Mutiara Habiba 🥋
Masih terbayang bagaimana wajah Bagas yang panik dan langsung bersembunyi di balik Kevin tadi pagi, kenapa harus semalu itu? Ah, tapi aku juga tidak siap bertemu dengannya. Lagipula, dia biasanya ceplas-ceplos, kenapa harus lewat orang lain juga aku tahu kabar semacam itu? Sudah aku putuskan, menganggapnya hanya bercanda, ya, aku yakin dia hanya bercanda. Baik lah, bisa aku ikuti permainannya.
"Mut, si lantai empat geger mulu tahu," bisik MA Wahyu di sela latihan.
"Lantai empat? Kenapa memangnya?" tanyaku.
"Ya, perkara Fajar sama si Bagas. Bagas marah banget sama Fajar, tapi gue cuma lihat sekilas sih. Habis mau ikut nimbrung udah diurus sama anak bulu tangkis sama sepak bola. Lebih-lebih diurus Cik Butet, Koh Hendra, sama Babah Ahsan, makin nggak berani gue buat nguping. Gue denger-denger sih si Bagas beneran suka sama lo, terus sama Koh Hendra disuruh mikir langkah selanjutnya buat memperjelas semacam apa perasaan itu," jelas Wahyu panjang lebar.
Aku menghela napas. "Lo ngarang."
"Dari sumber terpercaya. Sebagian anak Timnas U-19 itu ada di lantai lima, satu lantai sama gue. Tengah malam biasanya mereka rumpi di kamar Kaptennya di lantai lima. Terus kemarin sih kebetulan habis magrib gitu mereka ngomongin di lorong, soalnya diusir Kaptennya sendiri, nggak doyan ghibah kayanya Kaptennya. Padahal ghibah kan nikmat, ha ha ha."
Menggeleng heran. Anak-anak usia 17-19 tahun itu doyan sekali membicarakan orang. Mungkin lebih parah dari kebiasaanku menjadi lambe murah. Giliran aku mau pensiun jadi lambe murah, eh, si lambe-lambe baru muncul juga.
"Lo sendiri, gimana? Suka sama Bagas?"
Aku yang tengah menegak minuman langsung tersedak, sampai airnya masih ke dalam hidung. "Uhuk, aduh, pening pala gue," keluhku karena aliran dari hidung yang kemasukan air sakitnya hingga ke kepala.
MA Wahyu bergegas mencarikan tisu untukku. "Gitu doang padahal pertanyaannya," gumamnya mengelap wajahku yang basah, termasuk dagu dan area hidung. "Kalau lo suka sama Bagas, ya gasin aja. Kalau lo nggak suka, ada seseorang yang suka sama lo diem-diem."
Menghela napas. "Lo mau latihan apa ngerumpi?" tanyaku berharap dapat menghentikan segala macam percakapan kali ini.
"Baiklah," balasnya lantas menjauh dariku.
Usai latihan, kami kembali ke Wisma Atlet sebelum azan Zuhur berkumandang. Begitu sampai langsung istirahat, mandi, salat, baru menuju ke aula Wisma Atlet untuk makan siang. Sama seperti hari-hari biasa, begitu ramai meskipun beberapa junior bulu tangkis tidak ada, kabarnya sedang ada turnamen junior, berangkat tadi pagi.
"Mut," sapa Kevin Sanjaya dengan wajah tampannya. "Main PUBG yuk habis ini, Bagas hampir mati soalnya dia."
Aku menghentikan langkahku. "Kenapa? Sakit dia?"
Kevin justru tertawa. "Hatinya berdarah-darah, wajahnya terinjak-injak, harga dirinya terperosok."
Menghela napas.
"Ya, dia pusing mikirin lo. Nggak sanggup dia mau makan ke sini aja."
"Bukannya karena marahan sama Fajar?"
Kevin mengambilkan piring untukku setelah kami kembali berjalan. "Tadinya, tapi sudah baikan kok. Tuh Fajar ambil dua piring buat dimakan sama Bagas di kamar. Nggak sanggup beneran dia buat turun terus ketemu sama lo."
"Kenapa gitu?"
"Mut, gue mutilasi lo aja gimana? Mau nggak?"
"Bagas malu ketemu lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bagas vs Muti (WALS 2)
FanfictionBila cinta tolong katakan tanpa tawa. Bila tidak, tolong jangan ajak hati ini bercanda. Wisma Atlet Love Story 2 mengisahkan bagaimana 2 lambe wisma atlet menuju kata satu. Dan dalam kisah ini, semua generasi atlet ikut andil. Jadi jangan lewatkan s...
