One day one update... Kalo istiqamah ini mah.. Hehehe
Jangan lupa pencet bintang dibawah ya⭐
____________________________________
Di kediaman Leonard sendiri tak kalah heboh, Ken sudah bersiap sejak pagi-pagi buta. Di mansion keluarganya saat ini sangat ramai karena beberapa keluarga jauhnya menyempatkan diri untuk datang termasuk kedua sahabatnya yang saat ini duduk santai di atas ranjang.
"Ngapain lo liatin gue gitu?" tanya Ken risih.
"Lo bisa diem enggak, pusing kepala gue lama-lama," jawab Dimas dengan nada ketus. Bagaimana tidak pusing, jika sejak tadi ia memperhatikan Ken berjalan mondar-mandir tak jelas seperti cacing kepanasan. Ia mengerti semua orang yang akan menikah pasti merasa gugup, tetapi tidak seperti itu juga.
"Berisik lo! lo enggak tahu apa yang gue rasain," sungut Ken.
Kedua sahabat itu saling berbalas omongan, tidak ada yang mau mengalah. sedangkan Frans asyik memainkan ponsel, sesekali menatap jengah pada kedua makhluk yang menjadi sahabatnya. Ia sudah keluar dari rumah sakit sejak kemarin malam, walaupun ia harus tetap check up nantinya.
"Gue keluar dulu," pamit Frans meninggalkan mereka.
Dimas dan Ken menghentikan aksi tak mau mengalah satu sama lain, mereka berdua saling bertukar pandang sebelum Dimas mengedikkan bahu. Ia tidak tahu mengapa Frans bersikap tidak seperti biasanya.
"Gue susul tuh anak." Dimas keluar dari kamar. Ken tak ambil pusing, ia lantas mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada calon istrinya.
"Ken?" panggil Lia dari luar.
"Masuk aja, Ma. Pintunya enggak dikunci!" jawab Ken memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Lia masuk dan mendekati putranya itu. "Anak Mama ganteng banget," cetus Lia sambil memegang kedua sisi wajah putranya dengan senyuman manis.
"Dengerin, Mama. Kamu udah dewasa, berhenti main wanita di luar sana setelah menikah. Mama minta kamu jadi laki-laki yang bertanggung jawab, bahagiakan Vani dan juga anak-anakmu nanti."
Ken mengangguk dengan yakin. "Ken akan lakuin yang terbaik, Mama tenang aja."
Pintu kamar Ken kembali terbuka dan kali ini Liam yang masuk. Laki-laki itu menepuk pelan bahu Ken beberapa kali. "Kamu harus jadi pemimpin keluarga yang bertanggung jawab. Kalau ada masalah selesaikan secara baik-baik. Nanti Papa kasih wejangan lainnya, sekarang ayo kita berangkat! Keluarga Sean sudah menunggu."
¤♥¤
Vani memegang kedua sisi gaunnya, melangkah keluar dari walk in closet. Ia tak memungkiri jika gaunnya terasa nyaman. Vani tidak lagi mengkhawatirkan perutnya yang akan terlihat lebih berisi karena entah bagaimana caranya Lia mampu membuat gaun yang menyamarkan keadaan tubuhnya saat ini.
"Gila, gila, gila, ini temen gue?" tanya Sherin heboh sambil memutari tubuh Vani.
"Cantik banget suer," tambah Vivi sembari membentuk huruf V pada jarinya.
Vani terkekeh pelan, ponselnya yang berada di atas meja bergetar. Ia tersenyum membaca sebuah pesan yang dikirim oleh Ken.
Om Dosen
I love you!
"Begini nih yang mau nikah mah, senyum-senyum terus," celetuk Vivi melihat Vani tersenyum sendiri.
"Ya iyalah, enggak kaya lo jomlo kadaluarsa," ejek Sherin.
"Mulut lo sembarangan banget." Vivi melayangkan pelototan matanya pada Sherin.
Vani kembali terkekeh melihat kedua sahabatnya, ia tidak membalas pesan dari Ken karena sebentar lagi mereka bertemu. Sherin dan Vivi mendekat ke arah Vani, mereka bertiga bepelukan seperti teletubis.
"Gue gak nyangka lo ngeduluin gue," bisik Sherin.
Vani tersenyum, ia juga tidak menyangka akan menikah saat ini. Takdir memang tidak ada yang tahu. Dulunya ia tidak menyukai Ken, bahkan ia membenci Ken karena perbuatannya yang menyakiti harga diri Vani. Namun, setelah janin ini tumbuh di rahimnya. Entah bagaimana caranya kebencian itu seketika lenyap.
"Gue sayang banget sama kalian berdua."
"Kita juga sayang lo," balas Sherin dan Vivi bersamaan.
Mereka bertiga tidak sadar jika ditonton oleh Levi dan Vano yang sedang berdiri di depan pintu kamar. "Ekhmm ... udah nanti lagi dilanjut pelukannya. Ayo turun! Keluarga Kenzie sudah datang dan akad akan dimulai."
Mereka melepaskan pelukannya, bersiap untuk ke lantai bawah. Vani digandeng oleh Levi dan Vano, sedangkan kedua sahabatnya membantu memegangi gaun yang menjuntai di belakang.
¤♥¤
Semua pasang mata menatap ke arah Vani yang terlihat sangat cantik, tak terkecuali Ken yang terdiam kaku di hadapan Sean dan penghulu. Jantungnya berdetak tak karuan, keringat dingin mulai menjalari tangannya.
"Mari, Pak. Apa sudah bisa dimulai?" tanya Pak Penghulu setelah Vani duduk di samping Ken.
Vani menoleh ke arah Ken, memberikan senyum terbaiknya agar Ken tidak gugup nantinya. Laki-laki itu berjabat tangan dengan Sean, lalu menarik napas perlahan. Genggaman pada tangannya begitu erat.
"Ananda Kenzie Maxime Leonard Bin Liam Leonard, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Angelia Stevani Jackson Binti Sean Billy Jackson, dengan mas kawin berupa uang sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Angelia Stevani Jackson binti Sean Billy Jackson dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Ken dengan sekali tarikan napas.
"SAHH!"
Terdengar riuh tepuk tangan setelah kata sah terucap, Ken mengembuskan napas lega. Akhirnya dia sah menjadi seorang suami dari gadis cantik bernama Vani. Ia menoleh menatap Vani yang sedang tersenyum manis, Ken mencium kening Vani penuh penghayatan di hadapan semua orang yang menyaksikan akad nikah mereka berdua.
¤♥¤
Saat ini kedua pasangan yang telah sah menjadi suami istri tengah berdiri menyambut para tamu undangan. Ken dan Vani langsung mengadakan resepsi, di taman belakang mansion keluarga Jackson. Tidak terlalu banyak yang hadir, hanya rekan kerja dan juga keluarga dari kedua belah pihak. Vani tidak memberitahu teman-teman di kampusnya, hanya kedua sahabatnya saja yang tahu. Bahkan ia lupa memberi kabar pada Alvaro.
Vani menggigit bibirnya. Ia memanggil Vano, menyuruhnya untuk mendekat. Perempuan itu membisikan sesuatu di telinga adiknya agar tidak terdengar oleh Ken.
"Udah gue kasih tahu, bentar lagi juga dateng orangnya," jawab Vano kemudian berjalan menjauh.
Vani mengangguk, dan kembali duduk di kursi yang dise-diakan. Dirinya tersentak saat tangan Ken mengelus pelan pung-gungnya, Vani melotot seakan melayangkan peringatan.
"Ngomongin apa sama Vano?" tanya Ken.
Vani menggeleng tersenyum, ia kembali menghadap ke depan. Sedetik kemudian senyumnya luntur digantikan dengan perasaan tidak enak. Vani melihat Alvaro datang bersama sepu-punya. Tatapan mata Alvaro yang tidak biasa membuat Vani khawatir. Ia begitu jahat sampai melupakan laki-laki itu yang merupakan cinta pertamanya. Namun, itu dulu sebelum Vani jatuh hati pada Ken.
"Hai," sapa Alvaro tersenyum menatap sepasang pengantin baru. Vani balas tersenyum, ia mencubit punggung Ken ketika laki-laki itu hanya menampilkan wajah datar.
"Aku enggak nyangka kalo kamu yang bakal nikah duluan daripada aku, An." Al terkekeh.
"Maaf, Al. Aku lupa ngabarin kamu," cicit Vani sendu.
__________________________________
Tinggalkan jejak ya😘
Pegel baget dah tangan author abis nulis tugas seabrek, trus harus tetep lnjutin part. Biar kalian ga kecewa. Nungguin yang ga pasti kek dia wkwkwk
Jadi vote ya hehehe🤣🤣
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen Is My Husband (TAMAT)
Romancepublish ulang yah, happy reading sygkuuuu [FOLLOW DULU YA SEBELUM MEMBACA] Jangan lupa Vote and Comment⭐ __________ Hidup seorang gadis cantik bernama Angelia Stevani Jackson, berubah drastis setelah petemuannya dengan seorang laki-laki bernama Ken...
