Author kembali mengharapkan respon dari kalian , vote dan komen okey
Happy reading 😘
___________________________
Pikirannya melayang, sejak tadi Ken hanya berjalan mondar-mandir seperti kucing yang kehilangan induknya. Berbagai macam spekulasi muncul di kepalanya, termasuk ia menduga yang mengangkat teleponya tadi itu kekasih Vani.
Oh tidak, tidak, tidak ada yang boleh menjadi kekasihnya kecuali aku. Tapi suara itu milik siapa?
Ken mengerang frustasi. Apakah Vani kabur dari villa lalu bertemu lelaki hidung belang dan ia diculik? Rasanya kepala Ken ingin pecah saja memikirkan semua itu.
Tidak ada pilihan lain kecuali mendatangi rumah yang bersangkutan, walaupun sebenarnya Ken tidak tahu di mana alamat gadisnya. Namun, ia teringat tentang sebuah dokumen yang diserahkan orang suruhannya. Di dalam sana sudah termuat seluruhnya tentang Vani termasuk tempat tinggalnya.
Setelah ia mengetahui di mana alamatnya, Ken bergegas menuju mobil. Ia berniat untuk pergi ke kediaman Vani.
¤♥¤
Sesampainya di alamat yang tertera dalam dokumen, ia terdiam. Timbul perasaan kalau ia pernah datang ke tempat ini. Namun, ia tidak mau memikirkannya, sekarang ia harus masuk terlebih dahulu untuk memastikan sesuatu.
Ken menekan tombol bel sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada sebuah mobil yang terparkir, bersebelahan dengan mobil miliknya. Dan ia baru menyadarinya sekarang. Ken terlalu sibuk dengan lamunannya. Fokusnya teralihkan ketika pintu di hadapannya terbuka, menampakan seorang perempuan paruh baya yang ia yakini adalah asisten di rumah itu.
"Cari siapa ya, Den?" tanya wanita itu.
"Hmm, apa benar ini kediaman Vani, Bi?" tanya Ken ingin memastikan.
"Benar. Aden siapanya Non Vani kalau Bibi boleh tau?" Bibi memperhatikan Ken dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Ken merasa bersyukur karena sudah melepas jas miliknya, kini tersisa kemeja warna biru dongker polos dan celana dasar yang melekat di tubuhnya.
"Saya dosen yang kebetulan mengajar Vani, Bi. Vani-nya ada?" tanya Ken melongokkan kepalanya ke dalam rumah. Maniknya menagkap dua orang yang sedang tertawa di sana.
Siapa mereka? batin ken. Ia seperti pernah melihat laki-laki itu.
"Non Vani-nya ada, Den. Ayo masuk, nanti bibi panggilkan."
"Tidak usah, Bi. Saya tunggu di luar saja."
Bibi mengangguk sebelum berjalan masuk melewati dua laki-laki yang sejak tadi tidak berhenti tertawa.
"Siapa, Bi?" tanya Vano.
"Tamunya Non Vani, Den. Katanya dosennya di kampus," balas bibi.
"Terus kenapa enggak disuruh masuk, Bi?"
"Orangnya bilang tunggu di luar aja, Den."
Vano mengangguk mengerti, mungkin seseorang yang mengaku menjadi dosen kakaknya itu merasa tidak enak untuk masuk karena sedang ada tamu lain.
Al sedikit teringat dengan ucapan Vani tadi saat mereka di perjalanan. Ia mengangkat telepon di ponsel Vani yang katanya dari dosennya. Sekarang ia bertanya-tanya apakah yang datang itu dosen yang menelepon tadi? Kenapa sampai repot-repot datang menemui Vani jika itu berkaitan dengan perkuliahan?
Ada yang tidak beres, batin Al.
"Non, ada yang nyariin di luar." Bibi menggoyangkan lengan Vani yang sedang tertidur.
"Suruh Vano aja yang nemuin, Bi," balas Vani dengan mata terpejam.
"Ealah. Tamunya itu nyariin Non lho bukan Den Vano."
"Siapa sih tamunya, Bi?" tanya Vani malas dengan mata yang perlahan-lahan terbuka.
"Tadi bilangnya dosennya Non di kampus."
Mata Vani mendelik seketika. Lantas ia mengumpat dalam hati. Ia tidak habis pikir kenapa orang itu tahu tempat tinggalnya, dan berani sekali dia datang ke rumahnya. Kepala Vani rasanya berasap memikirkan semua itu. Sekarang ia tidak tahu harus apa. Vani bimbang karena sekarang ia tidak bisa mengelak lagi, bisa-bisa Vano dan Al akan curiga nanti. Akhirnya, ia pun menghela napas lelah. Tubuhnya berjalan gontai, mau tak mau ia harus menemui orang itu.
Ketika kakinya sudah memijak lantai bawah, matanya menatap sekilas pada Vano dan Al yang sedang asyik bermain PlayStation dengan sampah berserakan di mana-mana. Ia hanya berjalan melewati mereka menuju pintu depan, tempat orang itu menunggu.
"Ada apa?" tanya Vani setelah melihat Ken yang berdiri membelakanginya.
Ken menoleh, ia berjalan mendekat dan memegang bahu Vani sembari memutar-mutar tubuhnya, meneliti dari ujung kepala sampai ujung kaki apakah ada yang hilang atau terluka. Ken menghela napas lega, ia terlalu parno membayangkan Vani bertemu lelaki hidung belang. Lantas seulas senyuman muncul di wajah Ken.
Vani hanya bisa meringis merasakan tubuhnya diputar-putar. Laki-laki itu seenaknya saja menyentuh dan memutar dirinya secara tiba-tiba. Namun, kemudian ia tertegun melihat senyuman di bibir yang sudah beberapa kali mencumbunya.
Oh tidak, pikiran macam apa itu?! batinnya Vani.
"Kenapa pergi dari villa tanpa ngebangunin saya?" tanya Ken dingin.
Hilang sudah senyuman itu, digantikan dengan wajah dingin yang penuh keangkuhan. Vani mendengkus kesal melihatnya.
"Kenapa juga saya harus bangunin kamu?" jawab Vani ketus.
"Hei, kamu sama saya. Pulangnya juga harus sama saya lagi."
Vani tertawa sinis, ia tidak habis pikir dengan Ken. Apakah ia tidak ingat perbuatannya semalam? Karena Vani rasa percakapan ini tidak penting, lantas ia berbalik untuk masuk kembali ke dalam rumah tanpa menghiraukan tatapan tajam si laki-laki. Namun, sebelum kakinya melangkah menjauh, bahunya ditahan oleh Ken. Vani memutar bola matanya malas.
"Vani, kamu harus ikut saya!" paksa Ken menahan geram lalu menyeret Vani ke mobilnya.
"Mau ke mana? Lepasiiinn!" Vani memberontak berusaha melepaskan diri.
Ken tak peduli dengan penolakan Vani, ia tetap menyeret gadis itu masuk ke mobil. Namun, sebelum itu terjadi, sebuah bogeman keras mendarat di wajah Ken sehingga genggamannya pada Vani terlepas.
"Shit!" umpat Ken. Ujung bibirnya mengeluarkan darah.
"Silakan pergi dari sini!" Al sebenarnya sudah menaruh curiga sejak tadi dan ternyata dugaannya benar. Untung saja ia keluar dari rumah untuk segera pulang, jika tidak pasti Vani sudah dibawa laki-laki itu.
"Jangan ikut campur!" ketus Ken dingin. Matanya beralih ke arah Vani. Yang ditatap hanya mengalihkan pandangan, seolah enggan membalas tatapannya. "Vani kita harus bicara."
"Jangan memaksa kalau dia tidak mau," Al menyahut.
Ken benar-benar kesal karena Vani mengacuhkanya. Sekarang gadis itu hanya diam berlindung di belakang laki-laki asing ini. Apa ia mengira kalau Ken ini penjahat sampai-sampai takut untuk melihatnya saja.
Ken mendengkus kasar, ia kembali masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan keras. Ia bertanya-tanya siapa sebenarnya laki-laki asing itu, berani sekali ikut campur urusannya. Setelah mobilnya menyala, tanpa menunggu lama ia pergi meninggalkan halaman rumah keluarga Jackson dengan perasaan dongkol.
_________________________
Author seneng kalo banyak yg suka cerita ini , jangan lupa difollow dulu biar gak ketinggalan kelanjutannya
Oke see u in next part 😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
