Chapter 12

231K 5.2K 66
                                        

Vani selesai mengganti pakaian. Ia penasaran kenapa di dalam lemari itu banyak sekali pakaian wanita seumurannya, Apa Ken mempunyai adik? Entahlah ia tidak tahu. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit villa, matanya memejam dan terbuka lagi ketika suara perut yang minta diisi terdengar oleh telinganya. Vani mengelus perutnya.

"Kenapa perut kamu?" celetuk Ken membuat vani tersentak.

"Sialan! Ngagetin aja," gumam Vani kesal.

"Kenapa perut kamu?" Ken mengulangi pertanyaannya.

"Bukan urusan kamu!" jawab Vani ketus.

Ken berjalan mendekati Vani yang tengah berbaring di ranjang. Namun, gadis itu buru-buru berdiri dan menjauh.

"Saya tahu kamu lapar," ucap Ken tersenyum miring.

Vani memalingkan wajahnya. "Eng-enggak. Siapa yang lapar?"

Ken tersenyum geli. Ia mengajak Vani keluar dari kamar. "Ayo keluar, saya udah masak buat kamu."

Kepala gadis itu menunduk malu. Ia berjalan menyusul Ken disertai umpatan yang keluar dari mulut manisnya. Setelah berada di depan meja makan, manik gadis itu terpaku pada sepiring omelet yang sudah tersedia di sana. Dengan ragu gadis itu duduk, tetapi bukannya langsung melahap makanan ia justru terdiam menatap omelet tersebut.

Ken yang sudah duduk, melahap makanannya. Ia menyadari kalau Vani tidak menyentuh sedikit pun omelet itu. "Saya enggak masukin racun."

Vani mendengkus, dan lantas melahap omeletnya.

"Inhi pukhul berhapha?" tanya Vani dengan mulut yang penuh dengan omelet.

"Telan dulu, baru bicara."

Vani kembali mendengkus. Dengan cepat ia menelan makanannya sebelum mengulangi pertanyaan. "Ini pukul berapa?"

"12 malam, kenapa?" tanya Ken santai.

Vani melotot. Ini sudah sangat malam, lebih tepatnya hampir pagi. Namun, ia tidak mengantuk melainkan dirinya lapar. Seingat Vani, ia sudah mengisi perutnya sebelum pergi ke klub. Mungkin karena menangis tenaganya terkuras, jadi ia merasa lapar lagi. Vani mengangguk-angguk.

"Apa yang kamu pikirin?" tanya Ken.

"Mau tahu aja," balas Vani ketus.

Ken mengangguk tanpa mengatakan apa pun lagi. Ia melanjutkan makan sampai habis tak bersisa, lalu meninggalkan Vani di meja makan sendirian. Gadis itu melirik Ken sekilas, ia tidak mau bertanya apa pun.

¤♥¤

Vani yang telah selesai memakan omeletnya, langsung masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan dirinya di ranjang. Tubuhnya sangat lelah dan ia mengantuk. Matanya yang baru terpejam harus terbuka karena suara pintu ditutup. Vani mengerang, memiringkan tubuh dan menutup telinga dengan bantal. Ia berniat melanjutkan kembali tidurnya, tetapi harus gagal karena sebuah suara.

"Udah kenyang lalu tidur, heh!"

Vani nenegakkan tubuh, bersandar di ranjang dengan mata yang masih terpejam, Demi apa pun saat ini ia mengantuk sekali. Ketika kelopak matanya terbuka walau rasanya berat, gadis itu menjerit sambil menutup matanya dengan tangan. Baru saja ia melihat Ken hanya mengenakan handuk di pinggangnya.

"Ke-kenapa ... kamu cuman pake handuk?" tanya Vani terbata-bata. Sekarang wajahnya memerah karena malu.

Ken terkekeh melihat reaksi alami Vani yang tidak dibuat-buat, baginya sangat lucu. Ia merasa hidupnya kini penuh warna setelah bertemu Vani.

"Saya baru selesai mandi." Ken mengambil pakaian.

"Kamu mandi tengah malam begini?" Vani menatap Ken heran. Pasalnya, suasana di sini sangat dingin. Ia sendiri hanya mengganti pakaian dan tidak menyentuh air sama sekali.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang