Selesai dengan kegiatan mandinya, Ken menghampiri sang mama yang sedang asyik menonton televisi. Entah apa yang ditertawakan, sampai-sampai Ken yang sudah duduk di sampingnya diacuhkan.
"Maa," panggil Ken. Yang dipanggil tak menghiraukan, dan malah asyik tertawa melihat tayangan di televisi. Ken yang kesal pun mematikan televise, berpura-pura sibuk dengan ponselnya agar kelakuannya tadi tidak diketahui oleh Mama. Tapi nyatanya wanita itu tahu apa yang tadi dilakukan Ken.
"Kenapa dimatiin sih, Ken?" tanya Mama geram. Ken pura-pura tak mengerti apa yang dibicarakan oleh mamanya. "Jangan pura-pura enggak tahu, Mama lihat kamu matiin televisinya." Mama mendengus.
Ken meringis, ternyata penglihatan mamanya lebih tajam. Padahal ia mengambil remote televisi secara diam-diam, begitu pula dengan mematikannya. Namun, sayang sekali, nyonya besar mengetahui hal tersebut..
"Mama sih, anaknya di rumah malah dicuekin."
"Halah, kamu tadi juga begitu ke Mama."
"Bales dendam nih ceritanya." Ken terkekeh pelan, sementara Mama membuang muka lalu beranjak meninggalkan Ken seorang diri.
"Ma, mau ke mana?" tanya Ken dengan berteriak.
"Mau ke dapur."
"Bawain Ken minum, Ma!" ucap Ken masih dengan teriakannya.
"Ambil sendiri! Punya kaki, 'kan?!"
Ken mendengkus kasar, mamanya bisa saja membuat Ken bungkam. Mau tak mau ia beranjak menyusul ke dapur karena tenggorokannya benar-benar terasa kering. Setelah menegak segelas air putih, ia beralih menatap mamanya yang sibuk menyiapkan sesuatu entah apa itu. Ken memutar bola matanya, dan melenggang pergi dari dapur, tetapi langkahnya terhenti ketika mamanya berucap meminta ia untuk ikut menemaninya keluar. Ken sudah menduganya sejak awal saat mama mengajaknya keluar dan ternyata untuk hal ini.
"Ken, kenalin ini anaknya Tante Sonya. Dia seumuran kamu lho," ucap Mama antusias.
Ken menatap tajam wanita yang mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya ini. ia berdecih dalam hati, dandanan wanita itu sudah seperti jalang. Baju terbuka dan rok yang sangat minim. Menurut Ken tak ada kesan seksinya sama sekali. Lebih bagus Vani ketimbang wanita itu.
Deheman Mama mampu mencairkan suasana yang sedikit absurd tadi. Bukannya Ken tidak sadar jika mamanya tengah menatapnya tajam saat ini. Ken mendesah dalam hati, ia menerima uluran tangan si wanita ini agar macan di sampingnya tidak mengamuk. Katakanlah Ken kurang ajar menyamai mamanya seperti macan, tapi seperti itulah kenyataannya. Mama akan mengamuk jika Ken tidak menuruti keinginannya. Dan Ken sangat benci mendengar segala macam omelan yang keluar dari mulut mamanya.
"Maaf ya, Jeng. Anaknya memang begitu." Mama tertawa pelan.
"Ah, enggak apa-apa, Jeng."
Ken makan dalam diam tanpa melirik wanita di hadapannya. Ia sungguh muak berada di sini. Suara pintu berdenting mengalihkan perhatiannya, manik laki-laki itu melotot melihat orang yang baru saja memasuki restoran.
¤♥¤
Vani yang sedang berleha-leha di kamar, harus menghentikan aktivitas karena Al datang. Tentu saja senyumnya mengembang. Ia lekas berjalan menghampiri Al sembari melontarkan pertanyaan.
"Habis dari mana, Al?"
"Dari apartemen. Sengaja mau ketemu kamu," balas Al tersenyum manis.
"Makan di luar yuk!" ajaknya. Vani mengerjapkan mata beberapa kali, ia sungguh terkejut dengan ajakan Al yang tiba-tiba. "Malah bengong. Ayo!"
"Eh iya, bentar siap-siap dulu."
Al mengangguk mengiyakan. Setelah Vani selesai bersiap, mereka berdua pergi ke salah satu restoran pilihan Al.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romansapublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
