tepatnya, dia bosan  memperdulikanku. Dia memilih untuk berkirim pesan dengan suaminya, hingga dia terlelap di tempat tidurnya. Aku? Ya, tentu aku masih sibuk dengan pertanyaan perihal Per-Bagas-an Duniawi.

Jam demi jam berlalu, bintang demi bintang hilang dan tenggelam, kemacetan semakin terurai oleh rasa kantuk manusia, dan lampu-lampu mulai padam dalam rangka penghematan. Aku mulai bosan dengan kecamuk pertanyaan.

"Def, tolong dong lo tanyain ke suami lo. Bagas niat balikan sama mantannya nggak sih? Kok dia nggak cerita ya? Aku ini dianggap apa?" gumamku pada Defia yang masih memejamkan mata.

Ya, aku lebih gila dari seseorang yang menderita gangguan jiwa (ODGJ). Seorang ODGJ terkadang sadar bahwa dia memiliki kekurangan dengan mentalnya, tapi aku lebih parah dari itu. Tanpa merendahkan seseorang yang terkena ODGJ, mereka sama saja dengan kita, hanya saja mereka membutuhkan kita untuk sembuh. Tapi sepertinya aku jauh lebih parah dari mereka, ngapain orang tidur diajak bicara?

Menghela napas. "Gas, Bagas. Kalau lo mau balikan sama mantan, setidaknya cerita dong ya?" gumamku lagi.

Defia membuka matanya tiba-tiba, seperti film-film horor Suzana, pelototan matanya benar-benar membuatku kaget.

"Lo ngomong apa tadi?" tanyanya menoleh padaku.

Dahiku mengernyit. Tidak mungkin dia mendengarnya kan?

Bagas vs Muti (WALS 2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang