Pagi harinya, Ken sudah siap dengan setelan kemeja polos dan celana jeans hitam. Rambutnya terkesan lebih jantan. Ken memegang sisi wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak terlalu tua, bahkan wajahnya masih pantas menjadi anak sekolahan. Namun, entah kenapa Vani senang sekali memanggilnya 'Om'. Mengingat pertemuan pertama mereka membuat Ken tersenyum kecil. Ponselnya berdering, di layar ponselnya muncul nama mamanya sendiri.
"Halo, Ma."
"Ken, temenin Mama ya?"
"Enggak bisa, Ma. Ken ada janji."
"Janji sama siapa?"
Ken memutar bola mata, mamanya sangat ingin tahu sekali dengan semua hal yang ia lakukan. "Ken mau ketemu calon istri. Mama jangan ganggu deh," cetusnya sebal lalu memutuskan sambungannya sepihak.
Biarlah mamanya di sana penasaran, nanti ia akan memberi tahu keluarganya jika Vani sudah menerima dirinya. Semoga saja perbuatannya yang lalu membuahkan hasil, itu bisa menjadi salah satu cara agar Vani tidak menolak menikah dengannya.
Ia bergegas mengambil kunci mobil, lalu mengendarainya. Namun, jalan raya kini terlihat padat. Ken melirik jam di tangannya, pukul 08.25 pantas saja jalanan sedikit padat.
Tak lama setelahnya, mobilnya sudah berhenti di depan pagar rumah keluarga Jackson. Pak Satpam yang menjaga rumah Vani membukakan pintu pagar. Mobil Ken kini diparkirkan di depan rumah Vani, dan dengan cepat Ken keluar dari mobil, melangkah pasti mendekati pintu utama untuk memencet bel. Ketika pintu terbuka, kali ini bukan asisten rumah tangga yang menyambutnya, tetapi mamanya Vani.
"Nak, Ke—Hmm ... Ke ...." Ucapan Mama terhenti, ia mencoba mengingat kembali nama calon mantunya ini.
Tak apalah, berandai terlebih dahulu, pikirnya.
"Kenzie, Ma," balas Ken dengan senyum manis.
"Oh iya, Ken. Maaf Mama lupa. Maklum udah tua." Mama terkekeh lalu mengajaknya masuk ke dalam. Ken mengikuti di belakang, perasaannya begitu lega saat ini mengetahui calon Mama Mertuanya menerima dengan baik. Ken terkekeh pelan lagi, pikirannya sudah jauh sekali.
¤♥¤
Ketika Vani menuruni tangga, muncul perasaan kalau suasana mansion terasa sepi saat Vano tidak ada. Ia menghela napasnya, sekarang ia merindukan adiknya.
"Anak gadis baru bangun jam segini."
Suara Mama tertangkap indera pendengarnya. Ia menoleh dan tersentak kaget. Matanya menatap horor seseorang di sana, tepat di sebelah mamanya. Ken sudah nangkring di rumahnya pagi-pagi seperti ini. Vani memperhatikan penampilannya, sungguh berantakan. Celana pendek dengan atasan kaus longgar, sandal rumahan berbentuk kelinci dan rambut yang ia kuncir asal-asalan. Pantas saja Ken senyum-senyum tak jelas. Vani langsung saja mengacir ke dapur, wajahnya memerah. Ia benar-benar malu.
Ah Mamaaaa! Kenapa enggak bilang kalo ada tamu?! teriaknya dalam hati.
Vani merutuki kebodohannya yang tidak mandi dulu setelah bangun tidur. Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, Ken pasti muak melihatnya saat ini. Masa bodoh, ia tidak peduli.
"Bibi masak apa? baunya harum banget."
"Nasi goreng spesial, Non. Soalnya ada pacar Non yang datang, jadi Bibi kasih yang spesial," kata Bi Ijah sembari memasak.
"Pacar?" beo Vani dengan kening mengerut.
"Itu yang semalem."
Jantung Vani berdetak lebih cepat, bukan kata pacar yang ia khawatirkan, tetapi apakah Bibi mendengar ucapannya semalam?
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
