Chapter 11

297K 5.4K 71
                                        

Entah kenapa, Vani merasa tidak rela ketika melihat laki-laki itu bersama wanita lain. Dengan cepat, Vani menggeleng. Mengenyahkan pikiran tentang laki-laki yang membuat hidupnya hancur berantakan. Ia tidak boleh sampai memiliki rasa pada Ken.

Vani melangkah terburu-buru tanpa memperhatikan jalan. Tubuhnya terhempas ke belakang ketika seorang laki-laki berperut buncit menabraknya. Vani tak mau ambil pusing, ia segera melewati laki-laki itu dan melanjutkan jalannya seraya mengotak-atik ponsel untuk menelpon Sherin. Namun, langkahnya terhenti karena tangannya dicekal seseorang. Belum sempat melawan, ia sudah diseret sembari dibekap. Laki-laki buncit tadi yang menyeretnya. Vani meronta meminta dilepaskan. Bahkan berteriak minta tolong, tetapi suaranya teredam oleh tangan itu. Ia mencoba memberontak, tetapi laki-laki itu terlalu kuat.

"Kau cantik sekali," bisik laki-laki berperut buncit dengan suara parau akibat pengaruh alkohol.

Tubuh Vani menegang ketakutan. Laki-laki di depannya ini sedang mabuk.

"Toloooooooong!" teriak Vani saat tangan laki-laki itu terlepas dari mulutnya, beralih membelai pipi.

"Diam jalang!" umpatnya.

"Toloooooong!!" Vani kembali berteriak sembari terisak. Air matanya merembes keluar. Vani sangat takut, tetapi ia mencoba meyakinkan hatinya bahwa ia akan baik baik saja.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vani. Tangan gadis itu langsung memegang pipi yang ditampar. Tangisnya semakin deras, perih di pipinya amatlah sakit, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini.

"Diam atau kau akan tahu akibatnya!" ancam laki-laki itu semakin merapatkan tubuhnya serta mendekatkan wajahnya dengan wajah Vani. Bau alkohol menyeruak dari napas si laki-laki. Vani menggelengkan kepalanya sekaligus memejamkan matanya.

"Toloong," ucap Vani lirih.

Vani tak tahu apa yang terjadi, tetapi ia merasa bahwa laki-laki perut buncit sudah pergi dari hadapannya. Ia memberanikan diri untuk membuka mata. Betapa terkejutnya ia melihat laki-laki itu sudah tergeletak tak berdaya akibat seseorang memukulnya tanpa ampun.

Tangis Vani semakin kencang, ia benar-benar takut. Tubuhnya bergetar, kakinya terasa tidak kuat lagi untuk berdiri.

"Stop!"

¤♥¤

Mendengar suara gadis yang memintanya untuk berhenti, Ken terpaksa menghentikan pukulannya. Napasnya memburu, emosinya belum stabil, tubuhnya menoleh pada Vani dan langsung meme-luknya.

Vani lagi-lagi dibuat terkejut karena laki-laki yang menyelamatkannya adalah Ken, tangisnya pecah dan ia segera membalas pelukan itu. Saat ini dirinya butuh sesorang yang mampu membuatnya merasa aman walaupun orang itu adalah orang yang telah membuat hidupnya hancur.

Ken mengangkat tubuh Vani, menggendongnya ala bridal style dan membawanya keluar dari klub itu.

"Ssh ... jangan nangis!" lirih Ken mengelus rambut Vani yang masih menangis sesenggukan. "Sudah kamu aman sekarang."

Hatinya terasa sesak melihat Vani seperti itu. Untung saja ia datang tepat waktu, bagaimana jika tadi ia tidak di sana? Apa yang akan terjadi pada gadisnya ini?

Sialan kau Pak Tua!

Mobilnya melaju membelah jalanan yang lumayan padat, ditolehnya Vani yang masih sesegukan di sampingnya. "Sudah jangan menangis!"

Vani menoleh menatap Ken dalam, terlihat jelas raut khawatir di wajahnya.

Apa ia khawatir padaku? batinnya.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang