Chapter 17

167K 4.5K 49
                                        

Setelah Ken pergi, Al menatap Vani yang menunduk. Laki-laki itu memegang bahu Vani. "An, kamu enggak apa-apa?"

Vani tidak merespon, kepalanya semakin menunduk untuk menyembunyikan bahwa saat ini ia tengah berkaca-kaca. Sejujurnya, Vani sangat malu jika Al mengetahui kebenarannya. Ia menghambur ke dalam pelukan laki-laki di depannya. Tanpa bisa mencegah air matanya untuk tidak keluar, pada akhirnya ia terisak.

"Udah, jangan nangis." Al membawa Vani duduk di teras depan rumahnya. Laki-laki itu berjongkok di hadapan Vani yang masih menangis. "Kamu bisa cerita, An. Jangan dipendem sendiri."

Vani menggeleng. Ini masalahnya, tidak ada yang boleh mengetahuinya termasuk Al sekalipun. Ia hanya berharap semoga tidak terjadi sesuatu seperti yang ia bayangkan. Ia takut jika sampai hal itu terjadi.

"Makasih, Al. Tapi maaf aku enggak bisa cerita sekarang," balas Vani dengan mata sembab.

"Ya udah, enggak apa-apa. Kalau ada yang mau diceritain jangan sungkan-sungkan." Al tersenyum seraya mengacak rambut Vani.

"Ihh ... berantakan tahu!"

Al terkekeh, "Jelek banget kalo abis nangis gini."

"Pulang aja sana!" Vani mengerucutkan bibirnya.

"Emang aku mau pulang." Al berdiri, ia terkekeh karena telah berhasil menjahili Vani, setidaknya hal itu sedikit membantu gadis itu melupakan masalah tadi.

"Aku pulang, An. Jangan kangen." Al mengedipkan sebelah matanya percaya diri.

Vani yang melihat itu berpura-pura seolah ingin muntah. Al terbahak melihatnya sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Setelah mobil milik Al melaju sampai hilang dari pandangannya, Vani berjalan gontai ke dalam rumah, kembali ke kamarnya. Untung saja ia tidak menemukan keberadaan Vano di ruang tengah, jika sampai Vano tahu ia menangis, habislah dia. Vano sangat cerewet melebihi Mama.

Vani menghempaskan tubuh di ranjang, ia bingung harus bagaimana. Ponsel miliknya berdering, dengan malas ia mengangkat panggilan itu.

"Kenapa?" ketus Vani.

"Woi darimana aja lo?" ucap orang di seberang sana.

Vani menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat siapa yang menelepon. Rupanya Sherin. "Berisik banget lo, Toa!"

"Eh Maemunah, jawab pertanyaan gue tadi?"

"Mau tahu aja lo!" balas Vani. "Gue sibuk, entar gue telepon balik."

"Eh bus—"

Belum sempat Sherin melanjutkan ucapannya, Vani langsung memutuskan sambungan. Ia terkekeh, pasti sekarang Sherin sedang mencak-mencak di sebrang sana. Vani menggulingkan tubuhnya di atas ranjang, kejadian semalam berputar-putar di kepalanya saat ia begitu agresif membalas ciuman Ken.

Sial! apa-apaan ini?!

Pipinya terasa panas, gadis itu kemudian menyembunyikan wajah di bawah selimut.

¤♥¤

"Brengsek!" umpat Ken menggebrak meja kerjanya.

Ia tidak bisa berkonsentrasi sejak tadi, setelah pulang dari rumah Vani rasanya ia uring-uringan sendiri. Ken memegang pelipisnya, dan teringat sesuatu. Ia memiliki data lengkap tentang keluarga Vani yang belum ia baca seluruhnya. Ia memutuskan untuk membaca dokumen tersebut, dan maniknya membesar saat ia mengetahui bahwa Vani memiliki saudara kembar. Ia pernah melihat laki-laki ini bersama Vani di pusat perbelanjaan. Awalnya ia kira laki-laki ini pacar gadis itu. Vani hanya memiliki adik kembar, lalu siapa laki-laki yang menghalanginya tadi? Ia akan mencari tahu hal itu. Lebih baik ia pulang ke mansion keluarganya sekarang, sudah lama ia tidak bertemu Mama.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang