Chapter 28

134K 3.4K 29
                                        

Maaf tadinya cerita ini aku hapus karena ada kesalahan dan skrng aku publish lg tanpa ada perubahan.
Happy reading 😘

__________________________________

Hilang sudah senyuman itu digantikan dengan wajah dingin yang penuh keangkuhan. Vani mendengus kesal melihatnya.

" kenapa aku harus membangunkanmu " tanya vani ketus

" Hey kau datang bersamaku, tentu saja pulangnya pun harus begitu " kata ken

Vani tertawa sinis, ia tidak habis pikir dengan ken apakah ia tidak ingat perbuatannya semalam. Vani rasa percakapan ini tidak penting ia berbalik untuk masuk kembali kerumah tanpa menghiraukan ken yang menatapnya dengan tajam.

Sebelum kakinya melangkah menjauh, bahunya ditahan oleh seseorang siapa lagi kalau bukan kenzie. Vani memutar bolamatanya malas, apa lagi sih, pikirnya

" vani kamu harus ikut aku " kata ken menahan geram lalu menyeret vani kearah mobilnya

" Mau kemana, lepasiiin " kata vani memberontak

Ken tak perduli dengan penolakan vani , ia tetap menyeret vani membawanya masuk ke mobil. Tapi sebelum itu terjadi, sebuah bogeman keras mendarat diwajah ken sehingga genggamannya terhadap vani terlepas.

" shit " kata ken meringis, ujung bibirnya mengeluarkan darah

" Silahkan pergi dari sini "

Orang itu Al, sebenarnya ia sudah menaruh curiga sejak tadi dan benar dugaannya. Untung saja ia keluar dari rumah untuk segera pulang jika tidak pasti vani sudah dibawa laki-laki ini.
" Jangan ikut campur " kata ken dingin

Mata nya beralih kearah vani, yang ditatap hanya mengalihkan pandangan, seolah enggan menatap orang dihadapannya.
" Vani kita harus bicara " kata ken datar

" Jangan memaksa jika ia tidak mau" kata al menyahut

Ken benar-benar kesal terhadap vani yang mengacuhkanya, lihatlah sekarang gadis itu hanya diam berlindung dibelakang laki-laki asing ini, memangnya ken penjahat apa sampai harus begitu takut melihatnya saja.

Ken mendengus kasar, ia kembali masuk kemobil dan menutup pintu dengan keras. lagi pula siapa sebenarnya laki-laki asing itu berani sekali ikut campur urusannya. Ken menstater mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah keluarga jackson dengan perasaan dongkol.

¤♥¤

Al membalikan tubuhnya kearah vani setelah ken pergi. Vani hanya menunduk tidak berani menatap Al.

" An " kata al pelan seraya memegang bahu vani " Kamu gakpapa?" tanya al

Vani tidak merespon ia malah semakin menunduk menyembunyikan wajahnya yang saat ini tengah berkaca-kaca. Sejujurnya vani sangat malu jika al sampai mengetahui kebenarannya. Ia berhambur kedalam pelukan al tanpa bisa dicegah air matanya mengalir, ia menangis terisak.

" Udah sshhttt jangan nangis " kata al menenangkan

Al membawa vani duduk diteras depan rumahnya, ia berjongkok didepan vani yang masih menangis.

" Kamu bisa cerita an, jangan dipendem sendiri "

Vani menggeleng, ini masalahnya. tidak ada yang boleh mengetahuinya termasuk Al sekalipun. Ia hanya berharap semoga tidak terjadi sesuatu seperti yang ia bayangkan. Ia takut jika sampai hal itu terjadi.

" Makasih Al, tapi maaf aku gak bisa cerita sekarang" kata vani dengan mata sembab

" Yaudah gakpapa, kalau ada yang mau diceritain jangan sungkan-sungkan " kata Al tersenyum seraya mengacak rambut vani

" ihh berantakan tau "

Al terkekeh " Jelek banget kalo abis nangis gini" tambahnya lagi

" Pulang aja sana " kata vani mengerucut sebal

" Emang aku mau pulang "

Al berdiri, ia terkekeh karena telah berhasil menjahili vani setidaknya hal itu sedikit membantu vani melupakan masalah tadi.

" Aku pulang an, jangan kangen " kata al mengedipkan sebelah matanya

Vani yang melihat itu berpura-pura seolah ingin muntah. Al terbahak melihatnya, Ia masuk dan menjalankan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah vani.

Setelah mobil milik Al hilang dari pandangannya, ia berjalan gontai kedalam rumah kembali ke kamarnya. Untung saja ia tidak menemukan keberadaan vano diruang tengah, jika sampai vano tau ia menangis habislah ia, vano itu sangat cerewet melebihi mamanya.

Vani menghempaskan tubuhnya diranjang, ia bingung harus bagaimana. Handphone miliknya berdering, dengan malas ia mengangkat panggilan itu

" Kenapa "

" Woi darimana aja lo? " kata orang disebrang sana, vani menjauhkan handphone itu dari telinganya dan melihat siapa yang menelpon, sherin

" berisik banget lo toa"

" Eh maemunah, jawab pertanyaan gue tadi" kata sherin

" Mau tau aja lo " kata vani " gue sibuk, ntar gue telpon balik" imbuhnya lagi

" Eh bus.. "

Belum sempat sherin melanjutakn ucapannya vani langsung memutuskan sambungan, ia terkekeh pasti sekarang sherin sedang mencak-mencak disebrang sana.

Ia mengguling-gulingkan tubuhnya diatas ranjang, kejadian semalam berputar-putar dikepalanya saat ia begitu agresif membalas ciuman ken, sial apa-apaan ini, pikirnya.
Pipinya terasa panas, vani menyembunyikan wajahnya dibawah selimut.

" Brengsek " umpat ken menggebrak meja kerjanya

Ia tidak bisa berkonsentrasi sejak tadi, setelah pulang dari rumah vani rasanya ia uring-uringan sendiri. Ia memegang pelipisnya, dan teringat sesuatu. Ia memiliki data lengkap tentang keluarga vani yang belum ia baca seluruhnya

___________________________

Untuk chapter selanjutnya blm bisa dipublish skrng tp insyaallah segera

Jangan lupa vote&komen karena itu sangat berarti buat author☺

Dosen Is My Husband (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang