Happy reading guys😊
___________________________________
Dokter bilang Ken sudah boleh pulang karena luka memarnya sudah membaik. Sejak mereka berdua keluar dari ruang inap sampai mendekati mobil, Vani enggan berdekatan dengan Ken, dirinya selalu menjauh jika Ken mendekat.
"Sayang, kenapa sih?" tanya Ken yang mulai kesal.
"Enggak apa-apa." Vani tidak mau Ken mendekat dan merasa tak nyaman karena ia belum mandi sejak kemarin. Pagi ini ia hanya mencuci wajah dan gosok gigi selama di rumah sakit.
Pasti aku bau banget, batinnya.
"Kenapa jauh-jauh gitu jalannya?" tanya Ken mulai tak senang. Vani mundur ke belakang ketika Ken mendekatinya. "Tuh, kan. Ngapain mundur?"
"Enggak apa-apa, Ken."
Ken menghela napas, ia menyuruh Vani untuk masuk ke dalam mobil. Hendak saja Vani membuka pintu mobil, seseorang mencekal lengannya, menariknya sedikit menjauh dari mobil itu.
"Pulang sama gue," cegah Vano dengan raut wajah datar, tetapi Vani masih bisa melihat raut khawatir yang muncul di sana.
"Lo kenapa bisa di sini?" bisik Vani. Ia melirik ke arah Ke yang masih menatapnya.
"Enggak penting. Sekarang kita pulang!" Vano menarik tangan Vani.
"Tunggu!" cegah Ken sembari melangkah mendekat ke arah adik kakak itu. Vano beralih ke depan Vani, memasang badan jika saja Ken akan membawa kakaknya pergi.
"Sebentar, gue mau ngomong sama Vani." Ken menarik Vani ke tempat yang cukup jauh dari Vano berdiri. Tanpa aba-aba ia langsung memeluk si gadis dengan erat dan cukup lama. Lalu, melonggarkan pelukan, tangannya bergerak memegang kedua sisi wajah Vani, mensejajarkan wajah mereka. "Kamu harus janji, apa pun yang terjadi jangan pernah pergi ninggalin aku!"
Vani mengangguk. Matanya sudah mulai berlinang menunjukkan betapa cengengnya dia. Begini saja sudah mau menangis. Hormon kehamilannya membuat suasana hatinya berubah-ubah.
"Kamu harus bisa bujuk orang tua aku, Ken."
"Pasti, Sayang. Kamu jangan nangis. Besok aku coba bicara lagi sama papa kamu," ucap Ken sambil mengusap bulir air mata yang mengalir di pipi Vani.
Gadis itu memeluk Ken, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang si laki-laki. Hidungnya menghidu aroma tubuh Ken yang begitu menenangkan. Vani lantas melepaskan pelukan dan mengusap kedua matanya.
"Aku duluan, kamu hati-hati!" pamit Vani dengan seulas senyuman. Ia menarik leher Ken agar sedikit menundu, lalu bibirnya mendarat sempurna di sudut bibir Ken yang membiru. "Biar cepet sembuh!"
Ken tidak bisa menyembunyikan senyuman ketika mendapat kecupan hangat dari orang yang dicintai, belum lagi jantungnya meletup-letup. Laki-laki itu terkekeh, melambaikan tangannya ke arah vani yang menghampiri Vano. Ken memegang sudut bibirnya, dan lagi-lagi ia tersenyum kecil. Jatuh cinta mampu membuat orang berbeda dari sebelumnya. Akhirnya Ken melangkah kembali ke mobil setelah Vani hilang dari pandangannya.
¤♥¤
"Lo kenapa gak pulang sih, Kak?" tanya Vano. Dua saudara kembar itu sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion. Jika saja Vano tidak mencari kakaknya, bisa dipastikan Vani tidak akan pulang.
"Gue jagain Kenzie di rumah sakit," jawab Vani seraya memalingkan wajah ke jendela mobil.
Vano mendengkus keras, tidak senang dengan pengakuan kakaknya. Ia tidak mau terlalu banyak bertanya dan menambah beban pikiran Vani. Alhasil, ia harus mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan. "Laper enggak lo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
