Chapter 10

258K 5.3K 159
                                        

Happy reading😘

Langit sudah berubah gelap. Vani yang sedang melamun di balkon terkejut karena suara ponsel yang berbunyi. Nama Sherin terpampang di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang, Vani segera mengangkat teleponnya.

"Halo Van," ujar Sherin di seberang telepon.

"Ada apa rin?" tanya Vani.

"Lo ikut gue ya!"

"Emang lo mau ke mana?" Vani mengerutkan alis.

"Udah lo ikut aja, temenin gue dateng ke party temennya Edo."

"Gak mau ah gue, males."

"Yeee lo mah, temenin gue ya, ya. Masa gue datengnya sendirian."

"Si Edo mana? Kenapa lo gak bareng dia aja sih."

"Doi lagi nganter mamanya, makanya gak bisa jemput gue."

Vani berdecak, "Alesan lo."

"Ayolah, Van. Biar lo juga gak murung terus di rumah."

Vani menghela napas. "Ya udah, iya. Jangan sampe Vano tahu."

"Aman terkendali. Jam 9 gue jemput."

Ketika panggilan terputus, Vani melempar ponsenya ke atas ranjang. Ia memasuki walk in closet untuk memilih pakaian. Ia tahu acara pesta ini biasanya diadakan di klub malam. Sebenarnya Vani takut pergi ke sana, takut jika Vano tahu dan melaporkan ke orang tua mereka.

Semoga Vano gak banyak nanya deh, batinnya.

¤♥¤

Suara bel membuat Bi Ijah yang akan masuk ke kamar mengurungkan niatnya, ia melangkah menuju pintu utama untuk membukakan pintu. Sherin ada di sana dengan seulas senyuman di wajahnya. Bi Ijah sudah hafal betul dengan gadis ini, ia adalah salah satu teman baik Vani. Tanpa pikir panjang, Bi Ijah mempersilakan Sherin masuk.

"Bi, Vani-nya ada?" tanya Sherin. Bi Ijah mengangguk dan hendak memanggil Vani, tetapi Sherin mencegahnya. "Enggak usah dipanggil, Bi. Biar aku aja yang ke atas."

"Ya udah kalau gitu Bibi ke belakang dulu." Bi ijah mening-galkan Sherin yang masih berdiri di bawah tangga.

Gadis itu lalu menaiki tangga menuju kamar Vani. Saat tangannya akan memutar handle pintu, tiba-tiba pintu kamar sebelah terbuka. Sherin tahu itu adalah kamar Vano. Mereka saling menatap hingga Vano memutuskan tatapan itu.

"Mau ketemu Vani?" tanya Vano dengan wajah datar.

Sherin mengangguk. "Orangnya ada?"

Bagaimana ia tidak spot jantung kalau Vano yang ia lihat sekarang hanya mengenakan celana boxer dan kaus polos tanpa lengan, rasanya salivanya hendak berjatuhan.

"Ada kayanya di dalem, masuk aja!" jawab Vano tersenyum sambil berlalu melewati Sherin.

Gadis itu terdiam dengan wajah tak percaya. Ia berjengit lalu masuk ke dalam kamar. Sepertinya otaknya perlu dibersihkan agar tidak membayangkan yang tidak-tidak.

"Woy, dah siap belom?" tanya Sherin tiba-tiba.

Vani terlonjak dan membalikan tubuhnya. "Mulut lo bisa kecilin dikit enggak?!"

Sherin menyengir. Ia mendaratkan bokongnya pada ranjang Vani sambil memperhatikan Vani yang sibuk memilih pakaian. Ia juga mengingatkan Vani agar tidak memakai pakaian yang terlalu terbuka supaya Vano tidak merasa curiga. Vani menganggukan kepala. Tangannya mengambil blazer santai miliknya, lalu keluar dari kamar bersama dengan Sherin. Di lantai bawah terlihat Vano yang sedang santai di depan televisi dengan berbagai macam camilan di pangkuannya.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang