Chapter 33

118K 3.6K 91
                                        

Jangan lupa pencet bintang ya⭐

____________________________________

Keesokan paginya, seseorang masih nyaman bergelung di bawah selimut tebal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Keesokan paginya, seseorang masih nyaman bergelung di bawah selimut tebal. Ia masih menyelam di alam mimpi. Nyaring bunyi alarm menganggu tidur Vani. Tangannya bergerak meraba-raba nakas mencari sumber suara yang begitu menganggu. Tangannya menyentuh alarm lalu mematikannya. Vani menyingkap selimut yang menutupi wajahnya, mengucek-ngucek matanya yang masih terasa lengket. Saat itu juga pintu kamarnya terbuka.

"Baru aja mau Mama bangunin," kata Levi berjalan perlahan membuka tirai.

Vani tersenyum memperhatikan mamanya. Alarm terbaiknya selama ini adalah mamanya sendiri. Biasanya Vani sulit untuk bangun walaupun alarm sudah berbunyi berkali-kali. Namun, kali ini ia berhasil bangun saat alarm berbunyi tanpa bantuan mamanya.

"Cepet mandi, malah bengong." Mama membuyarkan lamunan Vani.

Gadis itu langsung beranjak dari ranjang dan memeluk mamanya. "Makasih ya, Ma. Vani sayang banget sama Mama."

"Iya, Sayang. Mama juga sayang sama kamu," balas mama. Lalu, tangan wanita itu menepuk tangan Vani yang melingkar di perutnya. "Udah sana, cepetan mandi. Nanti telat!"

Vani memanyunkan bibirnya, ia bergegas mandi untuk bersiap pergi ke kampus. Sejak kepulangannya kemarin ia belum bertatap muka dengan papanya yang sengaja menghindarinya. Vani menghela napas, ia harus bicara berdua dengan papanya.

Gadis itu berkaca melihat bayangannya di cermin. Tubuhnya sedikit berisi, terutama pada bagian pipi. Ia memoleskan pelembab dan bedak di wajahnya, terakhir Vani memoleskan lip tint di bibirnya agar tidak terlihat pucat. Barulah setelah semua selesai, ia keluar dari kamar, berjalan menuju kamar orang tuanya. Sesudah sampai di depan pintu, Vani mengetuk pintu beberapa kali. "Ini Vani, Pa."

Setelah terdengar jawaban dari papanya yang menyuruh masuk, Vani membuka pintu perlahan. Dilihatnya sang Papa sedang membaca koran di balkon.

"Pa?" panggil Vani dari belakang tubuh papanya.

"Ada apa?" jawab Papa tanpa mengalihkan pandangannya dari koran.

"Vani mau minta maaf udah ngecewain Papa," lirih Vani menunduk. "Vani belum bisa jadi anak yang ngebanggain Papa. Vani bisanya cuma bikin malu Papa dan Mama. Vani minta maaf. Vani terima kalau Papa benci Vani, tapi Vani minta sama Papa ... jangan benci darah daging Vani, calon cucu Papa." Mata Vani berkaca-kaca.

"Vani pergi dulu." Gadis itu melangkah keluar dari kamar papanya sebelum air mata jatuh. Ia mendongak ke atas, mengipas-ngipas matanya yang terasa panas dengan tangannya.

Papa menghela napas panjang, ia mengetahui maksud lain dari perkataan Vani. Hampir semalam suntuk ia memikirkan hal ini matang-matang, ditemani sang istri. Sean tidak boleh egois, ini sudah menjadi jalan takdir putrinya. Ia hanya beharap semoga langkah yang diambilnya sudah benar.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang