Chapter 7

239K 5.5K 26
                                        

Hai guys, ceritanya aku publish ulang dengan versi yg menurutku lebih baik. Alurnya sama ngga aku ubah ya, cuma aku lebih mengurangi part mature. but, kalo ada yg mau part itu bisa pindah ke karyakarsa aku yaaa. thx u .

Hari sudah kembali berganti menjadi pagi, tetapi suasana di sebuah kamar tetap gelap. Terdapat dua insan yang saling memeluk satu sama lain, terlelap di bawah selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh polos mereka. Ken mengerjapkan mata perlahan, hal yang pertama kali dilihatnya yaitu wajah polos Vani yang sangat menggemaskan saat tertidur. Ken menghidupkan lampu kamar, lalu menyelipkan rambut Vani yang menutupi wajahnya ke belakang telinga, ia memandangi wajah itu dengan senyuman. Matanya turun melihat leher Vani, ada banyak sekali bercak kemerahan akibat per-buatannya semalam.

Ken tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Vani bangun nanti, ia hanya ingin menikmati apa yang ada di depannya saat ini.

Mata Vani mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Om Dosen sedang tersenyum menatapnya.

Eh tunggu dulu, batin Vani panik.

Ia melihat sekeliling ruangan, lalu menatap tubuhnya di bawah selimut. Mata Vani memanas, apa yang telah terjadi padanya semalam? Ia menoleh menatap Ken dengan wajah dingin. Ken yang melihat pun hanya diam, ia tidak mengira reaksi Vani akan seperti ini

"Apa yang kamu lakukan, Ken?" tanya Vani dengan wajah memerah menahan tangis, ia mengencangkan selimut yang menu-tupi dadanya.

"Maafkan aku, Baby. A-aku ...," jawab Ken terbata-bata. Laki-laki itu bangkit dari posisinya dan menggenggam tangan Vani.

"Apa maksudnya ini?" tanya Vani murka. ia menghempaskan tangan Ken yang menggenggamnya.

Ken diam, tidak mampu berkata setelah melihat air mata mengalir di pipi mulus Vani.

"KENAPA KAMU MELAKUKAN INI KE SAYA? APA SALAH SAYA, HAH? APA?!" teriak Vani di depan wajah Ken.

Air matanya mengalir deras seiring dengan perasaan yang hancur. Mahkota yang selama ini ia jaga, kini direnggut oleh orang yang baru beberapa hari dikenalinya.

Vani bangkit sembari melilitkan selimut pada tubuhnya. Ada bagian tertentu tubuhnya yang terasa sakit, tetapi ia tidak memedulikan hal itu. Vani memungut pakaiannya di lantai, kemudian masuk ke kamar mandi.

Ken termangu menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Apa begitu dalamnya ia menyakiti Vani? Ia tahu Vani juga menikmati perbuatannya semalam walaupun dalam pengaruh. Ken mengacak rambut dengan frustasi, kemudian memungut pakaian yang terge-letak di lantai dan memakainya.

¤♥¤

Vani yang berada di kamar mandi menangis menatap pantulan dirinya di depan kaca wastafel. Tubuhnya penuh bercak merah-merah keunguan. Ia menggosokan tubuhnya di bawah aliran shower sambil menangis keras.

Ken menatap pintu kamar mandi, ada sedikit rasa menyesal di hatinya karena telah merebut kehormatan milik Vani. Jujur saja, ia sangat bergairah hanya dengan melihat Vani dan rasanya ia tidak ingin ada laki-laki lain yang mendapatkan gadis itu selain dirinya.

Ken mengetuk pintu kamar mandi terburu-buru, ia takut Vani nekat berbuat sesuatu yang bisa melukai dirinya sendiri.

"Vani, hei, buka pintunya. Vani, maafin saya," kata Ken khawatir.

Vani yang mendengar suara Ken merasa muak, tangisnya mengeras. Ia benci dengan laki-laki yang telah merenggut kesucian mahkotanya. Bagaimana jika orang tuanya tahu? Pasti mereka akan sangat kecewa.

Suara pintu dibuka terdengar. Ken yang membukanya terlihat cemas. Vani yang terduduk di bawah shower tanpa mengenakan pakaian lantas berteriak, "Pergi kamu! Pergi!"

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang