Happy reading😘
_____________________________
Vano yang baru pulang celingukan di dalam rumah mencari keberadaan Vani, tangannya menenteng kantung plastik belanja.
"Oh iya ya, anaknya lagi kuliah." Vano terkekeh seorang diri sambil melangkah menuju dapur untuk menyimpan es krim di dalam kulkas.
Di dapur Bi Ijah sedang memasak untuk makan siang. Diam-diam Vano berjalan menghampirinya.
"Dooorrrr!" teriak Vano menepuk pundak Bi Ijah.
"Kucing garong item eh—Ya ampun, Adeeenn! Ngagetin Bibi aja," cetus Bi Ijah spontan terkejut dan memukul lengan Vano.
Vano tertawa kencang melihat reaksi Bi Ijah, sudah menjadi kebiasaan rutin baginya menjahili si bibi pembantu.
Vano terkekeh, matanya menatap ke masakan yang sedang dibuat Bi Ijah. "Maafin Vano, Bi. Widih masak apa nih, Bi? Wangi-nya kecium sampe luar."
"Ini, Den ... kesukaan Aden, 'kan? Sup ayam." Bi Ijah menunjukan hasil masakannya.
"Waahh, pasti enak. Vano jadi laper, Bi."
"Aden duduk aja di ruang makan, nanti Bibi bawain."
Vano menggangguk lalu ia teringat sesuatu. "Bi, si Vani kuliah enggak sih?"
"Kayanya sih enggak, Den. Soalnya dari tadi pagi pintunya enggak kebuka tuh."
"Ya udah, Vano ke atas dulu ya!"
Vano berlari menaiki tangga rumahnya menuju kamar Vani. Benar saja, pintunya tertutup dan terkunci. Ia mengetuk pintunya perlahan. Namun, karena tak kunjung mendapat respons, akhirnya Vano kembali mengetuk pintu dengan perasaan tidak enak.
"Kak, buka dong pintunya!" teriak Vano.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Vano berlari menuruni tangga meneriaki Bi Ijah. "Bi! Bibi!"
"Ada apa, Den?"
"Di mana kunci cadangan kamar kakak?" tanya Vano tidak sabaran.
"Sebentar Bibi ambilin." Bi ijah berlari mengambil kunci cadangan.
Kini Vano hanya mondar-mandir tidak jelas. Raut wajahnya terlihat khawatir. Ia takut terjadi apa-apa pada kakaknya. Tak lama Bi Ijah berlari ke arahnya membawa kunci cadangan.
Setelah mengucapkan terima kasih pada Bi Ijah, Vano kembali ke depan pintu kamar Vani. Dengan perasaan campur aduk ia memasukan kunci untuk membukanya.
Ketika pintu terbuka, Vani tengah tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kak?" Vano berlari mendekat dan melempar selimut asal. Ia melihat wajah Vani yang pucat.
Tangannya terulur memegang kening Vani. Ia bisa merasakan panas yang tidak wajar di sana. Vano segera mengambil ponsel, menelepon dokter keluarga mereka. Sambil menunggu panggilan tersambung, ia berjalan mondar-mandir.
"Dok, Tolong cepet ke sini. Kakak saya badannya panas," ucap Vano tanpa basa-basi. "Cepet ya, Dok!"
Ia menoleh ke arah Vani, mengambil posisi di sebelahnya untuk duduk. Sedetik kemudian matanya membelalak melihat bekas keunguan di sekitar leher Vani. Walaupun kakaknya sudah menutupi dengan syal, Vano masih bisa melihatnya. Ia tidak sebodoh itu. Ia tahu persis apa itu? Tangannya terkepal kuat menahan emosi.
"Sialan!" umpatnya.
¤♥¤
Vano berjalan keluar dari kamar bersama seorang dokter yang memeriksa kondisi Vani. Ia menanyakan kabar kesehatan kembarannya pada sang dokter, ingin memastikan bahwa Vani baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
