Happy reading😘
_______________________________
Vani tak menyangka jika kejadian buruk itu pernah terjadi pada Al, jadi ia kembali menangis.
"Kenapa kamu gak coba kabarin aku, Al?" tanya Vani menangis tersedu.
"Maafin aku, An." Al menarik Vani ke dalam dekapannya.
"Terus kenapa kamu enggak pulang setelah kamu sembuh?" Sekarang Vani menatapnya dengan sorot kecewa.
"Aku bisa jelasin, An. Dengerin ya, jangan marah dulu," kata Al lembut. "Waktu itu kita sekeluarga pindah ke Singapura karena pengobatan memakan waktu yang lama, dan kamu juga tahu kan di sana ada rumah Opa aku. Karena perusahaan Papa yang di sini hampir bangkrut untuk biayain pengobatan aku, Opa nyuruh Papa bantu ngelola perusahaannya yang ada di Singapura. Sedangkan Opa yang turun tangan buat ngembaliin perusahaan Papa yang hampir bangkrut supaya balik normal lagi.
"Aku terpaksa nahan enggak ketemu kamu waktu itu. Opa juga nyiapin guru buat aku homeschooling biar aku bisa lulus tepat waktu tanpa ketinggalan, dan setelah aku selesai homeschooling aku enggak bisa langsung pulang ke Indonesia buat nemuin kamu karena harus bantu Papa di kantor Opa."
Vani menatap Al sendu, begitu banyak hal sulit yang dilalui Al. Namun, ia tidak ada di sampingnya, Vani langsung menghambur ke pelukan Al lagi.
"Udah, sshttt, jangan nangis. Maafin aku baru bisa jelasin sekarang. Aku takut kamu enggak mau lagi ketemu sama aku, An. Aku juga terpaksa ngelanjutin kuliah di sana biar bisa bantu Papa, An. Sekarang perusahaan Papa yang di sini udah normal."
"Terus ini rumah siapa, Al?" tanya Vani menatapnya dengan hidung memerah.
"Ini penthouse aku, An." Al tersenyum. "Aku nabung biar bisa beli rumah sendiri."
Vani mengangguk. "Terus tadi kamu dari mana?"
"Kamu yang dari mana, An? Kenapa sendirian di pinggir jalan? Kamu juga nangis tadi." Sorotan mata Al penuh selidik.
Vani terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tak bisa menceritakan yang sebenarnya terjadi, pasti Al akan menjauhinya kalau mengetahui Vani tidak bisa menjaga dirinya sendiri.
"Ya udah, kalo belum siap cerita jangan dipaksain, An," ujar Al lembut seraya kembali memeluk Vani. Menyalurkan kerinduan yang selama ini ia pendam.
¤♥¤
Ken terduduk di ranjang dengan tatapan menajam, ia melakukannya lagi dan kini kasur di sampingnya telah kosong.
Mungkin diluar, pikirnya.
Ia bangun dan memakai pakaian supaya ia bisa mencari keberadaan Vani. Cuaca di luar cerah, terlihat dari sinar matahari yang masuk melalui celah ventilasi villa. Sejak tadi ia berkeliling, tidak ada sosok Vani. Ia jadi bertanya-tanya ke mana gadis itu pergi.
Sebuah dugaan muncul di benaknya, pasti Vani sudah pergi sejak pagi saat ia masih tidur. Salahkan Ken yang bangun kesiangan karena aktivitas semalam sungguh melelahkan, tetapi juga memuaskannya. Saat ini jam menunjukan pukul 10 pagi. Wajar saja jika ia merasa lapar. Ia akan makan dulu, baru nanti ia akan memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya pada Vani.
Ken memutuskan memesan online daripada harus repot memasak. Bukannya Ken tidak bisa memasak, tetapi sekarang dirinya dilanda malas. Sambil menunggu makanan datang, ia membuka beberapa surel yang dikirim oleh sekertarisnya.
Dahinya mengerut ketika sebuah pesan masuk dari sekertarisnya. Isinya merupakan sebuah pemberitahuan jika setelah makan siang akan ada tamu penting yang harus Ken temui. Ken menghela napas kasar, ia harus kembali lagi ke Jakarta sedangkan saat ini keberadaan Vanipun masih tanda tanya. Bunyi bel mengalihkan pikirannya, pesanan sudah dataVaning. Bergegaslah ia berjalan keluar villa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
