Bagas Adi Nugroho ⚽
Emosiku sudah ada di ujung ubun-ubun, sudah berasap, siap terbakar dengan kepalan tangan. Awas saja, bisa kupastikan si Fajar tidak lagi diminati Cheng Qingchen, kalah dia sama si Junaedi. Astaghfirullah, kok paham banget aku soal kehaluan badminton lovers itu? Maaf, sering terkontaminasi oleh Kevin dan Fajar sendiri, mereka sering baca meme-meme diri mereka sendiri di Instagram. Membuatku banyak tahu soal bulutangkis dan atlet-atletnya, tak hanya atlet nasional, tapi internasional juga. Setidaknya beberapa.
"Fajaaaaaarrrrr!" pekikku lagi di depan pintu kamarnya yang sudah terbuka. Kevin? Kalian tahu dia masih memegangi kakiku, dengan mata berkaca-kaca penuh harapan dan wajah memelas tapi herannya, masih tetap ganteng.
"Kagak ada di kamar dia, katanya mau ke tempat Koh Jeng," jawab Rian baru keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk putihnya.
"Buset, roommate gue, kok nambah glowing dan uwu banget sih lo?" puji Kevin membuatku refleks menepuk bibirnya. Ini atlet kelas dunia tidak ada wibawanya sama sekali. "Awwww, kan sakit bibir seksi gue, Gas."
"Hishhhh! Lo nambah-nambah tingkat kejijikan gue sama lo! Lepas kagak!" bentakku.
Kevin perlahan melepas kakiku, sembari berjongkok dengan wajah pasrahnya.
Aku langsung melangkah keluar, meninggalkan kamar Fajar dan Rian, menuju ke kamar Koh Hendra dan Babah Ahsan.
"Jom, bantuin gue, Jom. Itu si Fajar habis ini wafat kayanya dia, Jom!" kata Kevin saat aku baru saja memulai lima langkahku.
"Fajaaaaaarrrrr!" teriakku masih di lorong, masih dalam perjalanan. Terlihat garang pasti. Tapi setelah sampai di depan pintu kamar Koh Hendra, aku ketuk pelan-pelan, diikuti Kevin dan si Jom masih dengan handuknya. Kupikir otak si Jom agak miring, kenapa dia tidak ganti baju dulu?
"Sabar ye, Gas, sabar. Gue masih butuh partner, gue juga belum sempat meresmikan pembagian harta gono gini Fajri Coffee," ujar Rian memegangi pergelangan tanganku.
Bukan, bukan jijik sama tangannya yang memegangiku, bukan ingin ketawa karena ucapannya, tapi lebih pada penampilannya. Kenapa sih atlet di sini tidak punya wibawa semua?
"Harta gono gini? Emang lo nikah sama Fajar?" tegur Kevin pada Rian.
Aku menggeleng heran. Mengetuk pintu lagi. "Koh Hen, permisi," sapaku pelan.
"Kenapa, Bang?" Yang membuka pintunya justru pemain junior cabang bulutangkis, Leo Rolly Carnado.
"Fajar di mana?" tanyaku berubah ketus.
"Ada di dalem."
"Koh Hen sama Babah ada?"
Menggeleng. "Lagi mau nyari minum tadi katanya. Padahal pesen gofud aja abangnya mau nganter ke sini tapi malah lebih pilih..."
"Minggir!" potongku harus cepat menindak Fajar, karena dapat dipastikan gagal menindak kalau ada Babah dan Koh Hen di sini. Bisa dapat ceramah masal aku. "Fajarrrrrr!" berteriak sekeras mungkin.
"Sabar, sabar, Gas, istighfar." Rian menarik bajuku.
Leo melongo. "Mas Jom, nggak niat pakai baju dulu, Mas?"
"Udah pakai baju!" jawabnya. Ini kalau aku sedang tidak emosi, pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Baju apanya? Itu handuk sekali melorot membuat wibawanya benar-benar nol.
Kita semua gaduh-gaduh, aku penuh emosi, Kevin dan Rian panik. Leo dan Daniel Martin kebingungan. Kalian tahu Fajar sedang apa? Pura-pura tidur. Memang minta mati itu anak.
"Fajar!" bentakku menarik tangannya. "Lo gila ya, kenapa lo bocorin? Sumpah mulut lo bocornya setara luas lautan di bumi!"
"Kenapa?" Sok-sokan tidak tahu apa-apa. Coba kalian jadi aku? Apa yang akan kalian lakukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Bagas vs Muti (WALS 2)
FanfictionBila cinta tolong katakan tanpa tawa. Bila tidak, tolong jangan ajak hati ini bercanda. Wisma Atlet Love Story 2 mengisahkan bagaimana 2 lambe wisma atlet menuju kata satu. Dan dalam kisah ini, semua generasi atlet ikut andil. Jadi jangan lewatkan s...
