Vani sudah berada di ruangan Ken, ia menunggu di sofa yang disediakan sembari menatap sekeliling. Terdengar suara pintu terbuka, gadis itu langsung menoleh dan mendapati Ken yang datang tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Vani mengikuti Ken yang meletakkan tas kerjanya di atas meja.
Ken berbalik dan tersenyum, ia menarik Vani ke dalam pelukannya. "Kangen."
Vani sudah seperti obat mujarab baginya. Melihatnya saja bisa membuat Ken hilang kendali. Gadis itu kemudian membalas pelukan Ken. Hatinya berbunga-bunga karena ucapan si pria. Baru semalam mereka bertemu, Ken sudah merindukan dirinya. Kini senyuman terukir di wajah Vani.
"Udah sarapan?" tanya Ken sembari menyelipkan rambut Vani ke belakang.
"Belum," jawab Vani meringis. Habislah dia. Pasti Ken akan mengomel karena ia melupakan sarapan yang bukan untuk dirinya saja, tetapi bayi yang ada di kandungannya juga membutuhkan nutrisi.
"Kenapa belum sarapan?" tanya Ken dengan wajah kusut.
Sebenarnya, ia berencana untuk makan di taman sebelum perkuliahan dimulai karena ia membawa bekal dari sendiri. "Aku bawa bekal."
Saat Vani bangun tidur tadi pagi, ia tiba-tiba menginginkan nasi goreng buatan Bi Ijah. Jadi, ia meminta asisten rumah tangganya untuk membuat nasi goring dan memasukannya ke dalam kotak bekal.
"Ya udah, makan di sini aja," ujar Ken seraya mengelus pipi Vani.
Gadis itu mengeluarkan kotak bekal miliknya yang berbentuk kepala panda, terlihat sangat imut. Namun, ia lupa membawa air mineral. Mengetahui hal itu, Ken memberitahunya kalau ia akan membeli air mineral untuk Vani nanti.
"Kamu udah sarapan?" tanya Vani pada Ken.
"Aku gampang, yang penting kamu dulu. Biar bayi kita sehat." Vani tersenyum melihat sisi lain dari Ken. Pria itu begitu peduli padanya dan hal itu membuat Vani senang. Ken lantas mengambil alih kotak bekal Vani ke tangannya. "Sini aku suapin."
Vani bergerak untuk duduk di samping Ken. Pria itu menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut Vani yang langsung melahapnya dengan semangat.
"Kamu juga harus sarapan, ini cukup kok untuk berdua," kata Vani memegang sendok yang Ken sodorkan di hadapannya.
Ken tersenyum lagi, mereka menghabiskan sarapan dengan saling menyuapi satu sama lain. Setelah itu Vani kembali ke kelasnya disusul Ken yang berjalan tak jauh di belakang Vani. Tentu saja untuk memastikan gadis itu tetap aman.
¤♥¤
"Baiklah, sepertinya waktu sudah habis. Kita lanjut minggu depan! Jangan lupa dipelajari lagi." Dosen perempuan yang mengampu mata kuliah Komunikasi Bisnis mengakhiri kelas siang ini.
"Iya, Bu." Seluruh mahasiswa menjawab kompak agar kelas segera bubar dan mereka bisa keluar. Tanpa menunggu lama, dosen itu merapikan barangnya, lalu keluar dari kelas.
Vani sibuk membereskan buku-bukunya yang berada di atas meja, memasukkannya ke dalam tas jinjing yang ia bawa. Di waktu yang bersamaan, Sherin membuka suara. "Van, hangout yuk!"
"Iya nih, udah lama kita enggak ngopi-ngopi cantik," tambah Vivi
"Ya udah, yuklah. Mau ke mana?" tanya Vani sembari berjalan beriringan di koridor kampus.
"Kafe depan aja, biar enggak kejauhan. Gue juga udah laper banget ini, tadi pagi enggak sempet sarapan."
"Gegayaan lo enggak sempet sarapan, kaya orang sibuk aja," timpal Vani yang disetujui dengan anggukan Vivi.
"Gue kesiangan." Sebuah cengiran lebar muncul di wajah Sherin.
Vani dan Vivi mendengkus, ada saja alasan yang Sherin lontarkan. Mereka berdua sudah hafal dengan kelakuan Sherin yang satu ini. Gadis itu pasti asyik menonton film Barat sampai larut malam, ujung-ujungnya berakhir bangun kesiangan.
"Pake mobil siapa nih? Gue tadi dianter jadi enggak bawa mobil," ujar Vivi.
"Mobil gue aja, tapi gue males nyetir," balas Vani dengan kekehan. Vani dan Vivi diam-diam melirik Sherin.
"Ngapain lo berdua?" tanya Sherin mendelik. Ia menghela napas berat, beginikah rasanya cobaan memiliki teman seperti mereka? akhirnya, mau tidak mau Sherin meminta kunci mobil Vani. Kali ini dia yang akan menyetir.
Ketika mereka sudah mendekati parkiran tempat mobil Vani berada, ponsel gadis itu bergetar. Notifikasi di layar ponselnya menunjukkan ada sebuah pesan masuk.
Om Dosen
Mau ke mana?
Vani mengerutkan dahinya, ia menatap sekeliling mencari keberadaan Ken. Ia rasa Ken berada di sekitar situ karena pria itu tahu jika Vani akan pergi.
Stevani
Kamu di mana?
Ken mendengkus saat melihat balasan Vani, ia bertanya dan gadis itu menjawab dengan pertanyaan pula.
Om Dosen
Di dalam mobil, aku nungguin kamu dari tadi!
Vani menggigiti kuku jarinya, ia merasa tidak enak pada Ken yang sudah menunggunya. Vani lantas bicara pada Sherin untuk menunggu sebentar, ia bahkan beralasan ingin pergi ke toilet. Padahal sebenarnya Vani mencari keberadaan mobil Ken di sekitar parkiran. Ia yakin Ken berada di sana.
Ponsel Vani berdering, Ken meneleponnya. Tanpa basa-basi ia langsung melontarkan pertanyaan. "Halo, kamu di mana, Ken?"
"Enggak jauh dari tempat kamu berdiri, coba hadep kanan," jawab Ken dalam mobil, ia bisa melihat Vani yang celingak-celinguk mencari keberadaannya. Ken membunyikan klakson mobil agar Vani paham. Mengetahui keberadaan mobil si pria, Vani datang menghampiri lalu mengetuk pelan kaca mobil Ken yang langsung dibuka oleh pemiliknya.
"Kamu pulang aja," kata Vani langsung.
"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Ken.
Pipi Vani bersemu dipanggil dengan sebutan 'sayang', ditambah terik matahari membuat rona merah itu semakin terlihat jelas.
"Ke kafe depan, udah lama enggak ngumpul sama temen."
"Ya udah, hati-hati. Jangan makan sembarangan."
Vani mengangguk, ia melangkah menjauhi mobil sembari melambaikan tangannya pada Ken.
¤♥¤
Perusahaan Ken bergerak di bidang perhotelan. Bisnisnya berada di kota Jakarta, Bali, dan Yogyakarta. Sesekali ia yang turun langsung ke lapangan jika tidak ada jadwal lain yang lebih penting. Sebetulnya, Ken enggan menjalankan perusahaan ini. Namun, mengingat dia anak tunggal, mau tak mau Ken harus belajar mengelola sampai seperti saat ini. ayahnya menyerahkan semua tanggung jawab atas bisnis keluarganya kepada Ken.
Kakinya melangkah memasuki kantor, ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sekretarisnya sudah siap menyambut Ken, perempuan itu lalu menyodorkan sebuah amplop putih pada bosnya.
"Pak, ini ada surat untuk Bapak. Tapi tidak ada nama pengirimnya."
Ken mengambil surat itu dengan kening mengernyit.Ia lalu masuk ke dalam ruangannya, danmenghempaskan tubuh di kursi kebesarannya. Menimang-nimang apakah sebaiknya iamembuka amplop ini atau tidak. Tangan pria itu melemparkan amplop putih tersebut ke atas meja. Surat itu bisa dibacananti. Pekerjaannya lebih pentingsaat ini daripada sebuah amplop yang tidak jelas asal usulnya.
_______________________________
Sorry lama gak up
Baru 2 minggu kuliah eh sekrang diliburin lagi karena wabah virus corona.
Belajarnya online, bener2 gak enak walaupun bisa sambil rebahan wkk
Dijelasin aja masi suka ga faham apa lagi ini , kita disuruh mandiri dan kebnykan bljar sendiri
Hmmmmm
Hati hati ya semua
Buat sekarang jgn kmana mana dulu, mantep dirumah aja kalo emang udah darurat/penting bgt boleh keluar tp jgn lupa pake maskerr okey
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
