Chapter 5

228K 6.3K 163
                                        

lanjutt yaa best, smogga sukaaaa 

____

Selama perjalanan pulang Vani tertidur pulas. Vano yang melihatnya tersenyum tipis.

Giliran perut kenyang, molor nih anak, pikirnya.

Mobil sudah sampai di pelataran mansion kediaman Jackson. Vani menggeliat seraya membuka matanya perlahan. Kemudian dia menutup mulut karena menguap. Barulah setelah itu Vani bertanya, "Udah sampe ya?"

"Lo tidur kaya kebo sih, sampe enggak kerasa kita udah nyampe dari tadi."

"Salah siapa enggak dibangunin." Vani keluar dari mobil, berjalan masuk ke mansion sambil sesekali menguap.

Tak lama Vano keluar dari mobil menyusul Vani dari belakang. Memang belum terlalu larut, jam di tangannya menunjukkan pukul 21.30. Laki-laki itu berjalan ke arah dapur untuk minum, sedangkan saudari kembarnya pergi menuju kamar.

Hendak saja Vani merebahkan tubuhnya di ranjang, bunyi telepon mengganggu pendengarannya.

Siapa sih yang nelpon malem-malem begini? sungutnya kesal.

Diraihnya ponsel tanpa melihat siapa yang menelpon. "Halo!"

"Halo, Vani."

Vani mengerjapkan mata, melirik ponsel dan matanya melotot melihat nama yang tertera.

OM DOSEN!

Ia bangkit berjalan ke balkon kamar. Vani penasaran sampai ia mondar-mandir menggigiti kuku. "Kenapa, Pak? Nelepon malem-malem begini?"

"Bisa dateng ke apartemen saya sekarang?" ucap Ken dengan suara seraknya.

"Bapak kenapa?" tanya Vani mulai khawatir.

"Ada hal penting yang mau saya bicarakan sama kamu."

Jantung Vani hampir copot mendengarnya, apa ia tidak salah dengar? Hal penting apa yang mau dibicarakan malam-malam begini.

Jangan-jangan—eh tidak-tidak, jangan ngawur.

"Besok aja ya, Pak."

"Malem ini saya tunggu kamu!" tegas Ken memutuskan panggilan.

"Ha-halo, Pak? Pakkk!" kata Vani sedikit berteriak.

Ia melihat layar ponsel, ternyata panggilannya sudah terputus. Vani keluar dari kamar dengan kepala bergerak melihat sekeliling. Lalu, berjalan mengendap-endap ke kamar Vano. Membuka pintunya perlahan untuk mengintip. Ia bersyukur karena kembarannya sudah tertidur. Bergegaslah ia keluar dari mansion menuju garasi guna mengeluarkan mobil. Namun, ketika melewati pos satpam, ia ditanyai mau pergi ke mana.

"Vani ada janji ke rumah temen, Pak. Entar kalau Vani enggak pulang, bilang aja sama Vano nginep di rumah temen ya," jelas Vani. Ia tidak tahu kenapa harus berbicara seperti itu, seolah-olah ada firasat jika ia tidak akan pulang malam ini.

"Oke, Neng," jawab Satpam setelah membukakan pagar untuknya.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena malam semakin larut dan jalanan cukup lenggang. Vani mengembuskan napas kasar, masih menerka-nerka apa maksud Pak Dosen menyuruhnya datang malam-malam begini.

¤♥¤

Ken sudah siap dengan rencananya, ia ingin membuat Vani jatuh kepelukannya. Seringaian tipis membayangkan Vani berada di bawahnya, mengucapkan namanya berkali-kali. Ia sengaja menyiap-kan minuman yang sudah dicampur obat ke dalam botol jus yang sudah terbuka.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang