Chapter 2

272K 7.5K 302
                                        

"Hai Van," sapa Julian—teman kampus Vani.

Pertama kali mereka bertemu ketika kegiatan OSPEK. Vani merasa kalau Julian selalu mencari kesempatan untuk mendekati dirinya. Bukannya ia terlalu percaya diri, tetapi kenyataannya seperti itu. Julian selalu muncul ketika Vani sedang sendiri, seperti hantu saja bukan? Dan sekarang ketika Vani berjalan sendirian, dia muncul tepat di samping gadis itu.

"Oh, hai Jul," balas Vani.

"Sendirian?"

"Menurut lo?"

"Galak amat si, Van." Julian terkekeh.

"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Vani dengan nada galak.

"Suka-suka gue-lah."

Vani menghentikan langkahnya, lalu mendongak pada Julian.

"Udah deh, Jul. Kelas lo bukan di sini. sana pergi!" Vani mendorong tubuh tegap julian menjauh agar tidak mengikutinya.

Mereka berbeda fakultas, Julian merupakan mahasiswa Fakultas Teknik dan Vani merupakan mahasiswi Fakultas Ekonomi. Gedung kelas keduanya memang bersebelahan, jadi bukan hal aneh jika mahasiswa teknik berada di kantin ekonomi atau berkeliaran di gedung ekonomi.

Julian yang didorong merasa senang karena jarang-jarang ia bisa merasakan tangan Vani menyentuh punggungnya. Vani kemudian berbalik menuju kelas. Sesekali ia tersenyum menyapa teman-temannya yang berada di sepanjang koridor. Ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

¤♥¤

Suara ribut terjadi di ruang kelas mata kuliah akuntansi, karena sampai sekarang dosen belum juga datang.

"Tau gini gue berangkat siang tadi," sungut Vani sambil menelungkupkan kepala ke lengannya.

Tiba-tiba kelas yang ribut menjadi hening, tapi terdengar suara decak kagum dari beberapa mahasiswa di sana. Vani yang penasaran pun menegakan badan dan mengangkat kepalanya. Ia melihat ke arah pandangan semua mahasiswa di kelas.

"Kamu!" teriak Vani spontan.

Seluruh mahasiswa refleks menoleh, menatap Vani dengan berbagai macam tatapan. Vani berdehem pelan untuk menormalkan suaranya yang tercekat, ia tersenyum merasa tak enak. Objek yang menjadi pusat perhatian sedari tadi ternyata orang yang menabraknya kemarin, orang yang membuat suasana hati Vani hancur, dan sekarang orang itu masuk ke kelasnya. Ia benar-benar tak habis pikir kenapa Pak Billy tidak meminta bantuan dosen yang lain saja.

"Baiklah, perkenalkan nama saya Kenzie Maxime Leonard, bisa kalian panggil Ken atau Kenzie. Hari ini, saya menggantikan mata kuliah Pak Billy karena beliau memiliki urusan yang tidak bisa ditunda," jelas Ken memandang seluruh mahasiswa di sana. Tata-pannya jatuh pada seorang gadis yang sedang menundukan kepala, Ken lantas menyeringai.

Seluruh mahasiswa bersorak riang mendengarnya kecuali Vani yang menggerutu sendiri. Kebetulan kelasnya kali ini hanya dihadiri perempuan, tidak ada laki-laki, sial sekali bukan?

Kelas dimulai dengan penjelasan dari Ken, semua mata memperhatikannya kecuali Vani.

¤♥¤

Ken sesekali melirik ke arah gadis yang berteriak tadi. Cantik. Kau akan kudapatkan manis, batin Ken.

Setelah kelas berakhir, Ken merapikan buku dan berdiri sembari menunjuk ke arah Vani. "Kamu yang teriak tadi, saya tunggu di ruangan saya!"

Setelah mengatakan itu, ia berjalan meninggalkan kelas. Ken ingin sedikit bermain-main dengan gadis itu.

"Oh my gosh, apa lagi ini?" geram Vani.

"Buruan sana, Van. Kalau gue jadi lo, udah gue susulin dari tadi," kekeh Sherin, sahabatnya.

"Yeee, itu mah maunya lo," cibir Vivi.

Sherin hanya terkekeh sedangkan Vani mendengkus sebal. Ia lekas meninggalkan kedua sahabatnya yang asyik memuja si om tadi.

Di mana nih ruangan si om-om? pikir Vani.

"Permisi, Pak. ruangan Bapak Kenzie di mana ya?" tanya Vani ke salah satu penjaga keamanan kampus.

"Oh di situ, Mbak," jawabnya seraya menunjuk ke salah satu ruangan.

Vani mengangguk, berjalan ke arah yang ditunjukan tadi. Tanpa ragu ia mengetuk pintu tersebut.

"Masuk!"

Vani berjalan pelan membuka pintu dan menutupnya kembali. Kemudian, ia langsung bertanya, "Ada apa ya, Om?"

"Silakan duduk!"

Vani memutar mata malas, mau tidak mau ia melangkah mendekati kursi yang tersedia. Ia merasa kasihan pada kakinya jikalau menolak untuk duduk. Ken mengulum senyum mengamati gadis itu yang menurutnya sangat berani.

"Apa liat-liat?!" sentak Vani sambil melotot.

Ken terkekeh pelan, lucu sekali gadis di depannya ini. Biasanya, gadis lain yang melihat senyum Ken pasti sudah kegi-rangan.

Gadis galak, pikirnya.

"Nama kamu siapa?" tanya Ken mengalihkan pembicaraan.

"Vani."

Nama yang bagus, batinnya.

Ken menganggukan kepalanya tersenyum, sedangkan Vani merasa risih karena orang di hadapannya tersenyum tidak jelas.

"Mulai besok kamu jadi asisten pribadi saya!" perintah Ken dengan enteng.

"APA?!" teriak Vani terkejut. "Saya enggak mau!"

Ken pun mengulas senyum miring. "Kalau kamu menolak, saya enggak masalah. Tapi nilai kamu bisa terancam."

"Mana bisa gitu, Om?!" protes Vani tidak terima, semua ini tidak ada sangkut-pautnya dengan nilai.

"Ya bisalah, saya dosen kamu."

"Om kan cuman gantiin Pak Billy aja, mana bisa gitu. Pake ngancem nilai segala lagi."

"Bisa, Pak Billy itu Om saya."

"Enggak, enggak. Saya enggak mau."

"Terserah kamu. Kalau mau nilai di bawah standar ya silakan."

Vani langsung panik. Meskipun memiliki otak cerdas, tetapi dosennya tidak respect, bisa-bisa kacau nilainya nanti.

"Oke, oke, saya mau." Vani terpaksa demi nilai.

Ken tersenyum senang. Ia lalu menyodorkan ponselnya pada Vani. "Mana nomor telepon kamu?"

Gadis itu mengambil ponsel Ken, mengetik nomornya di sana.

Kena kau gadis manis, batinnya bersorak riang.

"Nanti saya hubungi!"

Vani yang mengangguk pasrah, lalu melangkah meninggalkan ruangan yang menurutnya pembawa sial.

_____________________________
Jangan lupa vote&komen okey

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang