Chapter 20

189K 4.4K 34
                                        

Ken terbangun karena suara petir yang menggelegar. Diliriknya jam di nakas sudah pukul 9 malam. Ia tertidur lama sekali. Kepalanya agak pening karena bangun tiba-tiba. Ken berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan kegiatan mandinya, ia berjalan cepat menuju dapur. Perutnya sudah berbunyi sejak ia berada di kamar mandi. Untung saja persediaan bahan makanan masih lengkap di dalam kulkas. Apartemen juga terlihat rapi dan bersih. Itu semua karena asisten yang ia pekerjakan seminggu dua kali untuk membersihkan tempat itu.

Ken jadi teringat Vani yang memasakan sop ayam untuknya. Rasa sop itu benar-benar lezat. Bukannya Ken tidak bisa memasak, ia hanya malas. Penyakit itu selalu menggelayutinya di saat-saat tertentu. Seperti saat ini, niat hanyalah niat yang tak akan terlaksana. Tadinya ia ingin memasak sesuatu, karena penyakit malas tersebut sekarang jadi terhambat.

Ken sangat ingin memakan sup ayam buatan Vani. Namun, hari sudah malam dan di luar sedang hujan lebat. Bukan hanya sop ayam buatan Vani yang Ken rindukan, tetapi gadis itu juga. Ia tidak bisa berdiam saja seperti ini, perutnya sudah meronta ingin diisi. Tanpa pikir panjang ia mengambil jaket dan kunci mobil. Ia akan datang ke rumah Vani walau hujan sekalipun.

Saat ini di hadapan Ken terdapat pintu utama rumah keluarga Jackson. Ia menekan bel perlahan. Berharap semoga saja tuan rumah belum tidur. Hanya saja apa alasan yang akan ia berikan jika ditanya untuk apa bertamu selarut ini? Ia bisa memikirkannya nanti, yang terpenting saat ini adalah bisa melihat Vani.

Ken menekan bel sekali lagi. Tanpa menunggu waktu lama pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita mengenakan daster muncul dari balik pintu itu. Dia wanita yang sama dengan orang yang membukakan pintu tempo hari saat ia datang kemari. Ken tersenyum kikuk, tidak tahu harus bicara apa.

"Nyari Non Vani ya?" tanya bi Ijah.

"A—iya, Bi. Orangnya ada?"

"Masuk dulu, di luar dingin."

Ken berjalan perlahan memasuki mansion keluarga Jackson. Matanya celingak-celinguk mencari keberadaan Vani. Bi Ijah memintanya untuk duduk dulu di sofa selagi ia memanggilkan Vani. Tanpa menjawab perkataan wanita tersebut, Ken menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Bi Ijah kemudian menghilang di balik tangga. Namun, suara dehaman keras tertangkap oleh indera pendengarnya. Sontak, Ken berdiri canggung. Jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Bukan, ia bukan melihat hantu, tetapi melihat wanita yang sebaya dengan mamanya, dan Ken pikir dia adalah Mamanya Vani.

"Halo, Tante," sapa Ken menundukan kepala, sebagai rasa hormatnya.

"Kamu siapa ya?" tanya Levi. Raut penuh selidik ia muncul di wajahnya. Wanita itu menilai dari ujung kaki sampai ujung kepala laki-laki di hadapannya ini.

"Kenalin, saya Kenzie, Tante. Pacarnya Vani," sahut Ken mengulurkan tangan tanpa ragu.

"Hah? O-oh iya, iya." Levi tergagap, pasalnya ia tidak tahu jika putrinya sudah mempunyai pacar.

"Maaf ya, Tante enggak tahu. Soalnya Vani belum cerita."

Ken tersenyum, tak apalah berbohong sedikit. Nanti juga Vani tetap akan menjadi kekasihnya, atau langsung menjadi istrinya tanpa harus pacaran terlebih dahulu. "Gak apa-apa, Tan. Mungkin Vani-nya belum siap."

"Panggil Mama aja ya, ayo duduk lagi." Mama tersenyum cerah. Mengapa anak gadisnya tidak pernah bercerita jika mempunyai pacar setampan ini.

"Ah, iya, Ta—eh Ma." Ken tersenyum kikuk. Ia menurut dan kembali duduk di sofa berseberangan dengan mamanya Vani, ah bisa disebut calon mertuanya nanti. Ken menatap sekelilingnya, terlihat sepi sekali.

"Papanya Vani lagi enggak di rumah, keluar kota sama anak Mama yang laki-laki," kata Mama seolah tahu apa yang sedang Ken pikirkan.

Ken tersenyum sembari meremas kedua tangannya, Vani tak kunjung muncul. Batinnya bergemuruh, ia mempertanyakan mengapa begitu lama sekali untuk gadis itu muncul. Sekarang, Ia lebih baik berhadapan dengan para investor dan pejabat tinggi lainnya daripada bertemu orang tua dari gadis yang ia sukai.

¤♥¤

Vani terkejut, tentu saja. Bagaimana bisa laki-laki itu berada di rumahnya? Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ia tidak tahu harus apa sekarang.

"Ayo, Non. Orangnya di ruang tamu," kata Bi Ijah.

"Bibi duluan aja, entar Vani nyusul."

Bi Ijah mengangguk sebelum meninggalkan kamar. Vani mondar-mandir di sana. Pikirannya tiba-tiba kacau. Ia mendesah pelan sebelum turun ke lantai bawah, itupun karena terpaksa. Langkah kakinya terhenti di pijakan tangga pertama, netranya melebar tatkala melihat mamanya duduk berhadapan dengan Ken di ruang tamu. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Muncul rasa khawatir karena ia takut Ken menceritakan kejadian malam itu. Hal tersebut tidak boleh sampai terjadi. Dengan tergesa-gesa, Vani menuruni tangga sampai napasnya tersengal-sengal.

Ken yang mendengar suara langkah kaki menoleh, matanya bertubrukan dengan iris mata Vani. Ia bisa melihat ada perasaan rindu di sana.

"Sini, Sayang," kata Mama melambaikan tangannya. Vani menurut, ia mendekati mamanya yang sedang tersenyum aneh.

Ada apa? pikirnya.

"Kenapa kamu enggak cerita sama Mama kalau udah punya pacar?"

Vani menganga, tidak percaya dengan yang diucapkan mamanya barusan. Tidak mungkin ia salah dengar, suara mamanya sangat jelas di telinganya. Vani menatap garang sang pelaku utama penyebaran rumor itu. Hanya saja yang ditatap terkekeh tidak jelas.

"Ma, Vani enggak pa—"

"Ya udah enggak apa-apa, Mama tinggal ya. Mama mau tidur, kalian jangan macem-macem!" balas Mama memotong ucapan Vani sebelum pergi ke kamarnya.

Raut wajah Vani saat ini memerah. Ingin sekali gadis itu mencaci laki-laki yang kini malah tersenyum. Vani bersedekap seraya memalingkan wajah agar tidak bertatapan dengan laki-laki brengsek ini yang sialnya sangat tampan.

Suara perut keroncongan membuat wajah Ken terasa panas, ia menunduk. Perutnya berbunyi di saat yang tidak tepat. Benar-benar memalukan. Ken masih betah menunduk sampai ia tidak sadar Vani sudah tidak ada hadapannya. Maniknya bergerak melihat sekeliling mencari keberadaan Vani, hingga suara gaduh dari arah dapur terdengar. Kakinya melangkah tanpa bisa dicegah. Vani sedang memotong beberapa bahan yang diambilnya dari dalam kulkas. Kebetulan juga ia merasa lapar, dan lauk pauk makan malam sebelumnya sudah habis. Ia juga merasa harus memasak karena suara perut Ken yang berbunyi sangatlah mengganggunya.

Apa ia belum makan? pikirnya.

Vani mengenyahkan pikiran itu dan fokus memasak. Ia tidak tahu jika Ken sudah berdiri tidak jauh dari keberadaannya.

"Masak apa?" tanya Ken yang jelas membuat Vani berjengit kaget. Vani mengembuskan napas pelan, jantungnya hampir copot. Mengabaikan keberadaan Ken, gadis itu hanya mendengkus.

Tangan Vani dengan lincah memasukan bahan-bahan ke dalam panci yang sudah diisi air dan dipanaskan. Ia tersentak ketika sebuah tangan melingkar di perutnya. Pria itu memeluknya dari belakang. Dengan keras Vani mencoba melepaskannya, tetapi gagal.

"Biarkan seperti ini dulu, sebentar aja," pinta Ken dengan suara parau.

Hangat, itulah yang tengah Ken rasakan. Perasaan hangat itu menyelimuti tubuh dan hatinya, walaupun Vani sempat menolak pelukannya. Perasaan rindu yang ia tahan beberapa hari belakangan ini akhirnya bisa ia curahkan melalui pelukan ini.

______________________
Ada yang frustasi tu hehe jangan hiraukan kenzie .
Sorry author lama update

Dosen Is My Husband (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang