Di ruangan yang mewah, seseorang tengah duduk dengan setumpuk berkas di depannya. Ken memijit pelipisnya pelan, ia harus segera menyelesaikan semua pekerjaan agar bebas menemui Vani.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang tak kalah tampan dan gagah. Tubuhnya terbalut kemeja, rambut yang sedikit acak-acakan sehingga memberikan kesan maskulin yang begitu kentara.
"Wah, wah, wah, kerja terus lo, Ken," celetuk Dimas tanpa disuruh pun sudah duduk manis di sofa yang ada. Matanya memperhatikan Ken yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di depannya.
Ken menghela napas lelah, dia sudah sangat hafal dengan orang yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Orang itu adalah Dimas, sahabatnya yang sering datang ke kantor hanya untuk mengganggu pekerjaannya. Ken menatap Dimas tajam, ia benar-benar kesal pada sahabatnya ini.
"Wih santai dong, Bro. Enggak pake melototin gue juga kali," seru Dimas terkekeh pelan.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Ken tanpa basa-basi.
"Lo enggak liat jam? Ini waktunya istirahat dan lo masih mantengin tuh berkas-berkas." Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Ken melihat jam di tangannya. Benar apa yang dikatakan Dimas, ini waktunya istirahat.
"Lo enggak mau makan?" tanya Dimas.
"Kerjaan gue belom selesai," ucap Ken kembali tenggelam bersama berkas yang menumpuk
"Ya elah, Ken. Buat apa lo punya sekretaris kalau enggak lo suruh buat nyelesain kerjaan lo?"
Ken terdiam sejenak. Tak lama ia menekan tombol intercorm yang terhubung dengan ruangan sekertarisnya. "Ke ruangan saya sebentar."
Terdengar suara pintu diketuk, lalu muncullah Lia, sekretaris Ken yang hampir dua tahun bekerja dengannya.
"Ada apa, Pak?" tanya Lia menatap Ken penuh minat.
"Kamu kerjakan semua ini, nanti kalo sudah selesai kamu letakkan di meja saya," ucap Ken menyodorkan setumpuk kertas pada sekretarisnya itu.
Lia langsung menerima berkas-berkas tersebut tanpa penolakan apa pun. "Baik, Pak." Namun, ia tetap di sana, tidak ada niatan untuk segera keluar.
"Untuk apa lagi kamu di sini? Keluar!" usir Ken dingin.
Tanpa mengatakan apa pun, Lia langsung berbalik mening-galkan ruangan itu.
Sedari tadi, Dimas hanya memperhatikan Lia. Bentuk tubuh yang ideal serta beberapa bagian yang tumbuh tampak sempurna. Laki-laki itu lantas terkekeh, "Boleh juga si Lia, Ken. Body-nya aduhai."
"Ambil aja sana, gue enggak tertarik," jawab Ken cuek.
Dimas tertawa, ia tahu sebenarnya Lia menyukai Ken. Namun, Ken saja yang berpura-pura tidak tahu. Karena bagaimanapun juga Ken tidak ingin memiliki hubungan lebih dengan para pegawainya, lebih baik ia menyewa perempuan di luaran sana.
"Ya udah, yok cabut," seru Ken meninggalkan Dimas yang masih tertawa.
¤♥¤
Hari ini Vani kuliah seperti biasa, ia tidak bisa jika terus menerus terpuruk memikirkan laki-laki brengsek itu. Semoga saja ia tidak bertemu dengannya. Vani mengembuskan napas perlahan, ia mulai berjalan memasuki area kampus. Matanya sedari tadi tak berhenti menelisik sekelilingnya, takut jika tiba-tiba laki-laki itu datang menghampiri.
Langkah kaki Vani membawanya sampai ke dalam ruangan. Tak banyak mahasiswa yang berada di dalam kelas, hanya beberapa orang saja termasuk Vani.
Matanya melirik arloji di tangan yang menunjukkan pukul 07.15. Wajar saja jika sedikit orang yang berada di kelas, Vani datang terlalu pagi, sedangkan kelas dimulai pukul 08.15.
"Eh, Van. tumben lo dateng cepet," tukas Sherin yang baru saja datang.
"Lagi pengen aja." Vani memutar bola matanya malas dan mendudukkan pantatnya di kursi.
"Oh iya, kemaren lo ke mana, heh?" tanya Sherin penasaran. Gadis itu menghampiri Vani setelah meletakan tas.
"Gue di rumah, Rin," jawab Vani menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangan.
"Lo sakit ya?" tanya Sherin pelan. "Van kalo ada apa-apa cerita, jangan dipendem sendirian!"
"Maaf ya, gue belum bisa cerita sekarang." Vani mengangkat kepalanya menatap Sherin sendu, ini terlalu rumit untuknya.
"Iya gak papa, ntar kalo lo mau cerita jangan sungkan."
Vani mengangguk dan kembali menenggelamkan kepalanya.
Sementara itu, Sherin mengembuskan napas pelan. Jarang sekali Vani bersikap seperti sekarang, kecuali sewaktu dulu saat mereka SMA
Sherin dikejutkan dengan tepukan di bahu, ia menoleh dan menemukan Vivi dengan raut bingung. Sebagai respons, Sherin hanya mengedikkan bahunya.
¤♥¤
Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa di lobi kantor. Ia segera menuju lokasi mobilnya terparkir. Hari ini Ken akan pergi ke kampus untuk menemui seseorang. Tanpa menunggu waktu lama, Ken segera menancap gas. Ia harus tiba di kampus sesegera mungkin.
Sesampainya di tempat tujuan, langkah kaki Ken membawanya ke sebuah kelas. Ia tahu kelas itu sudah berakhir sejak beberapa menit yang lalu. Matanya menangkap sosok gadis yang ia cari tengah berjalan bersama dua temannya.
"Bisa bicara sebentar?"
Ketiga gadis itu terkejut tentu saja. Di hadapan mereka kini ada seorang dosen yang sangat terkenal karena wajahnya yang tampan. Bukan hanya mereka tetapi beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang pun melirik penasaran. Vani membuang muka enggan menatap Ken, perasaannya campur aduk sekarang. Rasa marah memenuhi rongga hatinya.
Beraninya dia datang setelah melakukan hal keji padaku, batin Vani bergemuruh.
"Maaf, bapak ngomong sama siapa ya?" tanya Vivi bingung.
"Bisa saya bicara dengan Vani." Ken melirik ke arah Vani.
Vivi dan Sherin langsung menoleh ke arah Vani dengan raut wajah penasaran, yang dilihat hanya berpura-pura tidak tahu.
"Ya udah, kita berdua duluan ya, Van," bisik Sherin lalu tersenyum canggung pada Ken. Sherin pergi dengan menarik lengan Vivi, memberikan keduanya ruang untuk berbicara.
Vani kembali berjalan tanpa menghiraukan Ken. Namun, lengannya ditarik paksa oleh Ken dan dia dibawa ke koridor yang lebih sepi.
"Lepas!" desis Vani tajam.
Ken langsung melepaskan cekalannya. Ia lalu menatap Vani, terlihat jelas gadis di hadapannya ini enggan bertemu dengannya. Dan hal itu membuat hatinya sedikit tercubit.
"Saya minta maaf!" ucap Ken.
Vani tersenyum sinis. Ken pikir Vani mau memaafkannya setelah apa yang dilakukan oleh laki-laki itu.
"Maafin saya," ulang Ken.
"Setelah apa yang kamu perbuat, dengan seenaknya kamu minta maaf!" teriak Vani marah.
"Saya minta maaf soal kejadian waktu itu. Sa-saya—"
"Kamu pikir saya mau maafin kamu? Saya enggak akan pernah maafin kamu. Enggak. Akan. Pernah," ucap Vani dengan penuh penekanan di setiap kata.
Vani meninggalkan Ken seorang diri di koridor. Gadis itu pergi dengan berlinangan air mata, sampai-sampai beberapa mahasiswa yang meihatnya keheranan.
Ken mengacak rambutnya frustasi, ia kesal benar-benar kesal. Mengapa susah sekali Vani memaafkannya, lebih baik ia pulang sekarang dan memikirkan cara lain.
_________________________________
Selamat hari minggu gaes !!!
Penasaran gak sama kelanjutannya jangan lupa follow, comment and vote ya jangan baca baca aja wkwk
Rasanya aku pengen cepet cepet nyeleseiin cerita ini tapi sayangnya gak bisa gaes tangan aku cuman 2 wkwk sabar yaaa readers setia ..
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
