Ken semakin menenggelamkan kepalanya di lekukan leher Vani. Embusan napas Ken begitu terasa. Vani sampai merinding dibuatnya. Gadis itu menyentak tangan si pria yang melingkar di perut, dan mundur menjauh. Ia hampir lupa jika sedang berada di dapur rumahnya. Matanya melirik ke kanan dan kiri, lalu ia mendesah lega.
Vani takut jika Bi Ijah melihatnya berpelukan seperti tadi, nanti ia berpikir yang tidak-tidak. Parahnya lagi kalau sampai dilaporkan ke Mama.
"Maaf," lirih Ken.
Vani hanya mengangguk, suasana sungguh canggung saat ini. Ken memilih duduk di salah satu kursi makan. Memandangi Vani dari jarak sedekat ini membuat perasaannya bergemuruh. Tangan mulus milik gadisnya sangat cekatan dalam mengolah bahan makanan. Sudah pantas jika gadis itu menjadi istrinya nanti. Ken tersenyum, dia seperti suami yang sedang menunggu istrinya memasak.
"Van," panggil ken. Vani menjawab dengan dehaman, tanpa menoleh. Ia sedang sibuk berkutat dengan panci dan kompor. "Kamu enggak perlu repot-repot masak kaya gini."
Kepala gadis itu menoleh smabil bersedekap, maniknya menatap Ken dengan kening mengerut. "Kamu pikir saya masak ini buat kamu?"
Ken mengangguk polos, memang seperti itulah yang dipikirkannya. Kalau bukan untuknya, lalu untuk siapa Vani memasak malam-malam seperti ini?
"Ini buat saya, kamu enggak boleh minta!"
Ken terperangah. Ia terlalu percaya diri sekali. Nyatanya, masakan itu untuk Vani seorang. Padahal Ken sangat lapar, apalagi melihat sup yang asapnya mengepul membuat air liurnya hampir menetes.
"Van, saya juga laper. Masa iya kamu semua yang makan?" tukas Ken mencoba bernegoisasi siapa tahu Vani mau berbagi.
"Jadi kamu ke sini cuma buat numpang makan gitu?"
Ken terdiam. Itu memang bukan tujuan awal ia datang kemari, tetapi ia tak menyangkal jika hal itu sempat terlintas di pikirannya. Ia memang ingin memakan sup buatan Vani, dan kebetulan sekali gadis itu membuat sop.
"Ya udah enggak apa-apa, kamu aja yang makan." Ken mengalah daripada harus berdebat hanya karena sup ayam.
Tangan gadis itu meletakkan semangkuk sup ayam yang sudah matang ke atas meja makan, ia kembali mengambil dua piring dan botol minuman dingin serta nasi yang berada di penanak nasi.
"Ambil sendiri, saya tahu kamu lapar," cetus Vani menyerahkan piring untuk Ken.
Wajah pria itu berbinar dan hal itu tak luput dari penglihatan Vani. Ia sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah sup ayam buatannya ini memiliki rasa yang enak atau malah sebaliknya? Kenapa Ken seantusias itu?
Vani menyendok sedikit kuah sup untuk dicicip, rasanya sama saja seperti sup ayam pada umumnya. Tidak ada hal yang istimewa.
"Makasih." Ken tersenyum.
Pria itu mengambil nasi dan sup ayamnya di atas piring, tanpa membuang-buang waktu ia memakan masakan Vani dengan lahap. Vani meringis melihat cara Ken makan, sungguh seperti orang yang kelaparan. Melihatnya saja membuat gadis itu merasa kenyang.
¤♥¤
Makanan kini telah habis, dan entah sadar atau tidak, Ken paling banyak menghabiskan sup ayam. Pria itu bahkan terlena dan merasa puas dengan masakan Vani. Namun, pertanyaan yang dilontarkan gadis itu mengembalikan kesadaran Ken.
"Jadi, mau apa kamu dateng ke sini?" Vani sangat peka jika kedatangan pria itu memiliki maksud lain.
"Hmm, saya minta maaf atas kejadian yang lalu," ungkap Ken dengan raut wajah yang berubah serius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
