Chapter 35

122K 4.5K 110
                                        

JANGAN PELIT VOTE YA ⭐💣 GRATISSS GA BAYAR, GA SUSAH JUGA. OKEY !!

____________________________________

Terik matahari tidak menyurutkan niat Vani untuk pergi ke kampus. Tidak lama lagi mereka akan menjalani ujian semester dan Vani belum sempat berbicara tentang pernikahan bersama Ken. Tidak ada yang mengetahui hubungan Vani dan Ken sudah sampai ke tahap ini, bahkan kedua sahabatnya. Vani belum memiliki waktu yang tepat untuk memberitahu mereka. Nanti setelah mata kuliah berakhir Vani akan memeberitahu kedua sahabatnya.

Langkah kaki Vani membawanya menuju kantin, kelas belum dimulai. Tiba-tiba ia menginginkan gado-gado yang biasa ia pesan. Vani memilih duduk di bangku kosong yang tersedia, sambil menunggu pesanannya ia mengirimkan pesan pada Vivi dan Sherin untuk menyusulnya. Pandangannya menangkap seseorang yang sangat dikenalinya, Ken sedang berjalan beriringan bersama salah satu dosen wanita menuju kantin. Bisik-bisik beberapa mahasiswa yang membicarakan Ken bersama dosen wanita itu sangat meng-ganggu Vani, ia tidak sengaja bersitatap dengan Ken.

Perempuan itu memilih memalingkan wajah, menggigit pipi bagian dalamnya. Muncul rasa kesal dari dalam dirinya, Ken itu calon suaminya dan berani sekali wanita itu mendekati Ken. Vani menggeram dalam hati. Kalau saja ia sedang tidak di kampus, mungkin Vani sudah menghampiri keduanya.

Manik perempuan itu melihat Julian berjalan memasuki kantin. Cepat-cepat tangannya dilambaikan, meminta Julian datang menghampirinya.

"Wah, wah, tumben banget lo manggil gue," ujar Julian heran.

Vani mendengkus. Jujur saja ia hanya refleks memanggil Julian karena merasa cemburu melihat kedekatan Ken dengan dosen lain. "Biasa aja kali."

Pesanan Vani datang, sepiring gado-gado dengan satu gelas es teh. Ponsel Vani di atas meja bergetar, ia hanya meliriknya tanpa berniat membalas.

"Temen lo mana?" tanya Julian.

"Bentar lagi ke sini, Jul."

Julian mengangguk. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Vani. "Van lo gendutan ya?"

Perkataan itu langsung membuat Vani tersedak. Dengan sigap Julian menyodorkan es teh yang ada di atas meja.

"Makanya kalo makan baca doa."

"Ini semua gara-gara lo."

Cengiran tak berdosa muncul di wajah Julian, sampai keributan di antara keduanya harus terhenti karena kedatangan kedua sahabat Vani yang langsung mengusir Julian. Sherin menja-tuhkan bokongnya di samping Vani, matanya tak sengaja bersitatap dengan Ken. Lantas, gadis itu menyenggol Vani.

"Heh, Pak Ken kayanya ngeliatin lo deh," bisik Sherin.

Vani mengikuti arah pandang Sherin. Benar apa yang dikatakan sahabatnya, Ken tengah menatapnya tajam tanpa berkedip. Vani jadi merinding ditatap Ken seperti itu. Menyeramkan sekali calon suaminya itu.

"Pulang kampus ke rumah gue ya, ada yang mau gue omongin!" ucap Vani pada kedua sahabatnya.

¤♥¤

Ken merasa jengah dengan dosen wanita yang terus mengoceh sejak tadi, niatan awalnya ingin pergi ke kantin agar dapat melihat calon istrinya. Namun, harus terganggu karena wanita satu ini. Yang membuat ken merasa panas adalah keberadaan laki-laki yang duduk di hadapan calon istrinya. Ken merasa cemburu, ia mencoba mengirimi Vani pesan, tapi sialnya Vani hanya melirik tanpa membacanya. Hal itu semakin membuat Ken terbakar api cemburu.

Ken tidak pernah mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Vani, ia selalu menatap intens gerak-gerik gadis yang membuat hatinya porak-poranda sampai Vani meninggalkan kantin bersama kedua sahabatnya. Ken turut melenggang pergi, meninggalkan kantin dan juga wanita yang mencoba menarik perhatiannya. Ia tidak tertarik lagi dengan wanita-wanita di luar sana kecuali dengan Vani. Ken sudah jatuh sedalam-dalamnya dalam pesona Vani.

¤♥¤

Waktu terus berputar, tidak terasa sehari lagi mereka akan melangsungkan pernikahan. Akad nikah akan dilangsungkan di kediaman keluarga Jackson. Seluruh persiapan hampir rampung berkat campur tangan orang tua mereka.

Hari ini, Vani dan Ken akan fitting gaun pengantin di butik ternama milik Lia. Semua sudah disiapkan, gaun pengantin yang sangat indah lengkap dengan tuxedo yang akan dikenakan oleh Ken. Vani benar-benar takjub melihat gaun itu, terlihat elegan dan tidak terlalu terbuka. Vani sangat menyukainya.

"Ayo sayang, dicoba dulu."

Vani mengikuti langkah kaki Levi ke ruang ganti untuk mencoba gaun secara langsung. Gaun ini sangat pas di tubuhnya walaupun Vani merasa berat badannya bertambah. Vani keluar dari ruang ganti, mengangkat sedikit gaun yang menjuntai menghalangi langkah kakinya.

"Ken gimana?" tanya Vani meminta pendapat Ken.

Laki-laki yang tengah memainkan ponsel langusng mendongak ketika namanya disebut. Ia terpaku, sorot matanya menatap Vani dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dirinya seakan melihat bidadari di butik milik mamanya. Vani terlihat sangat cantik mengenakan gaun itu. Bagi Ken ia selalu terlihat cantik mengenakan apa pun. Namun, kali ini cantiknya bertambah berkali-kali lipat.

Lia tertawa pelan melihat Ken yang tidak berkedip sama sekali. Wanita itu lantas menepuknya yang berhasil membuyarkan lamunan Ken. Ia mendekat ke arah Vani, berjalan mengitari Vani dengan sorot mata memuja. Gaun itu melekat sempurna di tubuh indah calon istrinya. Lalu, Ken berhenti di belakang Vani, ia mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu dan membisikkan sesuatu. "Kita nikah sekarang yuk!"

"Keeenn!" geram Vani lalu terkekeh pelan.

"Abisnya kamu cantik banget, pengen aku kurung aja di kamar."

Deheman Lia mengganggu obrolan keduanya, membuat Ken mendengkus keras. Mamanya selalu saja mengacaukan momen berduanya bersama Vani. Sampai-sampai Ken berniat jika mereka sudah menikah nanti, ia akan membawa jauh-jauh Vani dari keluarganya. Agar tidak ada satu orang pun yang bisa mengganggu kegiatan mereka.

Sekarang, giliran Ken yang mencoba setelannya. Tuxedo yang senada dengan warna gaun Vani. Ken keluar dari ruang ganti, mendekat ke arah mamanya dan Vani. Mereka berdua belum sadar jika Ken sudah selesai. Para pelayan wanita yang bekerja di butik sampai dibuat meleleh karena ketampanan anak dari bosnya.

Vani yang sadar keberadaan Ken pun menoleh. Matanya membelalak seketika. Ia tak habis pikir, bagaimana caranya orang tua Ken sampai bisa menghasilkan anak setampan ini. Vani terkekeh karena pemikirannya.

"Ada yang lucu?" tanya Ken bingung.

Vani menjawab dengan gelengan. "Tuxedonya bagus, aku suka."

"Jadi sama orangnya enggak suka?" tanya Ken menaikkan alisnya.

Vani kembali terkekeh. Ken terlihat menggemaskan jika sedang seperti ini. Mereka berdua sampai lupa sedang ditonton oleh para pelayan butik dan Lia.

"Udah nanti lagi ngobrolnya," potong Lia. "Ken sama Vani pulang duluan aja, Mama masih ada urusan di butik."


_________________________________
Nungguin ya wkwkwk.

Jangn lupaPencet bintang ya, jangan jadi silent readers ...!
Author ga minta hal yang muluk-muluk kok, kalian vote aja author seneng banget😃 jadi jangan pelit😘

Viewsnya 1.000an tapi yang vote bahkan gak sampe 5.00, sedihh akutuuh diginiin😥

🙂🙂🙂

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang