Happy reading guys 🤗
***
Sejak masih berada di ruang makan, Vani terus bertanya ke mana Ken akan membawanya. Namun, pria itu justru hanya menjawab, "Nanti kamu juga tahu." Hingga Vani lelah bertanya. Gadis itu akhirnya memilih bungkam, menyenderkan kepalanya di kursi mobil sambil memandangi jalanan Jakarta yang selalu ramai. Mereka berhenti di salah satu rumah sakit. Ketika Ken menyuruhnya untuk keluar, Vani menurut saja. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa ken mengajaknya ke sini. Siapa yang sakit? Atau Ken yang sakit?
Vani menutup mulut dengan kedua tangannya. Tidak mungkin yang sakit itu Ken. Seharusnya jika Ken yang sakit pasti dia sudah dirawat bukannya malah mengganggu dirinya. Sepertinya pikiran Vani terlalu melantur. Ia hanya diam mengikuti langkah kaki Ken yang lebar.
¤♥¤
Sebuah pintu berwarna putih menjadi tujuan Ken saat ini. Ia bahkan tanpa berkata apa pun langsung berhenti tepat di depan pintu putih. Vani yang tidak tahu tak sengaja menabrak punggung si pria. Gadis itu mengaduh karena keningnya terasa sakit seperti menabrak dinding, punggung Ken ternyata keras.
"Ayo masuk." Ken menarik lengan Vani untuk masuk ke dalam ruangan.
"Siapa yang sa—"
"Wah, jadi ini gadis yang kamu maksud?" cetus Dimas, sahabat Ken. Sementara Vani hanya terdiam kaku.
"Gimana keadaan lo?" tanya Ken menepuk bahu Frans yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit tanpa menghiraukan ucapan Dimas. Salah satu tangannya masih menggandeng tangan Vani.
"Keliatannya?"
Tangan Frans saat ini harus memakai gips. Hal ini terjadi akibat kecelakaan balap motor yang dilakukan Frans tiga hari yang lalu. Saat itu Ken memang tidak ikut serta karena ada perjalanan bisnis, dan kebetulan hari ini ia bisa menyempatkan waktu untuk datang menjenguk.
Vani menatap prihatin laki-laki yang menjadi sahabat Ken. Laki-laki ini juga yang ia lihat di klub malam saat menghadiri pesta dari temannya kekasih Sherin.
"Halo cantik, namanya siapa?" goda Dimas.
"Hmm, Vani," Vani merasa tidak nyaman berada di ruangan ini. Ia juga merasa sepasang mata tengah menatapnya sejak tadi. Ketika Vani mencoba mencari tahu sumber dari kegelisahannya ini, Frans ternyata tengah menatapnya. Hal ini membuat Vani mengernyitkan dahi, dan menggenggam tangan Ken lebih erat.
Ken yang peka dengan ketidaknyamanan Vani, segera membawanya keluar. Namun, sebelum pintu ruangan Frans ditutup, ia menoleh sambil berkata, "Gue ada urusan, cabut dulu."
"Kenapa?" tanya Ken setelah mereka berada di koridor rumah sakit. Vani tidak menjawab, gadis itu berjalan mendahului Ken. Sebelum Vani berjalan terlalu jauh, Ken memegang lengannya lebih dulu. "Jangan pulang dulu."
"Mau ngapain lagi, Ken?" tanya Vani gusar.
"Ayo ikut, jangan banyak nanya."
Vani menurut, daripada ia beradu mulut dengan Ken, itu lebih melelahkan. Ken berhenti di depan sebuah pintu yang memiliki papan nama. Manik Vani melebar seketika. Pria itu membawanya ke dokter kandungan. Ia mencoba kabur, tetapi sayang sekali, Ken sepertinya mengetahui niatannya tersebut.
"Ngapain?" tanya Vani parau.
"Kita cek kandungan."
"Kamu hamil?" Vani menatap horor Ken.
"Bodoh! Bukan saya, tapi kamu," dengkus Ken.
"Saya enggak hamil, mending kita pulang aja."
"Habis ini kita pulang."
Perkataan Ken tidak bisa dibantah. Wajah pria itu juga terlihat kaku saat ini, Ken gugup. Semoga saja Vani benar mengandung anaknya agar semua lebih mudah.
"Ayo masuk," ucap Ken menggenggam tangan Vani sambil mengelus pelan telapak tangannya seolah memberikan kekuatan.
Tangan Vani berkeringat, ia takut jika memang benar ia mengandung anak Ken.
"Lho, Ken. Kamu bawa siapa?"
Vani menunduk. Dokter di hadapannya ini mengenal Ken, buktinya saja dia memanggil nama Ken langsung.
"Calon Ken, Tante." Ken tersenyum.
"Wah, wah, wah, mama kamu gak bilang apa-apa tuh sama Tante."
"Mama juga belum Ken kasih tahu, Tan."
"Jadi Tante nih yang pertama tahu?" kekeh dokter itu.
Vani masih betah menunduk, ia tidak berani mengangkat kepala. Tangan Ken tiba-tiba menyentuh dagunya, membisikan sesuatu yang membuat Vani mau tak mau mengulum senyumnya.
"Jangan nunduk, nanti cantiknya enggak keliatan."
Akhirnya, berkat kalimat itu Vani mengangkat kepala perlahan. Ia melihat dokter perempuan yang Ken kenal tengah menatapnya dengan senyuman.
"Ken pinter ya pilih calon istri. Kamu cantik sekali. Namanya siapa?"
"Stevani, Tante."
"Duh Vani, kamu kok mau sama Kenzie sih?" tanya Tante sambil tertawa.
Ken mendengkus, " Jangan dengerin."
"Nama Tante Asmarita. Panggil Tante Rita aja ya!" Dokter itu masih satu keluarga dengan Ken, lebih tepatnya adik kandung dari mamanya. "Jadi ke sini ma—Ken kamu ngehamilin Vani?"
Ken meringis, dugaan tantenya sebentar lagi akan terbukti benar atau tidaknya. "Tante bisa cek langsung."
"Dasar laki-laki, apa susahnya tunggu sah dulu baru bikin bayi. Lah ini malah ...." Tante Rita mengomel karena tak habis piker pada keponakannya sendiri.
Vani terkekeh pelan, ia juga ikut andil dalam hal tersebut. "Ya udah, Vani baring dulu ya."
Vani mengikuti ucapan Tante Rita. Tubuhnya ia baringkan di atas ranjang pasien. Ia melihat wanita itu mengoleskan gel berwarna bening kebagian perutnya yang terbuka dan rasanya dingin.
"Ken, lihat ini," ucap Tante Rita antusias. Ken melihat sesuatu yang ditunjukan tantenya di layar monitor, tetapi ia tidak mengerti. "Vani hamil, dan lihat ini Ken, janinnya sebesar biji kacang hijau!"
Ken yang mendengar hal itu tersenyum haru, hati kecilnya begitu bahagia. Yang ia harapkan benar terjadi, ia akan menjadi seorang Ayah. Ken mendekati Vani, lalu mencium kening Vani cukup lama.
Vani menutup mulutnya, ia sungguh terkejut sekaligus bahagia. Perasaan haru meliputinya, di dalam perutnya kini ada kehidupan lain yang harus ia jaga. Kening Vani terasa basah, Ken menangis dalam diam. Ia juga ikut meneteskan air mata.
"Selamat ya, Ken. Kamu bakal jadi ayah!" Tante Rita menepuk-nepuk bahu keponakannya.
_________________________________
Pantengin terus ya
Jangan lupa vomment yups, aku tau kalian semua baik 😉
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Storie d'Amorepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
