Chapter 4

228K 6.8K 224
                                        

JANGAN LUPA VOTE YA✨
_________________________________

"Akhirnya selesai juga," desah Vani lega seraya merentangkan tangannya untuk menghilangkan rasa pegal.

Ia segera merapikan tumpukan kertas tugas milik teman-temannya, lalu memasukan ke dalam tas dan berbalik menghadap kaca untuk bercermin. Rambutnya yang sedikit berantakan dirapikannya. Ia rela melakukan tugas itu demi nilainya.

Dasar dosen gila, umpat Vani dalam hati.

Ia segera bergegas untuk mengantarkan kembali tugas tersebut ke rumah dosennya. Tak membutuhkan waktu lama untuk Vani sampai di sana. Kini, gadis itu berdiri di depan apartemen yang ditujunya, menunggu sang empunya untuk membuka pintu. Namun, entah sudah berapa lama berdiri di sana, sampai-sampai menekan bel berkali-kali, tetap tidak ada yang membuka pintunya. Vani hampir putus asa, sekali lagi bel ditekan.

Kalau enggak keluar juga mending gue balik, gerutu Vani.

Hendak saja ia berbalik, suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Manik Vani melihat sang dosen hanya mengenakan celana boxer, memperlihatkan perut yang berbentuk seperti roti sobek. Cepat-cepat Vani memalingkan wajah menatap arah lain. Jantungnya berdetak tidak karuan. Tubuhnya panas dingin. Ia bisa merasakan tatapan mata dosen itu ke arahnya, memperhatikan sedari tadi. Vani berdehem pelan.

"Sudah selesai?" tanya Ken menaikan sebelah alis.

"Sudah O—eh Ken. Coba periksa ulang, takutnya ada yang salah." Vani menyodorkan tumpukan kertas pada Ken.

"Nanti saya periksa," jawab Ken mengangguk sembari mene-rima kertas itu.

"Kalau gitu saya permisi."

"Kenapa buru-buru? Enggak mau mampir dulu?"

"Enggak usah. Makasih, Ken."

Vani melenggang pergi, lalu mendesah lega. Mengapa di sana tadi terasa sangat panas dan jantungnya tidak berhenti berdetak? Apa ia punya penyakit jantung. Oh, tidak, tidak. Ia harus memeriksa-kannya ke dokter.

¤♥¤

"Dari mana lo, Kak?"

Ucapan itu membuat Vani terlonjak kaget. "Jangan ngagetin juga kali!"

"Eh, gue serius nanya," timpal Vano yang sedang merebahkan tubuh di kursi.

"Kenapa nanya?" dengkus Vani sambil menduduki Vano.

"Berat, Kutil. Badan lo itu kaya gajah, minggir enggak dari pung-gung gue?!" Vano meringis.

"Kalau gue enggak mau, lo mau apa?"

"Ayolah, Kak. Minggir tahu, sakit nih punggung." Vano memelas.

"Ada syaratnya."

Vano memutar bola matanya malas. "Iya, apaan dah?"

"Beliin gue es krim yang di depan kompleks."

"Iya, iya, entar deh. Minggir dulu dari punggung gue."

"Yuhuuu, awas lo kalau bohong!" teriak Vani kegirangan.

Vano mendengkus melihat kelakuan kembarannya yang tidak berubah sejak dulu.

¤♥¤

Vani tersenyum manis setelah permintaannya terpenuhi. Ia sekarang berada di kedai es krim depan kompleks bersama Vano. Ini kali pertama mereka jalan berdua setelah kembarannya itu kuliah di luar negeri.

"Mbak pesen es krim vanila topping chocolate double scoop, sama vanila topping green tea double scoop ya," ucap Vani kepada Mbak Rina, pemilik kedai es cream. Ia juga sudah sangat hafal pada Vani dan Vano karena sering datang kemari sewaktu SMA dulu.

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang