Chapter 28

135K 3.4K 29
                                        

Vani, Vivi, dan Sherin tertawa terbahak-bahak mende-ngarkan cerita Sherin. Ada saja hal lucu yang Sherin lakukan sampai-sampai mata Vani berair, bahkan perut mereka seakan dikocok. Pasalnya Sherin bercerita tentang ban mobilnya yang bocor di pinggir jalan yang sepi pemukiman, hanya ada pepohonan di sekelilingnya. Ia harus berjalan sedikit jika ingin meminta bantuan. Memang nasib sial sedang menimpanya, ponselnya juga kehabisan daya. Jadi, Sherin tidak bisa menelepon siapa pun untuk meminta bantuan. Terpaksa ia harus berjalan sedikit untuk mencapai pemukiman terdekat.

Lebih sialnya lagi, ia melihat seseorang memegang sisi mobil yang ia tinggalkan. Sherin mengernyit bingung dari kejauhan. Penampilan orang itu tidak bisa dikatakan baik. Pakaian compang-camping, rambut gimbal yang mekar dan jangan lupakan kulit dekil seperti orang tidak pernah tersentuh air. Tiba-tiba orang itu menoleh padanya yang sontak membuat Sherin terperanjat. Orang itu bahkan berjalan ke arahnya, membuat Sherin mempercepat langkah. Ketika ia menoleh ke belakang, orang itu malah berlari mengejar dirinya.

"MAMAA!!" teriak Sherin di sepanjang jalan. Ia berlari terbirit-birit mengenakan high heels. Merasa larinya tidak nyaman, akhirnya Sherin berhenti sejenak untuk melepaskan high heels-nya sebelum kembali berlari. "Tolooong!! Ada orang gilaa!!"

Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat, Sherin menyesal melewati jalan pintas yang jarang dilalui orang. Kalau sudah begini siapa yang akan menolongnya?

Manik gadis itu melihat beberapa rumah yang bisa dikatakan mewah. Ia berlari lebih cepat untuk menghindari orang gila itu, dan memasuki pekarangan rumah orang yang gerbangnya sedikit terbuka, lalu ditutupnya dengan cepat. Sherin menutup matanya, napasnya terengah, peluh menetes di dahinya. Ia yakin penam-pilannya saat ini sudah seperti orang gila itu.

"Lo siapa?"

Sherin terperanjat, sepertinya suara yang ia dengar berasal dari pemilik rumah. Ketika Sherin membuka mata dan meringis, seorang pemuda tampan berada tepat di hadapannya.

Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan, batinnya.

Sedetik kemudian ia pingsan di tempat akibat kelelahan.

"Bisa-bisanya lo pingsan setelah ngeliat cowok ganteng." Vani tertawa ngakak.

Sherin mendengkus, " Gue kecapekan kali bukan karena ngeliat tuh cowok."

"Ngeles aja, Mbak. Kek bajaj."

Dering ponsel menghentikan tawa mereka, semua mata sontak menatap Vani karena dering ponsel itu berasal darinya. Cepat-cepat si empunya merogoh ponsel yang berada di dalam tas. Nama 'Om Dosen' tertera di layar.

"Bentar ya, gue ke belakang dulu," pamit Vani pada kedua sahabatnya. Setelah cukup jauh dari sahabat-sahabatnya, Vani mengangkat pangilan itu. "Halo?"

"Belum pulang?" tanya Ken di seberang telepon.

"Belum, sebentar lagi kayanya."

"Aku samperin boleh?"

"Sebentar lagi pulang kok, engga— "

"Aku samperin!" ucap Ken final dan memutus sambungan telepon. Vani mendengkus keras setelah ia melihat layar ponselnya telah mati.

Ngapain minta izin segala?!

Vani langsung melangkahkan kakinya ke toilet. Ia ingin melihat dirinya di cermin. Riasan di wajahnya masih terlihat sempurna, lantas ia berjalan kembali menuju tempat sahabatnya yang sedang asyik berbincang.

"Cielah, punya gebetan baru diem-diem aja nih," celetuk Vivi.

"Apaan dah."

Pintu kafe terbuka, Vani otomatis menoleh. Ken datang dengan lengan kemeja yang digulung sampai siku, memperlihatkan otot-otot lengannya. Vani bisa melihat kedua sahabatnya yang tak berkedip sama sekali memandangi Ken.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang