Chapter 29

130K 3.5K 48
                                        

Happy reading😘

_______________________________

Hari ini Ken mengosongkan semua jadwalnya, ia harus menemui orang tua Vani secepatnya. Gadis itu bilang jika ayahnya sudah berada di mansion sejak kemarin malam. Hampir semalaman Ken sulit untuk tidur, sekarang di bawah matanya terlihat sedikit hitam. Ia menghela napas, berharap semuanya berjalan dengan baik.

Ken mengendarai mobilnya menuju mansion keluarga Jackson. Terdengar ponselnya berdering. Senyum cerah terbit di wajah tampannya.

Calon istri is calling.

"Pagi sayang," sapa Ken tersenyum. Ia yakin jika Vani di sana juga tersenyum sama seperti dirinya.

"Ekhem, kamu lagi di mana?"

"Aku lagi di jalan mau ke mansion, ketemu keluarga kamu," jawab Ken sambil menatap lurus jalanan.

Tidak ada sahutan dari seberang telepon, hingga membuat Ken melirik ponselnya. Takut jika ternyata sambungan telepon mereka terputus. Untung saja hal itu tidak terjadi.

"Halo sayang?"

"Hati-hati di jalan. Aku harap Papa enggak mempersulit hubungan kita," ucap Vani dengan suara parau.

"Percaya sama aku. Apa pun yang terjadi nanti, aku akan terus berjuang demi kamu dan anak kita."

"Aku percaya sama kamu, Ken."

Setelah itu sambungan terputus. Ken mencengkeram kuat stir mobil. Suara Vani yang terdengar putus asa begitu mengganggu dirinya. Ia mempercepat laju mobil agar segera sampai. Matanya kini bisa melihat kediaman keluarga Jackson, ia sudah hampir sampai di sana. Tangannya bergerak untuk memutar stir, Pak Satpam membukakan pagar ketika mobil Ken sudah berada di depan.

Mengetahui bahwa Ken sudah datang, Levi menyambutnya dengan hangat. Wanita itu mengajak Ken ke ruang tamu di rumahnya. "Ayo masuk. Udah sarapan belum, Ken?"

"Sudah, Ma. Ken dateng ke sini karena ada hal yang mau dibicarakan sama Mama dan Om."

"Oh, sebentar Mama panggilin papanya Vani dulu ya."

Ken mengangguk dengan seulas senyuman. Setelah Levi hilang dari pandangannya, diambilnya ponsel dan mengetikkan sesuatu pada Vani.

Sementara itu, Vani terus mondar-mandir di kamarnya. Ada rasa takut yang muncul dari dirinya. Ia takut melihat tatapan kecewa dari mata kedua orang tuanya. Namun, suara ponsel mengalihkan perhatiannya. Buru-buru ia melihat notifikasi dan membaca pesan masuk tersebut.

Om Dosen

Kamu jangan takut!

Stevani

Kamu juga jangan khawatir ken :)

Om Dosen

Aku sudah di bawah.

Setelah membaca pesan tersebut, Vani berlari keluar dari kamar bertepatan dengan pintu kamar Vano yang terbuka. Adiknya itu memicingkan mata seraya menutup pintu kamar. "Ngapain lo lari-lari?"

Vani menggeleng, dan melanjutkan langkahnya mendekati tangga. Ia melihat Ken di bawah sana sedang berbincang dengan kedua orang tuanya. Jantung Vani berdetak tak karuan.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang