Chapter 26

148K 3.7K 34
                                        

"Jangan khawatir, percaya sama aku," bisik Ken berusaha meyakinkan Vani. Gadis itu mengangguk, wajahnya memerah menahan malu. Posisi mereka saat ini sangat dekat sekali. "Jaga kesehatan juga, jangan sampai kenapa-napa."

Vani membalas dengan gumaman, ia tersentak kala Ken menunduk lebih rendah. Wajah Ken saat ini behadapan dengan bagian perutnya. Vani menahan tangan Ken yang akan menaikan bajunya, ia menggeleng menolak.

"Sebentar aja," pinta Ken lembut.

Pria itu menaikan sedikit baju Vani, hanya sebatas perutnya saja tidak lebih. Lalu ia mendekatkan wajahnya dan mengecup secara perlahan perut Vani yang masih rata, tangannya juga ia letakkan di sana dan mengelusnya pelan.

"Cepet lahir, baby. Nanti bisa main bola bareng Papa," bisik Ken.

Vani memukul bahu Ken, ia terkekeh pelan. "Ken, dia masih dua minggu dan kamu udah ngajak main bola."

"Ya nanti, Sayang, kalau sudah lahir."

"Baru lahir juga belum bisa main bola."

Ken tertawa mendengar jawaban Vani. Gadis itu benar juga. Pikirannya sudah terlalu jauh, ia jadi tidak sabar menantikan buah hati mereka lahir ke dunia.

"Nanti aja kalau baby-nya sudah besar."

Vani mengangguk setuju, itu pun kalau anak mereka yang lahir laki-laki. Jika perempuan, yang benar saja main bola, seharusnya anak perempuan bermain boneka.

"Van," panggil Ken dengan wajah serius.

Ken sudah menyiapkan hal ini sejak jauh-jauh hari. Ia memang bukan pria yang romantis, tetapi sebisa mungkin ia mencoba memberikan yang terbaik. Ia mengambil sesuatu dari saku celana, dan menyembunyikan di belakang tubuhnya. Satu tangan Ken meraih telapak tangan Vani, menggenggamnya erat.

Ken menatap intens bola mata Vani, ia merasa gugup saat ini. Gadis itu memalingkan wajah, lalu mengembuskan napas secara perlahan. Pandangannya kembali bertubrukan dengan bola mata Vani.

"Van ...." Ada jeda sebentar sebelum Ken melanjutkan ucapannya lagi. "Aku memang bukan laki-laki yang baik, aku juga banyak mempermainkan perasaan perempuan. Tapi itu dulu ... sebelum aku mengenal dan jatuh hati sama kamu. Aku belum pernah segila ini sebelumnya, dan aku benar-benar minta maaf atas perbuatan bejat yang pernah aku lakuin ke kamu. Itu di luar kendaliku, aku enggak bisa mengontrol diri sendiri sampai aku berbuat hal yang menyakiti kamu. Aku minta maaf. Aku enggak tahu harus ngomong apa lagi. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Aku enggak pernah main-main saat aku bilang, 'aku cinta sama kamu', aku cinta sama kamu Vani, will you be mine, marry me please?"

Ken memperlihatkan kotak beludru yang berisi cincin permata di dalamnya, ia merasa sedikit lega telah mengeluarkan isi hatinya. Sementara Vani hanya terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia tidak pernah memimpikan dilamar dengan keadaan seperti ini, saat di dalam rahimnya sudah ada kehidupan baru. Namun, ia tidak bisa menolak semua yang sudah terjadi padanya, ini sudah takdir dirinya. Jalan hidupnya memang seperti ini dan ia harus menerimanya dengan lapang dada. Ia hanya berharap semoga di kehidupan ke depannya akan lebih bahagia bersama suaminya dan juga calon anak mereka nanti.

Vani melepaskan genggaman tangan Ken, dan hal itu membuat Ken tergagap. Apakah Vani menolaknya lagi? Namun, semua pemikiran itu hilang ketika Vani memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu. Ken membalas pelukan Vani tak kalah eratnya, kala suara Vani tertangkap di indera pendengarannya walaupun samar-samar.

"A-Aku mau."

Ken mengucap rasa syukur dalam hatinya. Ia tak henti-hentinya mengecup rambut Vani berkali-kali. Vani sudah menerima dirinya dan itu lebih dari cukup. Ia tinggal mengantongi restu kedua orang tua Vani.

Ken melepaskan pelukan mereka ketika gadis itu sudah tidak menangis lagi. Ia mengeluarkan cincin dari dalam kotak dan memasangkannya di jari manis Vani. Sangat indah, cincinnya pas di tangan Vani. Beruntunglah Ken yang pernah mengukur jari si gadis menggunakan tangannya.

"Terima kasih sudah menerimaku," ucap Ken sembari mencium punggung tangan Vani.

Si gadis menatap cincin pemberian Ken, sangat cantik dan ia menyukainya. Sudah hampir satu jam mereka berada di dalam mobil yang sudah terparkir di halaman mansion, dan ia melupakan mamanya yang sendirian meski tidak sepenuhnya benar karena masih ada Pak Satpam dan Bi Ijah.

"Ken, aku harus masuk, Mama sendirian," pamit Vani. Ia bergegas keluar dari mobil, tetapi ditahan oleh Ken.

"Aku anter masuk."

Kini, mereka berdiri di depan pintu mansion, menunggu untuk dibuka. Ketika Bi Ijah datang membukakan pintu, Vani melontarkan pertanyaan seputar mamanya. "Mama mana, Bi?"

"Kayanya udah masuk kamar, Non."

Vani melirik jam tangan miliknya, pukul 8 malam. Ia pikir kemungkinan mamanya masih belum tidur. Kepala si gadis menoleh pada Ken. "Bentar aku panggil mama dulu."

¤♥¤

Ketika Levi datang bersama Vani di sampingnya, Ken tersenyum dengan perasaan tak enak. Malam ini ia mengantar Vani pulang pukul 8 malam, dan tentu saja Ken merasa ini terlalu malam. Wanita paruh baya itu menampilkan seulas senyuman, ia masih terlihat cantik dan segar persis seperti putrinya.

"Maaf, Ma. Ken pulangin anaknya kemaleman."

"Enggak apa-apa, Ken. Baru jam 8 malem. Kalian udah makan belum?" tanya Levi.

"Udah, Ma. Tadi makan di—"

"Tadi Vani makan sama keluarga Ken, Ma," jawab Ken dengan senyum manis.

"Wah, udah diajak ketemu camer aja nih," goda Mama.

Vani menunduk malu-malu di sampingnya. "Apaan sih, Ma."

Mereka bertiga larut dalam obrolan, sampai Ken pamit pulang karena hari sudah semakin malam, dan Vani butuh istirahat.

¤♥¤

Hari telah berganti, dan awalnya Ken akan menemui kedua orang tua Vani. Namun, sayang sekali harus tertunda karena ia memiliki kelas untuk mengajar. Kebetulan sekali kelasnya Vani. Ia merindukan gadis itu dan bertanya-tanya apa yang sedang Vani lakukan saat ini. Mungkin juga sedang bersiap untuk pergi ke kampus sama sepertinya.

Ken bergegas keluar dari apartemen menuju basemen tempat mobilnya terparkir. Ia terlalu bersemangat sampai-sampai menyenggol lengan seorang wanita yang berlawanan arah dengannya. Membuat wanita itu sedikit mengaduh. Ken hanya menoleh sekilas. Tanpa pikir panjang ia segera masuk ke mobilnya. Ken menimbang-nimbang untuk menjemput Vani dan mengajaknya pergi bersama, tetapi pilihannya jatuh pada menghubunginya dulu. Lantas, Ken mengambil ponselnya, mengetikkan sebuah pesan untuk Vani.

Kenzie

Udah berangkat belum? Bareng aja!

Ken menunggu balasan pesan yang ia kirim pada Vani. Dua menit menunggu, ia sudah kelimpungan tak jelas. Pikiran melayang ke mana-mana. Berbagai pertanyaan kenapa Vani lama sekali membalas pesannya bermunculan di kepalanya. Hingga akhirnya terdengar sebuah notifikasi masuk pada ponsel miliknya. Ia segera membuka pesan tersebut. Senyum lega terpancar pada wajah Ken ketika melihat siapa yang mengirim pesan.

Calon istri

Aku udah di kampus.

Kenzie

Tunggu di ruanganku!

Ken memasukkan ponsel ke dalam saku kemeja. Ia tak masalah jika Vani sudah berangkat, lantas ia menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai dan bertemu calon istri.

__________________________________

Pantengin terus, dan jangan jadi silent readers okey
Tadinya tu mau update banyak tapi bingung apa yg mau ditulis
Gak ada inspirasi ini wkwkwk
Jadi segini aja ya

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang