Bagas Adi Nugroho ⚽
Setelah diganggu Muti dan mengganggu Muti, aku melanjutkan berkemas. Bukan akan rindu Muti, itu bercanda. Tapi memang benar aku akan rindu semua temanku di sini, termasuk Muti. Rindu sebagai teman dan pasangan itu berbeda kan? Lagi pula, itu anak kenapa harus datang ke kamarku dan meminta penjelasan? Aku hanya malu karena kejadian tadi pagi, takut dia berpikir aku benar-benar menyukainya, dan kenyatannya dia memang berpikir begitu. Kenapa perempuan mudah sekali terbawa perasaan padahal sedang dalam masa candaan?
Namun, wajah tegang Muti ketika aku mengatakan akan merindukannya tadi terlihat sangat lucu. Dia pasti memikirkan hal yang serius. Ah, tapi kita sering kali bercanda, kenapa harus serius di waktu yang tidak tepat?
"Muti lo apain?" tanya Andy datang dari luar.
"Kagak gue apa-apain."
"Istighfar terus dia, jangan-jangan lo lecehkan ya?" tuduh Andy.
"Eh coba," mendekati Andy. "Kok lidah lo putih? Lo tipes ya?"
"Ha?" Andy terlihat bingung.
"Coba julurin lidah lo! Beneran deh, putih gitu kelihatannya."
"Masa?" Andy mulai panik. "Tapi gue ngerasa sehat banget."
"Ah, seriusan gue. Cepet!"
Andy menuruti perintahku.
"Nih, makan nih kaos kaki!" kataku menyumpalkan kaos kaki yang baru saja kering ke mulutnya. "Kalau ngomong seenaknya aja! Sebejat-bejatnya gue sebagai laki-laki, sebisa mungkin jauh-jauh dari yang namanya melecehkan perempuan. Gue nggak sehina itu!" tegasku.
"Pehhhh!" membuang kaos kakiku, dan langsung berlari ke kamar mandi, berkumur-kumur sebanyak mungkin. "Gila lo! Gue kan bercanda dong!" Dan lain sebagainya berikut daftar absen kebun binatang.
Pendek waktu, malam telah tiba, dengan keputusan bersama, kami semua berkumpul usai azan Isya. Guna mengucapkan salam perpisahan masing-masing dan sampai jumpa lagi bulan depan. Dengan pemikiran, siapa saja bisa masuk dan keluar dari pelatnas tetapi kita yang saling mengenal tidak akan saling melupakan.
Aku turun bersama rombonganku dari tim sepak bola.
"Bang Bagas udah ditinggal temen-temennya yang crazy rich itu, sekarang balik lagi sama temen-temennya di sepak bola, Bang?" tanya Valeron dengan polosnya.
"Ya Allah, Ya Tuhanku, Ya Rahman, Ya Rahim, berapa kali harus kukatakan, hamba-Mu ini tidak saling membenci dan tidak saling mencederai," keluhku keras-keras sampai semua pemain sepak bola yang berjalan bersama menuju aula menoleh padaku.
Muti dari kejauhan juga menatapku, tertangkap jelas oleh mataku, tapi dia langsung melengos. Mulai sombong memang dia. Lihat saja, jika bercandaku seperti biasanya membuatnya terbawa perasaan, aku bisa lebih parah dari itu. He he, sedikit jahil. Dia lucu sekali sih, dia yang mulai bercanda dia yang baper juga.
Aku berlari mendekati Muti dengan semua rencanaku. Langsung menggandeng tangannya lalu berbisik. "Maukah kamu duduk di sebelahku?"
Muti mengibaskan tangannya.
"Muti, aku serius. Kenapa keseriusanku hanya lelucon untukmu?" Menghadang langkahnya yang hendak menjauh.
"Sudah aku-kamu aja tuh, Nuurrrrrr!" Aero menyindir dari belakangku. Dia tadi bermain hape, bagaimana bisa dia mendengarkan kalimatku dengan baik. Jiwa gosipnya memang bukan yang recehan.
"Kita lihat saja, sejauh mana bercandaan mereka bertahan," Andy membalas dari kejauhan.
Muti tiba-tiba menggandeng tanganku lagi. "Baiklah, jangan pernah jauh dariku. Nanti kamu rindu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bagas vs Muti (WALS 2)
FanfictionBila cinta tolong katakan tanpa tawa. Bila tidak, tolong jangan ajak hati ini bercanda. Wisma Atlet Love Story 2 mengisahkan bagaimana 2 lambe wisma atlet menuju kata satu. Dan dalam kisah ini, semua generasi atlet ikut andil. Jadi jangan lewatkan s...
