" kamu tidak akan pernah tau jika belum mencoba, menulislah walaupun sedikit. Karena ide bisa datang setelah tulisanmu setengah jalan."
Happy reading guys 😘
__________________________________
"Enggak apa-apa, An. Aku ngerti kondisi kamu." Alvaro tersenyum. Sejujurnya ada rasa kecewa yang terselip di hati laki-laki itu, tapi biarlah itu menjadi urusannya. Yang terpenting ia tahu bahwa Vani bahagia menjalankan pernikahan ini, terlihat dari raut wajahnya yang berbinar.
"Selamat ya, Bro," ujar Al mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Ken.
"Thanks."
Alvaro beralih menatap Vani. Ia memeluk sahabat baiknya yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri. Ia hanya kecewa, Vani tidak memberitahunya jika akan menikah. Lantas Alvaro berbisik, "Aku ikut bahagia kalau kamu bahagia, An. Kamu harus jadi istri yang baik!"
"Makasih banyak, Al."
"Selamat ya atas pernikahannya," ucap Ica. Gadis itu kemudian mendekati Vani bermaksud untuk memelankan suaranya. "Sepertinya suami Kakak cemburu lihat Kakak pelukan sama Bang Al."
Mendengar ucapan itu, Vani spontan melirik pada Ken yang kebetulan sedang memalingkan wajahnya. Perempuan itu tersenyum, dan mengedipkan sebelah matanya pada Ica.
¤♥¤
Hari semakin malam, acara resepsi telah berakhir. Vani dan Ken melangkah memasuki kamar yang dominan berwarna pink. Sejak Vani dan Alvaro berpelukan, Ken tidak mau berbicara dengannya. Vani mengerti, suaminya cemburu. Akan tetapi tidak sampai larut seperti ini Ken masih saja mendiaminya, padahal malam ini malam pertama mereka.
"Ken."
Hati Vani mencelos ketika Ken hanya melewatinya, ia menghapus make up dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat Ken keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk di pinggangnya, lalu Ken mengambil pakaian dan kembali masuk ke kamar mandi. Vani semakin kesal karena diabaikan, wajahnya menelungkup di antara kedua tangan yang bertumpu di atas meja rias. Vani terisak pelan. Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut melihat Vani yang menangis. Ia mendekat dan memeluk Vani dari belakang.
"Sstt ... hei kenapa nangis?" Vani semakin mengencangkan tangisnya, membuat Ken kelabakan. "Sayang kenapa? Udah ya jangan nangis."
Cukup lama untuk Ken menunggu istrinya meredakan tangis. Saat tangis Vani berhenti, Ken membopong istrinya menuju ranjang dan mendudukan perempuan itu di pangkuannya. Ia mengelus surai panjang Vani.
"Kenapa nangis?" tanya Ken pelan.
Vani menatap Ken dengan mata sembab dan hidung yang memerah. Ia mengerucutkan bibirnya sebal pada Ken yang pura-pura tidak paham.
"Kenapa, hm? Cerita sama aku," ucap Ken sambil sesekali mencium puncak kepala Vani.
"Gara-gara kamu."
Ken mengernyitkan dahinya, kebingungan dengan perkataan Vani. Perempuan itu tadi bilang karena dirinya, apa ia berbuat kesalahan? Ken menepuk keningnya saat teringat sesuatu dan itu semua tak luput dari penglihatan Vani.
"Maaf, Sayang. Aku diemin kamu," ujar Ken menyesal. Vani hanya diam memperhatikan wajah Ken dari dekat, ia seakan lupa jika sedang marah pada suaminya ini. "Maaf, aku enggak bermaksud diemin kamu."
Vani mengangguk dan melepaskan diri dari pangkuan Ken, ia butuh mandi. Badannya terasa lengket oleh keringat.
"Mau ke mana?" tanya Ken.
"Aku mandi dulu!" jawab Vani pelan.
Ken mengembuskan napas lelah ketika Vani telah masuk ke kamar mandi. Sejujurnya ia memang sengaja mendiami Vani karena cemburu melihat istrinya dipeluk laki-laki lain, di depan matanya pula. Namun, Ken tidak mengira jika Vani akan menangis, mungkin itu pengaruh hormon kehamilan istrinya.
Laki-laki itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia bisa mencium aroma Vani yang tertinggal pada bantal. Sangat menenangkan, tak lama kemudian Ken terlelap masuk ke alam mimpi.
¤♥¤
Vani keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di atas kepala, dan sudah berganti pakaian. Perempuan itu melihat Ken tertidur pulas, lantas ia menggelengkan kepala. Pintu kamarnya diketuk dari luar, Vani melangkah dan membukakan pintu. Terlihat Vano sudah berdiri dengan kepala melongok ke dalam kamar.
"Laki lo tidur?" tanya Vano iseng.
"Iya, mau ngapain lo ke sini?"
"Padahal gue mau ngajak main catur biar pas dia balik ke kamar lo udah tidur, gagal deh malam pertama. Tapi, kayanya enggak perlu lagi. Lo-nya udah ditinggal tidur," timpal Vano sambil terbahak di akhir kalimat yang ia ucapkan.
"Kampret lo, udah sana balik ke kamar! Siapa juga yang mau malem pertama. Capek-capek begini."
"Awas entar malem-malem diterkam lo." Vano tertawa melihat wajah kakaknya yang memerah, ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Vani menggerutu setelah Vano hilang dari pandangan, ia menutup pintu dan melepaskan handuk di kepala. Vani melirik Ken yang tertidur mendengkur di atas ranjang, ia memilih merebahkan tubuhnya di samping Ken dengan hati-hati agar tidak memba-ngunkan suaminya. Perempuan itu memutar tubuhnya mencari posisi nyaman, tubuhnya tidur memunggungi Ken. Baru saja Vani memejamkan mata, sebuah tangan melingkar sempurna di perutnya, membuat matanya kembali terjaga.
"Adik kamu emang pinter, tapi lebih pinter aku," bisik Ken di belakang telinga Vani. Ken memang tertidur, tetapi ia masih bisa mendengar semua yang diucapkan Vano.
Vani membalikan posisi menghadap Ken yang saat ini tersenyum, ia menenggelamkan wajahnya pada dada suaminya. Hal itu lebih baik untuk kesehatan jantungnya.
"Kamu capek?" tanya Ken dalam keheningan. Ia bisa merasakan kepala Vani yang menggeleng dalam dekapannya.
"Sayang, aku nengok anak kita boleh?" pinta Ken. Vani diam tak menjawab, ia tidak tahu harus berbuat apa sampai Ken mengangkat tubuhnya untuk terlentang dan mengukungnya. "Kamu pura-pura tidur ya?"
"Enggak, Ken," jawab Vani cepat.
"Terus kenapa diem aja?"
"Emang aku harus ngapain?"
Ken terkekeh. "Kamu enggak perlu ngapa-ngapain, Sayang. Biar aku yang kerja keras."
"Kamu mau kerja malem-malem begini?" tanya Vani mengerutkan keningnya.
Ken menggigit pipi dalamnya dengan gemas. Istrinya tidak tahu kerja keras yang Ken maksud itu seperti apa.
"Kerja keras kaya gini, Sayang," ucap Ken melumat pelan bibir istrinya. Kedua tangannya memegang kedua tangan Vani untuk mengalung di lehernya. Ken semakin aktifmencecap bibir istrinya ketika Vani ikut larut dalam ciuman. Mereka berdua salingbertukar saliva, membelit lidah satu sama lain. Ken turun menciumi leherjenjang istrinya, menghirup aroma Vani dalam-dalam dan meninggalkan beberapa jejak di sana.
___________________________________
Pasti ngiranya author ga update😂😂 ya kan hhhe.
Maaf ya tadi author ada urusan dan baru sempet up sekarang.
Selamat membacaaaa 😘
JANGAN LUPA VOTE YAWW
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
