"Loh si Alpabet mana?" tanya Vano ketika melihat Vani masuk seorang diri.
"Alvaro kali ah." Vani berjalan lunglai ke arah Vano yang sedang asyik menonton televisi. "Ngapain lo nonton di sini?"
"Suka-suka gue-lah."
"Oh, jangan-jangan lo nungguin gue ya?" tebak Vani percaya diri. pasalnya di kamar mereka masing-masing sudah ada televisi, entah karena alasan apa Vano menonton di situ.
"Pede banget lo," balas Vano menoyor kening Vani.
"Kurang ajar lo sama yang lebih tua."
"Baru sadar kalo udah tua?"
Vani mendengkus dan menyenderkan tubuhnya pada sofa. Matanya menatap ke arah televise, tetapi pikirannya melayang mengingat kejadian sebelumnya.
"Mikir jorok ya lo." Suara Vano seketika membuyarkan lamunan Vani. Ia melemparkan tatapan garang pada Vano, layaknya singa yang melihat makanan yang berada di depan matanya.
"Mau gue timpuk?!" Vani melotot, tak lupa tangannya yang memegang handbag sudah terangkat, bersiap untuk mendarat di bagian tubuh milik Vano yang sangat beruntung bisa merasakanya.
Vano menjauhkan duduknya dari Vani, lalu menyilangkan tangannya di depan wajah. Bahaya jika tas itu sampai mengenai dirinya terutama bagian wajah. Bisa-bisa hancur wajah tampannya. Membayangkannya saja membuat Vano bergidik ngeri. Ia tak mau berlama-lama berdekatan dengan Vani. Vano berlari terbirit-birit meninggalkan Vani sendirian di ruangan itu.
¤♥¤
Ken memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menulikan pendengarannya akibat omelan sang Mama yang tidak berhenti sejak ia keluar dari restoran. Telinganya panas, tentu saja.
"Gak sopan! main nyelonong pergi kaya tadi." Mama memperingati Ken. "Sonya itu temennya Mama. Mama jadi ngerasa gak enak!"
Ken memutar bola matanya jengah, kemudian menatap Mamanya yang telah berhenti mengomel. Ken melontarkan sebuah pertanyaan dengan nada datar. "Mama udah ngomelnya?"
"Kamu ini." Mama melotot lalu mencubit lengan Ken yang sedang menyetir.
"Ampun, Ma! Duh, Ken bercanda doang," kekeh Ken.
"Lain kali jangan diulangi!"
"Baik Nyonya," jawab Ken membungkukkan badannya. Mama hanya mendengkus melihat kelakuan Ken, sangat mirip dengan papanya.
¤♥¤
Sudah seminggu berlalu sejak ia bertemu dengan Ken di restoran, Vani belum melihatnya lagi. Entahlah, hilang ke mana laki-laki itu. Suasana hatinya akhir-akhir ini juga begitu kacau. Pernah suatu hari pikirannya dipenuhi oleh seorang Ken, ia tidak merindukan laki-laki itu. Tidak, ia selalu menyangkal perasaan yang beberapa hari belakangan ini menyelimutinya. Ia hanya gelisah, tidak tahu karena apa. Vani tersentak ketika sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Ia menoleh dan maniknya bisa dengan jelas melihat sosok Julian.
"Nih buat lo!" Julian memberikan air mineral sebelum duduk di samping Vani.
Tangan gadis itu mengambil botol mineral sembari berkata, "Thanks."
"Tumben sendiri? Sharon mana?"
"Sherin, Jul. Nama orang lo ganti-ganti."
"Biarin ajalah, orangnya juga gak tau, Van." Julian terkekeh.
Mereka berada di bangku taman belakang kampus. Tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang duduk bersantai sembari menunggu kelas berikutnya.
"Ngelamun aja, kesambet baru tau rasa lo," ucap Julian menyenggol bahu Vani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romansapublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
