"Papa kecewa sama kamu, Nak," ucap Sean mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Ia lalu pergi meninggalkan ruang tamu. Disusul Vano yang memilih meninggalkan mansion.
Vani menangis dengan kondisi masih memeluk Ken. Kemudian, ia menghampiri mamanya yang sedang menangis di sofa.
"Mama, maafin Vani," lirihnya berlutut pada kaki Levi. "Maafin Vani udah ngecewain Mama."
Orang tua mana yang tidak kecewa jika melihat anaknya seperti ini, tetapi Levi juga tidak bisa menyalahkan anak sepenuhnya. Ini juga salah mereka, orang tua yang kurang memperhatikan pergaulan anaknya.
"Bangun, Nak." Levi mengangkat tubuh Vani untuk berdiri.
"Maafin Vani, Ma."
Levi mengangguk, ia tidak tega melihat anaknya seperti ini. Semuanya sudah terjadi. Levi membawa Vani mendekat ke arah Ken yang masih tergeletak. Gadis itu sadar jika Ken mengalami luka yang cukup serius. Dengan berlinang air mata Vani berkata, "Ken, kita ke rumah sakit."
¤♥¤
Di perjalanan ke rumah sakit, Vani tak berhenti mengeluarkan air mata. Ia merasa sangat bersalah melihat Ken tak berdaya seperti ini. Mencoba untuk menenangkan gadisnya, Ken mengatakan kalau ia baik-baik saja. Namun, semua juga tahu kalau Ken tidak baik-baik saja. Sudut bibirnya robek.
Vani mengangguk dengan air mata mengalir, mengelus pelan sisi wajah Ken yang berada di pangkuannya. Ia lalu meminta sopir keluarganya untuk mempercepat laju mobil mereka.
Sesampainya di rumah sakit, Ken langsung diperiksa oleh salah satu dokter. Vani menangis menunggu Ken di luar ruangan. Ia memilih untuk duduk di kursi tunggu dan menenangkan diri.
"Keluarga pasien?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
Vani spontan berdiri. "Saya, Dok."
"Saudara Kenzie mengalami luka memar di bagian wajah dan juga bagian perut. Tidak terjadi hal yang lebih serius, tapi kondisinya cukup lemah untuk saat ini. Kemungkinan besok siang sudah boleh pulang," kata dokter menjelaskan keadaan Ken.
"Boleh saya masuk, Dok?" tanya Vani.
"Oh ya, silakan. Kalau begitu saya tinggal dulu. Kalau terjadi hal yang serius bisa panggil saya."
"Baik, Dok. Terima kasih." Vani langsung berjalan memasuki ruang inap Ken setelah dokter pergi. Ia melihat pria itu terbaring dengan selang infus di tangannya.
Ken menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Vani masuk dengan wajah sembab akibat menangis. Ken meringis karena luka di sudut bibirnya yang belum kering.
"Sakit?" tanya Vani parau.
Ken menggeleng, walau sejujurnya memang sakit. Namun, ia tidak mau membuat calon istrinya lebih khawatir. "Aku enggak apa-apa."
"Enggak apa-apa gimana. Muka kamu bonyok gini!"
Ken ingin tertawa, tetapi wajahnya masih terasa sakit. Ia menarik Vani ke dalam pelukannya, lalu mencium kening gadis itu. "Jangan nangis, Sayang. Nanti baby-nya ikut sedih."
Vani menghentikan tangisnya, ia mendongak menatap Ken ldan menghapus sisa-sisa air matanya. Ia tidak mau jika bayinya ikut bersedih.
"Kalo begini kan cantik," kata Ken tersenyum mengelus puncak kepala Vani.
Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan suster yang datang membawa nampan di tangannya. Vani bisa melihat tatapan suster itu yang tak berkedip melihat Ken. Vani berdehem cukup keras hingga suster itu tersentak dan buru-buru meletakkan mangkuk juga air putih di atas meja nakas. Ia secepat mungkin keluar dari dalam ruangan. Vani mendengkus, terlalu banyak wanita-wanita yang menatap minat pada Ken, hal itu tentu saja membuatnya kesal. Dalam kondisi wajah Ken yang tidak baik-baik saja pun masih ada yang seperti itu.
Ken mengulum senyum memperhatikan raut wajah Vani. "Kenapa, hm?"
"Apa?" tanya Vani bingung.
Ken menggeleng, Vani sedang tidak sadar jika cemburu. Tangan gadis itu bergerak mengambil mangkuk yang berisi bubur rumah sakit di atas nakas. Ken menjauhkan wajahnya, bau bubur itu sangat menyengat.
"Jauhin buburnya!" Ken spontan menutup mulut dan hidungnya menggunakan tangan.
Vani mengernyit heran. "Kenapa? Kamu harus makan biar cepet pulih." Tangan gadis itu bergerak mengaduk bubur menggunakan sendok yang tersedia.
"Enggak, Sayang. Aku enggak suka bubur."
Vani menghela napas. "Aku tahu rasa bubur rumah sakit emang enggak enak, tapi wajah kamu yang kaya gini susah buat makan sesuatu selain bubur."
Ken yang bergeming membuat Vani memilih meletakkan kembali mangkuk di atas nakas. "Terus mau makan apa?"
Ken menoleh, ia baru sadar jika Vani juga belum makan siang. "Sayang, kamu yang harus makan. Ini udah siang pasti kamu laper, 'kan?"
"Iya nanti aku makan, kalo kamu mau makan buburnya."
Ken mendesah, ia tidak suka bubur rumah sakit. Baunya saja tidak enak apa lagi rasanya. "Aku enggak mau bubur rumah sakit."
Ia mengambil ponsel yang berada di bawah bantal, mencari nomor seseorang lalu mengetikkan sesuatu di sana.
"Ngapain?"
"Aku suruh orang buat beli makan siang," jawab Ken. "Kamu mau makan apa?"
Vani tak menjawab, nafsu makannya menghilang setelah kejadian beberapa jam yang lalu.
"Sayang," panggil Ken lembut. Vani hanya balas mena-tapnya. "Maafin aku, kamu jangan sedih apalagi sampai enggak makan. Kamu harus kuat supaya bayi kita juga ikutan kuat."
Ken selalu menghubungkan Vani dengan bayi yang ada di dalam kandungannya. Hal itu mampu membuat Vani berpikir ulang jika melakukan sesuatu. Ia tidak mau sampai hal buruk terjadi pada bayinya dan penyebabnya adalah dirinya.
"Maaf," lirih Vani. "Aku pengen makan ayam geprek sambal ijo."
"Enggak, enggak. Kamu enggak boleh makan yang pedes-pedes!" Ken menolak tegas permintaan Vani. Kenapa harus makan yang pedas padahal makanan selain itu banyak. Ken tidak mau terjadi sesuatu pada anaknya.
Mata Vani berkaca-kaca. Batinnya merasa kesal.
Tadi nanya mau makan apa, giliran udah dijawab malah enggak boleh.
"Sayang, yang lain aja ya. Jangan yang pedes entar anak kita kepedesan gimana?" ucap Ken mencoba membujuk Vani.
"Terserah kamu aja." Vani berdiri dan melangkah ke arah kamar kecil yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia ingin buang air, meladeni Ken justru membuatnya merasa jengkel.
"Sayang, mau ke mana?" tanya Ken yang melihat Vani menjauh. Ia mencoba untuk bangun, tetapi perutnya malah semakin sakit.
Vani menoleh dan kembali lagi ke sisi ranjang Ken. Gadis itu mendengkus keras. "Kenapa bangun? Perut kamu memar. Aku cuma mau ke kamar kecil, bukan pergi jauh."
Ken diam menurut. Ia pikir Vani marah karena permintaannya tidak terpenuhi, rupanya ia ingin ke kamar kecil. Ken kembali mengetikkan sesuatu kepada orang suruhannya agar membawakan beberapa buah segar untuk ia makan bersama Vani dan juga makan siang mereka berdua. Tentu saja bukan ayam geprek sambal ijo permintaan Vani tadi. Ken tidak akan mengabulkannya.
_________________________________
Mon maap ga update dari kemaren-kemaren. Baru kelar UTS 😪
Yg nanyain authornya mati apa enggak, ini author masih napas.
Author juga Lagi demen-demennya nonton drakor jadi mon maap banget nih kalo kegantung ceritanya🙏
Dan tolong dong jangan jadi sider, sedih banget viewnya bnyak tapi yang vote engga sama banyaknya😓
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romanspublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
