Bagian #39

2.3K 279 48
                                        

Bagas Adi Nugroho ⚽

Siang yang terik, menyiksa sekali, memelintir hati yang tulus, keseriusan dianggap pergumulan candaan, entahlah, hari ini lengkap sekali. Disaat aku merasa yakin, Muti justru tidak yakin. Saat aku serius, dia justru mentertawakan aku. Dulu rasanya kami kompak sekali, kenapa sekarang kami berbanding terbalik? Dan untuk membuatnya percaya, aku harus lompat dari atas gedung Wisma Atlet. Gila, aku bukan kucing yang nyawanya ada tujuh. Aku juga bukan Spiderman juga yang kalau melompat bisa langsung terbang.

"Lo kesambet apaan sih, Gas? Syok gue!" tegur Kevin mengikuti langkahku hendak kembali ke kamar. 

"Ya, gue udah sadar gitu kalau gue jatuh cinta sama Muti. Keburu hilang kesempatan," balasku jongkok di pojokan lift.

Kevin menatapku, lalu mentertawakan aku. "Ya tapi nggak gitu caranya, Bagas. Lo siapin mateng-mateng kek caranya nembak gimana. Masa langsung nanya mau nggak jadi pacar gue, lah cewek ya takut lah! Lo kaya nggak pernah pacaran tahu, nggak?"

"Noob dia soal cewek. Gila, ibaratkan lagi main game online, temannya dibunuh sendiri sama dia. Untung jantung Muti buatan Tuhan, coba kalau buatan China, sudah mati dia, udah kena corona, udah kena SARS itu tadi." Andy tak mau kalah.

Ucok bin Coki-coki sepertinya juga sedang menyiapkan orasinya untukku. "Lah iya, gue kaget tahu, nggak? Kan gue lagi main truth or dare sama Melati, Zahra, Ruhil, dan MA Wahyu juga di depan kamarnya Muti. Tiba-tiba Bagas turun, lari-larian gitu, terus dia ngetuk pintu, dan pas Muti buka tuh pintu, langsung ngomong, Mut, lo mau nggak jadi pacar gue? Terus gue, Wahyu, Melati, Zahra sama Ruhil, langsung noleh, like ngefreeze gitu, terus ngomong what the f*ck."

Lihat bahasanya Ucokbin Coki-coki ini, tinggal bilang seperti membeku aja pakai bahasa like ngefreeze. Bahasa belum benar juga.

"Makanya gue langsung telepon elo tadi. Malah kagak percayaan sama gue. Emang gitu lo, Mpin, kagak percayaan sama gue."

"Ya, lo kan usil. Nggak mudah buat gue percaya."

"Yah, yah, kagak ngaca lu. Lo kan yang paling tengil bin usil di Cipayung. Dicari Juned tuh, diajak baku hantam di lapangan!" 

"Yaelah, dicari Zheng Siwei tuh, suruh belajar teknik error."

Kevin mungkin sedang menyindir karena Praveen Jordan sering sekali mengalami eror di lapangan. Katanya, smash-nya baik tapi erornya juga tidak kalah  baik. 

"Kaya nggak pernah error aja lo!" 

"Tapi banyakan elo!" Kevin menjulurkan lidahnya. 

"Ya, mending sih, daripada banyak musuh di lapangan."

"Ya, kalau di lapangan emang musuh semua kali. Temen gue di luar lapangan banyak, ye. Popor Sapsiree sama Chen Qing Chen aja temenan sama gue, mau pesen Vinion gue dong."

Untuk informasi, Popor Sapsiree itu atlet bulutangkis putri dari Thailand dan Chen Qing Chen adalah atlet bulu tangkis dari China. Zheng Siwei itu atlet dari China di sektor ganda campuran bersama Huang Yaqiong, kudengar peringkat satu dunia. Juned, nama aslinya Li Junhuit tapi di oleh Badminton Lovers Indonesia dipanggil Babang Juned, dia atlet ganda putra dari China yang dipasangkan dengan Liu Yuchen. Jika Kevin dan Koh Sinyo punya julukan The Minions, Koh Hen dan Babah Ahsan punya julukan The Daddies, Li Junhui dan Liu Yuchen ini sering disebut Twin Towers. Terakhir, Vinion itu merk susu kekinian yang dijual oleh Kevin. Mungkin kalian bisa melihatnya sendiri di instagram. 

"Yaelah gitu doang congkak lo, Kang Susu! Gue mantannya Huang Yaqiong aja kagak pernah congkak."

"Lah, emang merem tuh matanya Huang Yaqiong, cantik gitu mau sama  lo? Lo sama Yuta Watanabe aja gantengan, Yuta."

Bagas vs Muti (WALS 2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang