JANGAN LUPA PENCET BINTANG YA DIBAWAH ⭐
BIAR AUTHOR CEMUNGUDD UPDATE EVERYDAY MUEHEHE....
_________________________________
Saat perjalanan pulang, Vani meminta Ken untuk singgah di tempat makan karena lapar. Ponsel milik Ken berdering, Vani sesekali melirik Ken yang sedang berbicara tidak thau dengan siapa. Namun, perubahan wajah Ken sangat jelas menggambarkan jika terjadi sesuatu. Laki-laki itu menghela napas, kepalanya menoleh pada Vani di sampingnya.
"Sayang, kita mampir ke kantor dulu ya. Ada berkas yang harus aku tanda tangan."
Vani mengernyit bingung, ia bertanya-tanya apa Ken juga bekerja di kantor selain menjadi dosen? Tanpa berpikir lebih jauh, Vani mengangguk. Ia tidak masalah jika harus mampir dulu ke kantor Ken. Laki-laki itu juga bilang kalau Vani bisa makan di kantornya Ken, biar pegawainya yang nanti membelikan Vani makanan. Asalkan perutnya terisi, gadis itu menyetujui usulan Ken.
Ketika mereka telah sampai di kantor, tangan mereka terus bergandengan. Sampai-sampai banyak pasang mata menatap ke arah mereka, terlebih lagi pada Vani. Di dalam ruangannya, Ken mengunci pintu. Tak lupa ia menghubungi office boy untuk membawakan makan siang ke ruangannya.
Sementara itu Vani memilih duduk di sofa. Ia merasa lelah padahal tidak melakukan banyak aktivitas, yang dilakukannya hanya mencoba gaun pengantin. Mendadak saja sekelebat ingatan muncul, ia tadi sempat melihat sekretaris Ken dengan pakaian yang terlalu terbuka untuk ukuran seorang pegawai. Belum lagi, mata sekretaris itu menatap Ken seperti daging segar. Vani tak menyukainya, lantas raut wajahnya berubah kesal. Maniknya langsung menatap Ken.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ken menyadari bahwa sedang ditatap oleh calon istrinya.
Vani tak menghiraukan Ken, ia memilih memainkan ponsel, bertukar pesan dengan kedua sahabatnya. Ia sudah memberitahu tentang hubungannya dan Ken yang akan melaksanakan pernikahan. Kedua sahabatnya terlihat syok mendengar kabar itu. Mereka tidak menyangka jika Vani akan menikah.
"Yang?" panggil Ken.
Vani memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, lalu menatap mata Ken dengan saksama. "Besok kamu harus cari sekertaris baru!"
"Hah? Kenapa, Yang?" tanya Ken tak mengerti.
"Sekretaris itu kecentilan sama kamu, aku enggak suka," ketus Vani.
Ken terkekeh mengetahui penyebabnya. "Iya, iya besok aku suruh orang buat cari sekretaris yang baru."
Laki-laki itu lantas mengusap puncak kepala Vani, lalu kakinya melangkah menuju toilet, membiarkan si gadis sendirian di ruangan. Pintu diketuk dari luar, Vani melangkah mendekat dan membukanya. Office boy suruhan Ken sudah tiba membawa dua kantung plastik makan siang mereka. Setelah berterima kasih, Vani meletakan dua kantung plastic tersebut di meja kerja Ken. Tak sengaja matanya melihat sebuah amplop yang tergeletak di pinggir meja. Tangan gadis itu bergerak mengambilnya, kemudian memutar-mutar amplop untuk mencari nama pengirimnya. Sayang sekali ia tidak menemukan informasi apa pun seputar si pengirim. Tanpa menaruh curiga, Vani membuka amplop itu. Betapa terke-jutnya ia melihat isi di dalamnya, ada beberapa foto Ken bersama wanita lain.
Saat Ken keluar dari toilet, ia melihat Vani menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Cepat-cepat laki-laki itu mendekati calon istrinya. "Sayang kenapa?"
Vani mundur beberapa langkah. Foto-foto yang berada di tangannya berhamburan jatuh ke lantai. Ken memungut salah satunya, matanya seketika membulat. Ia tidak menyangka Vani bisa mendapatkan foto itu. Lalu, Ken mengambil satu per satu foto yang berjatuhan di lantai.
"Sayang, ini enggak seperti yang kamu kira," ujar Ken mendekati Vani. Kepala gadis itu menggeleng, ia terlalu syok mengetahui foto itu. Foto calon suaminya bersama wanita lain. "Dengerin aku dulu. Aku pernah bilang sama kamu kalau aku bukan laki-laki baik. Semua foto yang barusan kamu lihat itu foto dulu, sebelum aku jatuh cinta sama kamu. Kamu harus percaya, Sayang."
Gigi Ken bergemelutuk. Siapa orang yang berani mengirim amplop berisi foto dirinya dan wanita lain? Ken pasti akan mencari dan membunuhnya.
Vani terduduk di sofa. Air matanya tak bisa ditahan lagi. Ia terisak lirih yang membuat Ken mendekap tubuhnya erat. Kini, tangisan Vani semakin pecah.
"Maafin aku, Sayang. Kamu harus percaya, aku enggak pernah berhubungan dengan wanita mana pun setelah kita bersama."
Vani meredam tangisnya pada dada bidang Ken. Ia hanya syok. Gadis itu sudah memantapkan diri sebelum menerima Ken, ia juga harus menerima semua masa lalu calon suaminya. Hanya saja ia tidak mengira akan terjadi secepat ini.
"Maafin aku, Sayang," lirih Ken dengan suara bergetar. Dirinya merasa sangat menyesal telah berbuat hal sehina itu dulu. Harusnya ia mampu menjaga diri dan pergaulannya.
Vani mendongak, menatap manik Ken, ia mencium bibir Ken perlahan. Menyalurkan rasa takut dalam dirinya. Ia merasa takut Ken melakukan hal seperti itu lagi setelah menikah dengannya. Namun, Vani menepis pemikiran itu, ia harus percaya pada laki-laki di depannya ini.
Ken membalas ciuman Vani. Menyalurkan rasa kalut, emosi dalam dirinya. Mereka larut dalam ciuman sampai tubuh Vani telah terbaring di atas sofa. Ken melepaskan tautan bibir keduanya ketika napasnya terengah-engah. Ia menatap ke dalam mata Vani yang terlihat sayu. "Maaf!"
Vani mengangguk. "Jangan pernah kaya gitu lagi, Ken."
"Aku janji, Sayang. Hal yang dulu enggak akan pernah terjadi lagi," ucap Ken yakin.
Vani mengangguk, menarik leher si laki-laki untuk dipe-luknya. Ken harus menopang berat tubuhnya karena kalau tidak Vani dan bayinya bisa terhimpit dirinya yang besar.
¤♥¤
Senyum manis tidak pernah luntur di wajah Vani, make up yang dipoles begitu sempurna menambah kecantikan gadis yang sebentar lagi akan menyandang nama belakang Leonard. Bahkan kecantikannya itu dipuji oleh laki-laki gemulai yang menjadi penata riasnya.
Vani memperhatikan wajahnya di cermin. Senyumannya terukir di sana. Benar yang dikatakan penata rias itu, Vani sendiri hampir tidak mengenali dirinya. Pintu kamarnya terbuka memper-lihatkan Sean yang tersenyum padanya. Penata rias itu langsung memilih undur diri menyisakan Vani dan papanya. Si gadis beranjak bangun mendekati Sean, laki-laki hebat yang menjadi pahlawan dalam hidupnya dan juga Vano.
Sean memeluk Vani dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka putri kecilnya dulu telah berubah menjadi perempuan yang sangat cantik, bahkan sebentar lagi Vani akan menjadi milik orang lain. Ia tersenyum haru, melepaskan pelukan dan mengelus pelan pipi anaknya.
"Maafin Papa belum bisa jadi Papa yang baik buat kamu dan Vano," ucap Papa pelan.
Vani menggeleng, merasa ucapan papanya tidak benar. Menurutnya Sean adalah laki-laki terbaik. Ia tidak bisa menahan bulir-bulir air mata yang ingin jatuh. "Papa jangan ngomong begitu!"
"Calon pengantin enggak boleh nangis, nanti riasannya luntur. Mau Kenzie-nya kabur?"
Vani tersenyum kecil di sela-sela tangisnya. Ia menghapus sisa air mata yang membasahi pipi dengan tisu di atas meja. "Vani sayang banget sama Papa." Gadis itu langsung memeluk papanya.
"Papa juga, Nak," balas Papamencium kening anaknya.
__________________________________
Vote vote vote .
Makasih banyakk yaa yg udh support author, loop u deh😘😘❤❤
Yang udah baca cerita ini, makasiihh hehe.
Btw ada readers yg dari palembang gak nih? Kebanyakan dari kota mana???
Comment yaa.
Biar author jg tau cabat onlen author ini asalnya dari mana aja 🤗🤗
Follow dong instagram author 😆
Yayayya
@ayukhdryh_
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romantikpublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
